Archive for August, 2007

Itsar, akhlaq mulia dan luhur

Thursday, August 23rd, 2007

“Dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang

 

yang beruntung.” (QS. 59:9)

Itsar adalah salah satu akhlaq mulia dan luhur, ia merupakan salah satu
sifat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sehingga Allah menyebut
beliau sebagai ‘ala khuluqin ‘adzim, senantiasa berada di atas akhlaq
yang luhur. Maka tidak mengherankan jika para shahabat yang merupakan
hasil didikan dan gemblengan beliau menjadi manusia-manusia pilihan.
Sehingga sejarah kemanusiaan rasanya sulit sekali dapat melahirkan
manusia-manusia semisal mereka.

Hal itu sangatlah berbeda jauh dengan realita kehidupan di masa kini,
dimana egoisme, individualisme, mau menang sendiri dan tidak memikirkan
orang lain benar-benar telah melanda sebagian besar umat manusia, tak
terkecuali umat Islam pun banyak yang terkena virus ini. Asalkan
dirinya telah kaya raya, dapat menumpuk harta, hidup serba enak dan
kecukupan, maka sudah cukup, itulah kira-kira prinsip mereka. Orang
lain susah, tetangga kelaparan, miskin dan menderita itu urusan mereka
sendiri, tidak ada urusan dengan dirinya. Jangankan sampai ke tingkat
itsar, sekedar sedikit membantu atau meringankan beban saja terkadang
enggan, alasannya karena harta yang didapat adalah hasil kerja dan
usahanya sendiri, sehingga sayang kalau diberikan dengan percuma dan
cuma-suma kepada orang lain. "Enak saja, saya yang bekerja mengapa
orang lain ikut-ikutan menik-matinya," demikian kira-kira ungkapan yang
mungkin keluar dari mereka. Sungguh memprihatinkan memang.

Maka membuka kembali lembar kehidupan para shahabat yang menggambarkan
sikap pengorbanan, mendahulukan orang lain dan mengalah adalah sangat
perlu bagi kita, apalagi ketika krisis dan kemiskinan tengah melanda
bangsa kita seperti saat ini. Dari mereka dan juga para ulama, kita
akan mendapatkan pelajaran dan teladan yang berharga, sebagaimana
tersebut di dalam riwayat-riwayat berikut ini.

Seorang Shahabat dengan Tamunya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa suatu ketika ada
seorang tamu datang kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, seluruh
istri beliau tidak memiliki apa-apa, kecuali hanya air. Maka Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Barang siapa di antara kalian
yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya." Seorang
laki-laki kaum Anshar berdiri dan berkata, "Saya akan menjamunya wahai
Rasulullah." Maka diajaknya tamu tersebut ke rumahnya. Sesampai di
rumah dia berkata kepada istrinya, "Apakah engkau masih memiliki
sesuatu? Sang istri menyahut, "Tidak, selain sedikit jatah buat anak
kita." Maka diapun berkata kepada istrinya, "Bujuk dan iming-imingi
anak-anak dengan sesuatu, kemudian apabila tamu kita masuk rumah
matikanlah lampu dan buatlah kesan, bahwa kita juga sedang makan.
Apabila nanti tamu sudah siap makan, maka kamu segera mematikan lampu
tersebut. Berkata perawi, "Mereka sekeluarga hanya duduk-duduk saja
(tidak makan), sedangkan tamunya makan. Lalu pada pagi harinya orang
tersebut datang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, Nabi
bersabda, "Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu
kalian tadi malam," maka Allah menurunkan ayat (QS. Al Hasyr ayat 9).
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kisah Sa’ad bin ar-Rabi’ dengan Abdur Rahman bin Auf

Abdur Rahman bin Auf mengisahkan, "Ketika kami sampai di Madinah,
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad
bin ar Rabi’, maka Sa’ad bin ar Rabi’ mengatakan, "Sesungguhnya aku
adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu
separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang
kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Perawi
mengatakan, "Abdur Rahman berkata, "Tidak usah, aku tidak membutuhkan
yang demikian itu." (HR al Bukhari dan Muslim, lafal hadits milik al
Bukhari)

Umar Ibnul Khaththab dengan saudaranya Zaid Ibnul Khaththab

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umarzdia berkata, "Umar bin Khaththab
berkata kepada saudaranya Zaid Ibnul Khaththab pada waktu perang Uhud,
"Aku bersumpah agar kamu mau memakai baju besiku ini, maka Zaid pun
memakai baju besi itu namun ia melepaskannya lagi. Maka Umar berkata
kepadanya, "Ada apa denganmu (mengapa kau lepas)?" Maka zaid menjawab,
"Aku menghendaki terhadap diriku sebagaimana yang engkau kehendaki
terhadap dirimu." (HR Ibnu Sa’d dan ath Thabrani dalam al Ausath)

Tiga Shahabat Menjelang Naza’

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit,
keduanya menceritakan, "Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin
Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu
akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun
kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi
minum dia berkata, "Berikan dahulu kepada si fulan", demikian
seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum
air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, "Ikrimah meminta air
minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah
berkata, "Berikan air itu kepadanya." Dan ketika itu Suhail juga
melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, "Berikan air
itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits,
ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut
(sedikitpun). (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr
dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah
sebagai ganti Suhail bin Amr)

Abu Thalhah dengan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Abu Thalhah pada perang Uhud
menjadi pasukan panah dengan posisi di depan Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam, dia memang seorang yang ahli memanah. Apabila Abu Thalhah
memanah maka Rasulullah memperhatikan kemana sasaran anak panahnya
mengena. Maka Abu Thalhah mengangkat dadanya (untuk melindungi Nabi)
seraya berkata, "Begini wahai Rasulullah, supaya engkau tidak terkena
sasaraan panah musuh, biarlah yang terkena adalah leherku bukan
lehermu."(HR Ahmad dan selainnya, sanadnya shahih)

Hadiah Kembali Kepada si Pemberi

Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata, "Salah seorang dari shahabat
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu
berkata, "Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini
daripada kita." Ibnu Umar mengatakan, "Maka ia kirimkan hadiah tersebut
kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu di kirimkan dari
satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan
akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan." (Riwayat
al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)

Ibnu Umar dan Pengemis

Nafi’ maula (klien) Ibnu Umar meriwayatkan, "Ibnu Umar suatu ketika
sakit, dia sangat menginginkan anggur pada awal musimnya. Maka dia
mengutus Shafiyah (istrinya) dengan membawa satu dirham untuk membeli
anggur segar. Ketika pelayan (utusan) mengantarkan anggur, dia diikuti
oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, maka utusan
masuk. Dari luar berkata pengemis, "Ada pengemis." Maka Ibnu Umar
berkata, "Berikan anggur itu kepadanya." Maka utusan itu memberikan
anggur tersebut kepada si pengemis.(HR al Baihaqi dalam asy Syu’ab
3/260). Dan demikian itu terulang hingga dua kali, sehingga Shafiyah
meminta agar pengemis itu tidak kembali lagi untuk ketiga kalinya.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiallaahu anha dan Orang Miskin

Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha, bahwa ada
seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa,
sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering,
berkata Aisyah kepada pembantunya, "Berikan roti itu kepadanya," si
pembantu menyahut, "Anda nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka
puasa. Maka beliau berkata lagi, "Berikan roti itu kepadanya." Perawi
mengatakan, "Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, "Belum
menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang
pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia
bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, "Makanlah engkau, ini
lebih baik daripada rotimu tadi." (HR Malik dalam al Muwaththa’ 2/997)

Bersama Para Salaf.

Al-Haitsam bin Jamil meriwayatkan bahwa Fudhail bin Marzuq datang
kepada al Hasan bin Huyaiy karena ada kebutuhan yang sangat mendesak,
sedangkan dia tidak punya apa-apa. Maka al Hasan memberikan enam dirham
dan dia memberitahukan, bahwa ia tidak memiliki selain itu. Maka
Fudhail berkata, "Subhanallah, Saya mengambil semuanya sedangkan engkau
tidak punya yang lain?” Namun al Hasan enggan mengambil semua nya, dan
Fudhail juga enggan. Akhirnya dinar itu dibagi dua, dia ambil tiga
dinar dan dia tinggalkan tiga dinar. (Tahdzib al Kamal 23/308)

Diriwayatkan dari Yahya bin Hilal al Warraq dia berkata, "Saya datang
kepada Muhammad bin Abdullah bin Numair untuk mengadukan sesuatu
kepadanya, maka dia mengeluarkan empat atau lima dirham seraya berkata,
"Ini separuh harta yang ku miliki. Dan dalam kesempatan lain aku
mendatangi Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dia mengeluarkan empat dirham
dan berkata, "Ini keseluruhan yang aku miliki." (riwayat Ibnul Jauzi
dalam Manaqib Imam Ahmad hal 320)

Dari Aun bin Abdullah dia berkata, "Seseorang yang sedang berpuasa
berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya,
ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan
kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, "Sepotong tidaklah
membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka
kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar." Akhirnya ia
berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur
dia bermimpi didatangi seseorang dan berkata, "Mintalah apa saja yang
kau kehendaki." Dia menjawab, "Aku minta ampunan. Orang tersebut
berkata, "Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!"
Dia berkata, "Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan."
(riwayat ad Dainuri dalam al Mujalasah 3/47)
Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Kutaib “Mawaaqif min Itsar as-Shahabah was salafus shaleh” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan,)

LELAKI DAN AIR MATA

Thursday, August 16th, 2007

Rasanya mungkin aneh sewaktu saya mengatakan pada seseorang "Ayolah kawan, menangislah, Jangan simpan tangismu kalau memang ada yang ingin kamu tangisi". Mungkin (lagi !) hal tersebut tidak akan menjadi aneh kalau saya mengatakan hal tersebut pada seorang teman wanita, tapi masalahnya saya mengatakannya pada seorang teman lelaki. Namun, apakah pendapat seperti itu memang benar ataukah salah ? Tapi satu hal yang pasti, saya mengatakan hal tersebut bukan lantaran ingin menunjukkan saya lebih tegar dibanding dia dan ingin menunjukkan kelemahannya, atau biar saya bisa berbicara " ternyata dia seorang yang cengeng" atau pendapat-pendapat yang bertendensi melemahkan kaum lelaki lainnya. Tentu saya tidak berani, sebab dia ataupun kaum lelaki lainnya pasti tidak menyukai hal tersebut dan saya pasti akan mendapatkan kritik yang begitu banyak.

Ya, saya berbicara seperti itu pada teman saya karena saya merasa bahwa airmata itu bukan hanya milik kaum hawa saja, dan ini diperkuat oleh tazkiah dari sesorang yang dimuat disalah satu majalah ibukota.

Airmata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani kita. Tangis dan airmata tidak lantas identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, cuma kadarnya saja yang berbeda. Yang jelas, secara umum laki-laki itu lebih "miskin" perasaannya dari pada wanita.

Lelaki yang gampang menangis juga bukan lelaki banci, dan tentu saja predikat ini sungguh sangat merendahkan derajat dan martabatnya serta sangat menyinggung harga dirinya sebagai makhluk yang (maaf) superior, sehingga menangis adalah hal yang tabu dan pantangan bagi laki-laki. Maka, sebagai laki-laki harus tahan dalam situasi apapun, jangan sampai ada butir-butir bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain. Kurang proporsionalnya laki-laki dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya akan menjadikan kaum lelaki bertambah "miskin" kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah sosok yang kaku, penuh dengan perhitungan-perhitungan, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati.

Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu hal yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya persaan yang ia miliki. Kehalusan dan kelembutan perasaan ini, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tapi justru akan menjadian ia sebagai sosok pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan bagi orang lain. Sebab kehalusan dan kelembutan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sifat benar, sementara sabar dan benar adalah dua pilar yang harus dimiliki oleh laki-laki yang ingin sukses menjalankan fungsi ke-qowam-annya.

Memupuk sikap benar dengan mengenyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap’ ke-qowam-an menjadi tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan, dan kepekaan rasa, sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita, sebab dalam batas yang proposional menjadi hal yang harus dimiliki juga oleh laki-laki. Misalnya dalam hal kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu ‘mengendalikan’ istrinya itu. apalagi bila istrinya itu memiliki karekteristik yang khas dan sedikit ‘rumit’, tentu saja ini semua membutuhkan kepekaan rasa.

Demikian juga tangis dan air mata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki-laki. Maka, jangan simpan tangismu wahai lelaki, bila ada sesuatu yang membuat kau ingin menangis, sebab tangis tidak selamanya identik dengan kecengengan kalau itu benar keluar dari kehalusan dan kelembutan rasa. sementara kehalusan dan kelembutan rasa bukan hanya milik kaum wanita, tapi juga milik lelaki, sebab adalah sesuatu yang universal, setiap orang pasti punya meski dengan kadar yang bebeda.

Wallahu A’lam bisshawab

Ujian Seseorang itu Sesuai dengan Kadar Keimanannya

Thursday, August 16th, 2007

Saad bin Abi
Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Ya Rasulullah,
siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’ Nabi saw.
menjawab, ‘Para nabi, kemudian yang menyerupai mereka, dan yang

                         
                         
                           


menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau
agamanya tipis (lemah), dia diuji sesuai dengan itu (ringan); dan bila
imannya kokoh, dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji
terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari
dosa-dosa’." (HR Bukhari)

Sesungguhnya ujian bagi seorang hamba itu berdasarkan agamanya. Jika
agamanya kuat, ia akan diuji dengan ujian yang berat. Sebailknya, jika
agamanya lemah, ia akan diuji dengan ujian yang ringan. Para rasul dan
para nabi adalah orang-orang yang utama karena mereka mendapat ujian
dari Allah sangat berat. Ujian yang mereka terima tidak akan sanggup
dipikul oleh orang biasa (awam). Ketika berdakwah menyebarkan agama
Islam, Rasululah saw. dituduh sebagai tukang sihir. Beliau difitnah
dengan berbagai macam cara oleh orang-orang musrik kaum Quraisy.
Orang-orang kafir membuat makar kepada Rasulullah, tetapi akhirnya
Allah memenangkan agama Islam ini.

Seseorang yang hendak memegang teguh agamanya pasti akan mendapati
berbagai tantangan-tantangan, baik tantangan dari luar maupun dari
dalam. Tantangan itu bisa datang dari mana saja. Seperti yang terlihat
sekarang ini, ujian sekarang ini banyak sekali yang berasal dari
kalangan umat Islam sendiri. Ketika seorang ulama menyuarakan
kebenaran, ada saja yang menentangnya. Ketika goyang haram Inul
diprotes, ada saja yang menentangnya. Bahkan, suara yang menentang
kebenaran itu justru lebih kuat daripada yang membelanya. Kita jadi
bertanya sebenarnya mereka orang-orang yang memiliki organisasi kuat
itu di mana. Mana reaksi dari Muhammadiyah? Mana reaksi dari Al-
Irsyad? Mana reaksi dari NU? Mana reaksi dari Persis? Mengapa kalian
tidak satu suara. Ini adalah tantangan yang besar yang dihadapi umat
ini. Dia, Rhoma Irama yang bukan ulama, malah berani mendukung protes
ulama, hingga dia sendiri melakukan tindakan nyata. Kini dia sedang
dipojokkan, apa dukungan kita untuk para pembela kebenaran itu? Ketika
pornografi menggema, ketika pornoaksi menggelora, mana reaksi
organisasi-organisasi Islam yang besar-besar itu. Untuk apa organisasi
Islam didirikan kalau tidak untuk menegakkan nilai-nilai syariat Islam!

Pada zaman modern sekarang ini orang yang memperjuangkan kebenaran akan
tersisih. Pada umumnya mereka yang kokoh memegang kebenaran dan berani
mengatakan dengan keras dan terbuka justru malah yang dimusuhi dan
dibenci. Abu Bakar Baasyir, misalnya, adalah salah satu tokoh yang
berani menyuarakan kebenaran meskipun di hadapan raja. Beliau kini
menghadapi berbagai tantangan yang berat. AS menghendaki orang yang
berjuang keras menegakkan syariat Islam ini lenyap dari peredaran.
Sekarang beliau ditahan dan sedang dibawa ke meja hijau. Orang-orang
seperti beliau benar-benar menghadapi ujian yang berat. Dengan nyata
dan jelas beliau dan mereka yang konsisten dengan menegakkan kebenaran
adalah yang menyerupai para nabi. Itulah sebabnya barangkali para tokoh
muslim enggan untuk menyuarakan hati nuraninya dengan terang-terangan
karena takut tersisih. Apalagi, para pemimpin organisasi Islam
terkemuka, mereka memiliki harapan menjadi calon legislatif dan
eksekutif. Mereka takut tersisih dari arena politik. Oleh karena itu,
mereka menganggap lebih baik ngumpet daripada keluar.

Kita tidak sepatutnya bersikap demikian. Kita dituntut untuk
mengamalkan agama ini sebaik-baiknya, yang benar kita suarakan benar,
yang salah kita suarakan salah. Yang menyuarakan kebenaran kita dukung,
yang menentangnya kita tentang. Jangan sampai kita lengah menghadapi
hidup ini sehingga menjadi pengecut. Kita harus tegar memegang
kebenaran. Dengan tegar dan istikamah itu kita akan mendapat
pertolongan dari Allah SWT. Jika setiap kita mengambil sikap demikian,
orang-orang pembela kemungkaran akan takut menghadapi kaum muslimin.
Jika masing-masing kita memiliki kekuatan agama, orang- orang kafir
akan takut menghadapi kita. Kita lemah sehingga mereka tidak takut,
bahkan menginjak dan menjajah kita. Marilah kita tingkatkan kekuatan
iman kita untuk menyongsong kehidupan esok yang lebih baik. Allah tidak
menuntut kita yang di luar kesanggupan kita, karena Allah hanya akan
menguji kita sesuai dengan kekuatan kita.

—————–
Sumber: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

MEMANTAPKAN KEIMANAN DENGAN ISTIQAMAH

Thursday, August 9th, 2007

عن سفيان بن عبد الله الثَّقفي قال: قلت "يا رسول الله، قل لي
في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً بعدك. قال: قل: آمنت بالله، ثم استقم" رواه
مسلم
.

Daripada Sufyan bin Abdullah al-Thaqafi berkata bahawasaya
berkata: Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkataan tentang Islam yang
aku tidak perlu bertanya kepada orang lain. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ucapkanlah
‘aku beriman dengan Allah’ kemudian beristiqamahlah." (hadis riwayat Muslim)

Sahabat ini bertanyakan kepada baginda satu ucapan yang
menghimpunkan segala kebaikan dan faedah yang membawa kejayaan abadi. Rasulullah
s.a.w. telah dikurniakan oleh Allah s.w.t kemampuan untuk menyampaikan ucapan
yang ringkas tetapi mengandungi maksud yang padat. Baginda menasihatkannya
tentang beriman dengan Allah s.w.t. yang merangkumi keseluruhan aqidah, amalan
hati, penyerahan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan secara berterusan
sampai akhir hayat yang dikatakan sebagai istiqamah. Hal ini selari dengan
maksud al-Qur’an:

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

 

Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan
berkata; ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang
betul (dengan pengakuan iman dan tauhid, maka tidak ada kebimbangan terhadap
mereka dan mereka tidak pula akan berduka cita
. (Al-Ahqaf: 13)

Keimanan dan istiqamah ini akan menatijahkan keselamatan dari
segala bahaya dan memperolehi keredhaan Allah dengan memasuki syurga. Nas-nas
al-Qur’an dan al-Sunnah jelas menyatakan bahawa iman meliputi aqidah yang benar,
amalan hati seperti keinginan kepada kebaikan dan membenci kejahatan, perbuatan
anggota fizikal seperti solat, zakat, haji, menolong orang lain dan sebagainya.

Hadis ini menegaskan makna ayat di atas iaitu keimanan
hendaklah dinyatakan dengan ucapan dan juga tubuh badan. Iman tidak memadai
dengan keyakinan di dalam hati tanpa diisytiharkan dan didakwahkan kepada orang
lain. Begitu juga iman bukan sekadar ucapan yang bermain di bibir tetapi
merangkumi amalan hati, lidah dan tubuh badan. Pada diri muslim ini zahirnya
erti keimanan kepada Allah. Pernyataan sebagai beriman kepada Allah mestilah
ditegaskan dan sentiasa diteguhkan.

Keteguhan dalam keimanan akan menentukan ketepatan dalam
amalan-amalan iaitu dengan mengikhlaskan diri kepada Allah serta melakukannya
menurut petunjuk Rasulullah s.a.w. Amalan-amalan ini akan menjadi lebih sempurna
apabila dilakukan dengan penuh istiqamah dan keteguhan baik dalam apa jua
kebaikan. Halangan-halangan yang berlaku kepada seseorang tidak akan menyekatnya
dari terus mengabdikan diri kepada Allah baik ketika sakit atau sihat, senang
atau susah, dalam perjalanan atau di tempat sendiri. Ringkasnya, kita katakan,
istiqamah merupakan tanda kesempurnaan amalan mukmin yang merangkumi hati,
ucapan dan perbuatan.

Istiqamah menuntut seseorang itu menerima segala ajaran Islam
mengikut apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. tanpa mengurangkan,
menambahkan sesuatu yang bukan daripadanya, meminda-minda atau menukar ganti
dengan yang lain. Sebagaimana yang diperintah itulah yang dilaksanakan.

 

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ
أَهْوَاءَهُمْ

 

Oleh kerana yang demikian itu, maka serulah (mereka wahai
Muhammad kepada beragama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau
menjalankannya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau
menurut kehendak hawa nafsu mereka.
(Al-Syura:15)

Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

عن أبي هريرة. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "قاربوا
وسددوا. واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله" قالوا: يا رسول الله! ولا أنت؟ قال "ولا
أنا. إلا أن يتغمدني الله برحمة منه وفضل".

Hendaklah kamu bersederhana dan tetap lurus beristiqamah dan
ketahuilah seorangpun dari kalangan kamu tidak terselamat(dari neraka) dengan
amalannya. Lalu sahabat bertanya: Anda juga wahai Rasulullah?, baginda menjawab:
Ya, tidak juga saya melainkan Allah menyelimutiku dengan rahmat dan
limpahan-Nya.(hadis riwayat Muslim)

Apa yang penting kita mesti berusaha sedaya usaha kita dalam
keadaan mengharapkan rahmat dan kurniaan Allah s.w.t. kerana kita tidak
ditugaskan dengan sesuatu hukum melainkan dalam batas kemampuan kita. Sifat
berterusan patut dikekalkan dan itu lebih baik daripada amalan yang banyak
kerana semangat yang yang berkobar-kobar yang kemudiannya sepi tanpa penerusan.
Ibarat air paip yang kecil lebih baik daripada curahan air setangki yang
kemudiannya kering tidak ada walaupun setitik.

 

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

 

Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah sedaya supaya kamu
(Al-Taghabun: 16)

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan Islam.
(Ali `Imran: 106)

Ketaqwaan perlu diusahakan dan dikekalkan sehingga akhir usia
kita sehinggalah kita meninggal dunia dengan penuh keimanan dan ketakwaan.
Kehidupan ini mesti ditempuhi dalam keadaan mengharapkan rahmat Allah dan rasa
takut kepada-NYa. Tidak ada jalan lain untuk memperolehi husnul khatimah
kecuali dengan meneguhkan keimanan dan beristiqamah di atas jalan hidayat dan
taqwa selagi hayat dikandung badan.