Archive for June, 2007

Cintamu….dan Cintamu…..

Tuesday, June 26th, 2007

Ketidakberdayaan apa ini ?
Pikiranku terpaku, langkahku terpatri
Deret nafasku menopang nyeri
Sungguh, aku tak mengerti

Aku duduk di sebuah persimpangan di negeri yang koyak
  Melamun diantara kebisingan yang pekak
  Mencoba merongrong siang yang berarak
  Karena malam telah kehabisan sendu yang bercorak
  Sungguh, isi jiwaku tetap tak mengerti

Siang itu, hujan jatuh layaknya barisan yang berderu
Mencari celah diantara awan pekat yang bergurau
Menghindar dari kutukan yang sebenarnya adalah kabut kebenaran yang tak tersentuh
Tapi aku berusaha tegak

Aku yang congkak dengan keterbatasanku yang cekak
Aku yang menangis, memohon parau ngilu yang sesak
Aku yang termenung di persimpangan menyayangkan jarak
Mencoba membawa jasad dan jiwa yang pedih untuk dituntun

Tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu
Hhhh………..

Seluruh pikirku masih tak memahami
Aku merajuk pada-Mu dan padamu
Dalam diamku masih terdapat harap untuk-Mu dan untukmu
Aku meminta pada-Mu dan padamu
Jangan padamkan rasa akan-Mu dan akanmu

Aku bersungguh di dekat-Mu dan dekatmu
Bahwa, aku sujud dalam sungguh-Mu
Dan merengek pada kepuraan darimu
Pada alamku masih belum juga mengilhami
Dalam selongsong yang kosong ini

Pertama mendamba kasih-Mu
kedua mengharap hadirmu
Kalau bisa kukatakan
Dalam dekat akan-Mu menenangkanku
Dalam jarak akanmu menggelisahkanku

Bila pertemuan dengan-Mu dan denganmu
Menjadi obat tidur pada malam yang mencekam suaraku
Basuhlah aku dengan kasih-Mu
Dan jumpa denganmu
Walaupun aku hanya termenung dalam menenung benangnya dalam tempurung

Aku tetap menuntun
Tetap menanti
Masih menunggu
Menunggu cinta-Mu dan cintamu

Aku Takut Menikah Karena Belum….

Tuesday, June 26th, 2007

1. Belum Bekerja

Inilah masalah klasik seputar menikah, terutama bagi pihak pemuda. Ketika sudah
  merasa cocok dengan seorang muslimah, dan jika ditunda-tunda bisa berakibat
  buruk, ternyata si Pemuda belum punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga kelak.
  "mau dikasih makan apa anak dan istri kamu, dikasih cinta doang ?!?" Begitulah
  perkataan sinis yang senantiasa terngiang-ngiang ditelinganya.

Seorang laki-laki memang merupakan tulang punggung dalam sebuah keluarga. Menghidupi
  seluruh anggota keluarga adalah tangging jawabnya. Rasulullah bersabda, yang
  artinya, "Bertaqwalah kepada Allahdalam memperlakukan wanita. Sebab kamu
  mengambilnya dengan amanat allah dan farjinya menjadi halal bagi kamu dengan
  kalimat Allah. (Menjadi) kewajiban kamu untuk memberi rizki dan pakaiannya dengan
  cara yang baik."
(HR.Muslim)

Dengan demikian, penghasilan dalam suatu keluarga memang diperlukan. Namun
  sebenarnya, tidak berarti belum kerja kemudian tidak boleh menikah. Allah SWT
  berfirman, yang artinya, "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum
  menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba
  sahayamuyang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin,
  Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya)
  lagi Maha Mengetahui."
(Surat An-Nur : 32)

Penghasilan bisa dicari setelah menikah. Yang pertama kali harus dilakukan
  adalah percaya dan yakin akan janji Allah pada firman-Nya di atas. Tak sedikit
  pemuda yang susah mencari kerja sebelum menikah, tapi setelah menikah ternyata
  banyak tawaran kerja dan peluang kerja.

Sebagai persiapan sebelum menikah, kesungguhan dalam menuntut ilmu dunia agar
  kelak mudah mendapatkan penghidupan yang baik pula untuk dilakukan. Walaupun
  tak selamanya relevan, kuliah yang baik dan dan prestasi yang bagus masih merupakan
  suatu modal yang dapat diandalkan dalam mencari kerja. Bagaimana kalau kuliah
  sudah terlanjur tidak karuan ? Jika sudah begini perlu juga pegang prinsip bahwa
  pekerjaan kelak tidak harus sesuai dengan bidang yang dipelajari saat ini. Banyak
  yang dapat rejeki lumayan dari bekerja dalam suatu bidang yang dulu tidak pernal
  dipelajari dalam jenjang pendidikan formal.

Persiapan lain yang bisa dilakukan adalah kuliah sambil kerja. Sembari menabung,
  juga bisa untuk jaga-jaga apabila ketika lulus nanti tidak langsung diterima
  bekerja sesuai bidang yang dipelajari.

2. Belum Lulus

Berbeda dengan yang pertama, masalah yang satu ini bisa menjadi
  penghalang bagi pihak pemuda dan pemudi. Mungkin seseorang sudah bekerja atau
  sudah punya prinsip untuk mencari kerja setelah menikah namun ia ragu untuk
  menikah gara-gara belumlulus kuliah. Bisa jadi pula yang punya alasan seperti
  ini sang pemudi pujaan hatinya. Bayangan kuliah sambil menikah baginya tampak
  menyeramkan. Kuliah sambil mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi jika
  harus ditambah tanggung jawab mengurus orang lain. Ditambah kalau si buah hati
  sudah lahir dan belum juga lulus kuliah, tampaknya akan tambah repot.

Sebenarnya, menikah tidaklah selalu mengganggu kuliah. Malahan hadirnya pendamping
  hidup baru bisa menambah semangat utuk belajar. Bisa jadi, sebelum menikah malas-malasan
  belajarnya, ketika sudah menikah malah tambah semangat dan tambah rajin untuk
  belajar. Tidak sedikit yang mengalami perubahan demikian, apalagi secara peraturan
  akademik seorang mahasiswa sudah diperbolehkan untuk menikah. Seorang mahasiswa
  sudah tidak dianggap ABG (Anak Baru Gede) lagi, tapi AUG (Anak Udah Gede) alias
  sudah dewasa. Seorang yang sudah dewasa dianggap sudah bisa bertanggung jawab
  apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Memang benar untuk tetap mengadakan persiapan jika mengambil jalan menikah
  di saat masih kuliah. Yang pertama harus disadari adalah bahwa hidup berkeluarga
  adalah berbeda dengan hidup sendirian. Tidak pantas jika orang yang sudah menikah
  tetap bebas, lepas, menelantarkan keluarganya sebagaimana dulu bisa ia lakukan
  ketika masih lajang. Orang yang menikah sambil kuliah juga harus pandai-pandai
  mengatur waktu antara tanggung jawabnya dalam keluarga dan dalam belajar. Selain
  waktu, manajemen pemikiran juga solid, karena begitu menikah masalah-masalah
  dulu yang belum ada mendadak bermunculan secara serentak. Bagaimana memahami
  pasangan hidup baru, bagaimana jika hamil dan melahirkan, bagaimana mendidik
  anak, bagaimana mencari rumah -nebeng mertua atau cari kontrakan-, bagaimana
  bersikap kepada mertua, tetangga dan lain-lain, apalagi masih harus memikirkan
  pelajaran.

Pusing….? Semoga tidak. Sebenarnya menikah sambil kuliah bisa disiapkan sejak
  hari ini, bahkan juga sudah sejak SD. Modal awalnya adalah manajemen diri sendiri.
  Ketika seorang sudah sejak dahulu berlatih untuk hidup mandiri, akan mudah baginya
  untuk hidup berkeluarga. Misalnya saja sudah sejak SD bisa mencuci pakaian dan
  piring sendiri, mengatur waktu belajar, berorganisasi, dan bermain, mengatur
  keuangan sendiri, dan sebagainya. Kesiapan juga bisa diraih jika seseorang biasa
  menghadapi dan memecahkan problem hidupnya. Karena itu perlu organisasi dan
  bersaudara dengan orang lain, saling mengenal, memahami orang lain dan membantu
  kesulitannya.

3. Belum Cocok

Mungkin pula sudah lulus, sudah kerja, sudah berusaha cari calon pasangan tapi
  merasa belum menemukan pasangan yang cocok, sehingga belum jadi menikah pula,
  padahal sudah hampir tidak tahan ! Ini juga merupakan masalah yang bisa datang
  dari kedua belah pihak, baik pihak pemuda maupun pemudi. Kecocokan memang diperlukan.
  yang jadi ertimbangan dasar dan awal tetntu saja faktor agama, yaitu aqidah
  dan akhlaknya. Allah berfirman, yang artinya :

"Mereka (perrempuan-perempuan mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir.
  Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka."
(Al-Mumtahanah : 10)

Rasulullah juga bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya,
  karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan
  memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)."

  (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

Keadaan yang lain adalah nomor dua setelah pertimbangan agama. Namun kebanyakan
  di sinilah ketidakcocokannya. Sudah dapat yang agamanya bagus tapi kok nggak
  cocok pekerjaannya, nggak cocok latar belakang pendidikannya, nggak cocok hobinya,
  warna matanya kok begitu, pakai kacamata, kok hidungnya…dan lain-lain.

Kalau mau mencari kekurangan tiap orang pasti punya kekurangan karena tidak
  ada manusia yang diciptakan secara sempurna. Sudah cantik, kaya, keturunan bangsawan,
  pandai, rajin, keibuan, penyayang, tidak pernah berbuat salah.

Ketika seorang pemuda atau pemudi sudah mau menikah, memang seharusnya
  cari tahu dulu tentang calon pasangan hidupnya ke sahabatnya, saudaranya atau
  ustadznya, atau yang lainnya, baik kelebihan maupu kekurangannya. Jika sudah
  tahu, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisa menerima dan memaklumi kekurangan
  serta kelebihan si dia. Rasulullah bersabda, yang artinya,

"Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia
  membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain."
(HR.Muslim)

Jadi, jangan hanya melihat kekurangannya saja, tapi juga perlu melihat kelebihannya.
  Ketika kekurangan sudah bisa diterima, kelebihan akan lebih bisa menimbulkan
  perasaan suka. Karea itu, jangan sampai sulit nikah karena dibikin sendiri.

4. Belum Mantap

Masalah satu ini juga bisa terjadi pada tiap orang pihak pemuda, pihak pemudi,
  baik yang sudah kerja atau yang belum, baik sudah lulus atau belum. Pertama
  kali, perlu diselidiki belum mantapnya itu karena apa, karena tak sedikit yang
  beralasan belum mantap, ketika ditelusuri larinya juga menuju ketiga masalah
  ‘belum’ di atas.

Namun ada juga yang belum mantap karena memang merasa persiapan dirinya kurang
  baik ilmu tentang pernikahan, keluarga, dan pernik-pernik di sekitarnya. Orang
  seperti ini malah tidak memusingkan masalah ketiga ‘belum’ di atas, karena memang
  dia merasa belum siap dan belum mampu.

Solusinya tidak lain adalah mementapkan dan mempersiapkan diri. Hal ini bisa
  ditempuh lewat menuntut ilmu tentang pernikahan, dan keluarga, baik dengan menghadiri
  pengajian, yang membahas masalah tersebut atau dengan membaca buku-buku mengenainya.
  Penting pula untuk menimba pengalaman kepada orang yang sudah menikah, karena
  kadang-kadang buku-buku dan ceramah ilmiah dan formal tidak membahas masalah
  praktis yang detail yang diperlukan agar siap menikah.

Sepenggal Do’a Untukmu…..

Tuesday, June 26th, 2007

Robb,…
  Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
  Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

  Robb,…
  Beri ketetapan hati untukku
  Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
  Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
  Tapi hati yang telah kau lihat sampai menembus relung kalbunya…

  Alloh yang Maha Kuasa,
  Maha melihat masa depan,
  Maha mengetahui yang akan terjadi
  Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

  Ya Alloh,…
  Jika mendambanya adalah kesalahan
  dan merindunya adalah kekeliruan
  Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu…

  Jika kesempurnaannya bukan untukku…
  Tolong bawa jauh dari relung hati…
  Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
  dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya…
  Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

  Tapi Tuhan,…
  Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
  Beri aku kekuatan menentukan pilihan
  Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
  Jika dia memang untukku…
  Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu…………

  Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
  Mengarungi sisa umur…
  Menapaki jalan kearah Mu…
  Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami…

  Tolong beri kesabaran yang penuh…
  dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan…

  Amien……

Doa ini untuk seseorang yang telah mengingatkan tentang kekuasaan-Nya,
menjadikan aku kembali merindukan cinta-Nya. Terimakasih atas semua yg
pernah kita lalui…..
  Smoga Alloh slalu membimbing & membahagiakan mu… Amien
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sepucuk Surat dari seorang Ayah

Monday, June 25th, 2007

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. 
  Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki 
  kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu 
  dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari 
  sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai 
  belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan 
  temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah 
  dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi 
  kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui 
  keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. 
  Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku 
  banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk 
  berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah 
  cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan 
  oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu 
  berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan 
  milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta 
  ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. 
  Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku 
  dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali 
  kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, 
  penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada 
  pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan 
  pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu. 
  Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan 
  dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi 
  contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai 
  dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu 
  sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau 
  kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam 
  jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan 
  perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang 
  tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, 
  Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan 
  menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan 
  Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena 
  seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat 
  itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah 
  bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah 
  yang senantiasa merindukanmu. 
   
  (disalin dari lembaran da’wah "MISYKAT" No.8)

Wanita Suci

Monday, June 25th, 2007

(Suara Hati Seorang Ikhwan untuk Seluruh Wanita Suci di
Dunia)

Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena
toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak
mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah
makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu
dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkanpersamaan.

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh, karena akan
membuatkumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan
inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding
khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat
mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh
Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak
berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri,
berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan
pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin
kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau
kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu
kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi
karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada
wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski
hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin
kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan
sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata
otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki
itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang
lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda
Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab
suci.

Wanita suci
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati
ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau
nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu
terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu
menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an tangis
do’amu.

Wanita suci
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu
pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan
itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang
kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu yang meminta
ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak
pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat
kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi
kita.

Macam-macam Hati…

Monday, June 25th, 2007

Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh
manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang
dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya." (Al-Isra: 36).

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan
anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala
tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan
perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

"Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada
segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi
baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan
jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

1. Hati yang sehat

Yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati. Firman Allah:
"(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat kecuali
siapa yang datang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat."
(Asy-Syura: 88-89).

Ayat ini sangatlah mengesankan, di sela-sela
harta benda yang diburu dan dikejar-kejar orang, dan anak-anak
laki-laki yang sukses dengan materinya dan sangat dibanggakan, ternyata
itu semua tidak akan memberi manfaat kecuali siapa yang datang
menghadap Allah dengan hati yang selamat.

Yaitu selamat dari semua nafsu syahwat yang
bertentangan dengan perintah Allah dan laranganNya, dan dari semua
syubhat yang memalingkan dari kebenaran, selamat dari peribadatan dan
penghambaan diri kepada selain Allah, selamat dari berhukum dengan
hukum yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikhlaskan
seluruh peribadatannya hanya karena Allah, iradahnya, kecintaannya,
tawakkalnya, taubatnya, ibadah dalam bentuk sembelihannya, takutnya,
raja’nya, diikhlaskannya semua amal hanya kepada Allah.

Apabila ia mencintai maka cintanya karena Allah,

apabila ia membenci maka bencinya karena Allah,
apabila ia memberi maka memberinya karena Allah,
apabila menolak maka menolaknya karena Allah.

Dan tidak hanya cukup dengan ini, sampai ia berlepas diri dari
semua bentuk keterikatan dan berhukum yang menyelisihi contoh dari
Rasulullah. Maka hatinya sangat tertarik dengan ikatan yang kuat atas
dasar mengikuti jejak langkah Rasulullah semata, dan tidak mendahulukan
yang lainnya baik ucapan maupun perbuatannya.

Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman
janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(Al-Hujurat: 1).

2. Hati yang mati

Yaitu kebalikan dari hati yang sehat, hati yang
tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa
yang perintahkanNya, dicintaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu
memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar
bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah
dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri
dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia
menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah.

Apabila ia mencintai maka cintanya karena
nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia
memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya
atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan
lebih ia cintai daripada ridha Allah.

Orang yang demikian menjadikan hawa nafsu
sebagai imamnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi
sopirnya, dan kelalaian sebagai tunggangan dan kendaraannya. Pikirannya
hanya untuk mendapatkan dunia yang menipu ini dan dibuat mabuk oleh
nafsu untuk mendapatkannya,

ia tidak pernah meminta kepada Allah kecuali
dari tempat yang jauh. Tidak membutuhkan nasihat-nasihat dan selalu
mengikuti langkah-langkah syetan yang selalu merayu dan menggodanya.

Maka bergaul dengan orang seperti ini akan
mencelakakan kita, berkawan dengannya akan meracuni kita, dan duduk
dengannya akan membinasakan kita.

3. Hati Yang Sakit

Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati
orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala juga
berbuat maksiat, dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling
berusaha untuk mengalahkannya.

Hati jenis ini, mencintai Allah, iman
kepadaNya beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan tawakkal kepadaNya, itu
semua selalu dilakukannya tetapi ia juga mencintai nafsu syahwat dan
kadang-kadang sangat berperan dalam hatinya serta berusaha untuk
mendapatkannya.

Hasad, sombong (dalam beribadah kepada Allah),
ujub, dan terombang-ambing antara dua keinginan yaitu keinginan
terhadap kenikmatan kehidupan akhirat serta keinginan untuk mendapatkan
gemerlapnya dunia.Maka hati yang pertama hidup, tumbuh, khusyu’ dan
yang kedua layu kemudian mati. Adapun yang ketiga dalam keadaan tidak
menentu, apakah akan hidup ataukah akan mati. Kemudian banyak sekali
orang yang hatinya sakit dan sakitnya bahkan semakin parah, tetapi
tidak merasa kalau hatinya sakit, bahkan sekalipun telah mati hatinya
tetapi tidak tahu kalau hatinya telah mati.

Izinkan Aku MenciumMu Wahai IbundaKu….

Wednesday, June 20th, 2007

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.
  Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya
  setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku �dipaksa� membantunya memasak
  di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia
  tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis
  makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang
  lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga
  setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena
  aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang
  tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih
  ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan
  oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku
  hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat
  dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk
  pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau
  hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku
  sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama
  teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika
  ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang
  dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.
  Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku
  yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter
  didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan
  penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan
  semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik,
  ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal
  juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku
  berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan
  mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku
  semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan
  seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti
  apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya
  sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan
  dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih
  gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do�a di setiap
  sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu
  Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana
  meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang
  senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku.
  Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah
  aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika
  aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak
  pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri
  yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku
  pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala
  kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
  Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
  (Bayu Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

Bila Ajal Menjemput…….

Wednesday, June 20th, 2007

Bila waktu telah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah  terhenti
Teman sejati tinggallah sepi

Ada yang terus mengintaiku, mengikuti gerak
langkahku setiap saat, menungguku untuk sebuah pertemuan yang dinanti.
Dia selalu mengawasiku setiap waktu. Jika aku berada di depan, maka dia
pasti ada di belakangku. Jika aku berada di samping kanan, maka dia
berada di samping kiriku. Jika aku di atas , dia pasti ada di bawah.
Siapakah gerangan ?

Dialah �Kematian�, �kematian� banyak hal yang
melintasi pikiranku saat aku menyebutnya. Semua pasti akan mati, semua
pasti akan mengalami sekarat, dan semua yang hidup pasti akan bertemu
dengannya tak dapat kusanggah. Saat menjelang kematian dalam kehidupan
manusia terdahulu adalah saat yang pasti aku lalui juga.

Demi Alloh, dia pasti akan datang kepadaku. Demi
Alloh dia pasti akan menegukku. Sama seperti raja-raja di istana megah
itu, seperti pemimpin � pemimpin bangsa di masa lalu. Seperti
orang-orang kaya yang setiap harinya kelihatan �bahagia� (jika mereka
mati, masihkah �bahagia�?), atau mereka yang fakir yang setiap harinya
bergumul dalam penderitaan, atau orang-orang miskin yang terus meratapi
segala kekurangannya, atau para hamba sahaya yang tiada sekejappun
orang memandangnya. Mereka semua telah merasakan kematian. Mereka semua
telah bertemu dengan kematian.

Bila mati, bila manusia mati,maka sudah tak ada lagi
yang bisa dibangga-banggakan. Seorang yang cerdik sekalipun,
kecerdikannya tak akan bisa melarikan dirinya dari peristiwa kematian.
Bila mati, maka semua strategi para ilmuan dan tokoh jenius itu pasti
akan patah. Bila mati, semua kekuatan orang-orang yang berkuasa itu
akan binasa. Bila mati, bangunan yang tinggi menjulang, istana-istana
megah dunia, atau gedung pencakar langit yang kokoh akan runtuh
seketika. Kematian juga yang telah meruntuhkan bangunan orang-orang
kaya itu.

Suatu kali aku bertanya pada diriku sendiri, bila
mati, bagaimana bila aku mati ? Ah � selama ini aku memang tidak tahu
kapan dia akan datang bertamu, karena dia tidak pernah membuat janji
sebelumnya denganku. Namun, bagaimana kalau dia tanpa diduga tiba-riba
datang kepadaku ? Menegukku, membuatku sekarat ? Bagaimana ?

Bila mati, bila aku mati, itu berarti aku harus rela
ditinggal sendiri. Ibu, bapak, saudara �saudaraku, mereka semua pergi.
Sahabat-sahabat dekat yang selama ini menjadi tempat curahan hati,
tetangga-tetangga yang suka mengantarkan makanannya kepadaku, mereka
hanya berlalu dan pergi meninggalkanku. Apalagi hasil jerih payahku
mengais rezeki hari demi hari sekepingpun tak dapat menolongku lagi.
Apa yang terjadi ? Saat itu aku pasti akan sendirian, dalam gelap
gulita diselimuti sepi, mencekam, mati.

Bila mati, yang ada dalam gambaranku adalah suatu
peristiwa yang amat penting bagi yang hidup. Aku tidak tahu bagaimana
rasanya bila nanti seolah olah ada sebuah gunung yang kokoh lagi
menjulang tinggi berada di atas dadaku, menahanku, menghilangkan
kesempatanku untuk menghirup udara dunia, mungkin jika bisa,  itupun
seakan-akan aku bernafas di sebuah lubang jarum. Bernafas di sebuah
lubang jarum ? Pergulatan macam apa itu ? Atau seumpama aku sedang
dipukuli dengan sebuah dahan pohon yang penuh duri lagi tajam, kemudian
duri-duri  itu menancap di semua urat-uratku. Lantas, lantas dahan
tersebut ditarik, sehingga setiap urat dalam tubuhku juga ikut
tertarik, menyisakan kepedihan dan sakit yang luar biasa. Demi Alloh,
apakah nanti lebih perih dari yang sekedar aku bayangkan ?

Bila mati, bila aku mati, maka akan ada sesuatu yang
menampakkan wajahnya padaku. Dialah Izroil, Sang Malaikat Maut yang
akan turun dari penjuru langit untuk menjemputku. Namun, apakah nanti
dia akan menampakkan rupanya dengan wajah penuh keramahan dan
kehangatan ataukah sebaliknya ? Bisa jadi nanti dia datang dengan wajah
garang tanpa belas kasihan. Bagaimana nanti ? Ketika dadaku menyempit,
nafasku tersengal-sengal, sampai ke tenggorokan, tubuhku kaku sulit
digerakkan. Saat itulah dia menunaikan tugasnya, memisahkan ruh dan
jasadku. Menuntaskan episode akhir dari sebuah perjalanan hidupku di
dunia ini. Itu pasti akan terjadi, nanti, bila aku mati.

Kemudian, bila mati, bila aku mati, orang-orang akan
membaringkanku, memandikanku, menyolatiku, mengafani tubuhku yang kaku,
menggotongku dan menimbunkanku di dalam sebuah ruang sempit, gelap,
senyap dan sunyi. Detik-detik saat aku dibaringkan dalam liang kubur
itulah yang akan menjadi awal babak baruku menuju fase berikutnya
setelah kematian, yakni mengarungi alam kubur. Tak ada pagi, siang
ataupun malam hari, karena semuanya sama jika sudah masuk ke dalam,
terpendam berkalang tanah. Oh .. adakah tempat yang lebih jauh dari
tempat itu ? Adakah ? Adakah tempat yang lebih sunyi ? Adakah ?
Gelapkah, pasti tidak ada kegelapan yang lebih gelap dari tempat itu.
Semua kelezatan yang pernah aku rasakan ketika aku hidup, mungkinkah
akan berganti menjadi rasa pahit yang luar biasa ?

Siapa yang akan peduli jika aku tercekam ketakutan
? Siapa ? Gelap� gelap� Adakah cahaya� adakah ? Siapa yang akan
memberikan aku cahaya untuk menerangi kegelapanku di sana ? Siapa?
Tiadakah aku punya sesuatu yang berarti? Apakah amalku, amalku yang
sedikit tersisa  nanti akan mampu menolongku, menemani dalam
kesendirianku di sana ?

Bila mati, bila aku mati, oh� aku ini memang bukan
seorang �alim yang pasti airmatanya meleleh jika membayangkan malam
pertama di dalam kubur, bukan pula seorang ahli hikmah yang mengeluhkan
pedihnya dijerat kematian, atau seorang penyair yang menerjemahkan
tangisannya dalam bait-bait kematian penggugah keharuan. Aku hanya
manusia biasa, terlalu biasa untuk mengingat kematian. Aku masih
tenggelam dalam carut marut dunia yang aslinya fana ini. Terlalu
sedikit waktuku untuk mengingatnya, apakah memang waktunya yang sedikit
ataukah dunia ini yang membuatku sedikit untuk mengingatnya ?

Mati, bila mati, bila aku mati, saat ini aku memang
belum mati. Tapi seharusnya aku tidak boleh takut mati. Karena, setiap
yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Semestinya aku harus
mengingatnya setiap hari, berbenah diri, memelihara waktuku, usia
kehidupanku sekarang dan melakukan persiapan yang baik untuk
kedatangannya. Ah� dia memang tidak pernah membuat janji padaku
sebelumnya. Namun, mungkin saja dia akan datang pada saat-saat dimana
aku tidak menduga sama sekali.

Dia masih memperhatikanku�
Terus mengintaiku��
Mengawasi gerak-gerikku ��
Menungguku��
Untuk sebuah waktu yang telah ditentukan���

Ya Alloh, Yang Maha Mematikan, perbaikilah
agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang
merupakan tempat hidupku, perbaikilah akhiratku  yang merupakan tempat
kembaliku. Dan jadikanlah kehidupanku sebagai penambah kebaikan bagiku
serta jadikan KEMATIANKU sebagai istirahatku dari segala keburukan.

Allohumma ainni ‘ala sakarootil mauuut..
Allohumma hawwin ‘alayya sakarootil mauuut..
Laa ilaha illalloh  inna lilmauti la sakarooti..

 Ya Alloh bantulah aku dalam menghadapi sakaratul maut
Ya Alloh, mudahkanlah sakaratul maut padaku.
Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh
Sesungguhnya kematian itu memiliki saat  saat sekarat

Wahai Hati….

Wednesday, June 20th, 2007


  Siapa yang mengakui indahnya bunga? Dengan warna yang menarik dan bau yang harum,
  ia sering menjadi idaman. Kadang-kadang ia juga menjadi perhiasan.Mata yang
  menilai pula mendapat tafsir tentang keindahan dari akalnya.akal yang baik dan
  cerdas adalah akal yang dipandu oleh kasih Allah dan Rasulnya. Bukankah ini
  yang dinamakan iman…………

Tidak seorang pun yang dapat menafikan, betapa indahnya mega petang. Warnanya
  yang begitu menawan, memukau setiap mata yang memandang, setiap hati yang terusik
  dan setiap jiwa yang rindukan kedamaian. Namun…. lebih indah lagi sekiranya
  hati kecilnya berkata: ‘Mahasuci Allah, tidak engkau jadikan semua ini sia-sia.
  Mahasuci Engkau ya Allah, lindungilah aku dari api neraka.’

Begitu juga dengan keindahan jeram-jeram di kali, dedaunan gugur dihembus angin.
  Peristiwa-peristiwa sebegini amat meniggalkan kesan kepada hati makhluk yang
  bergelar insan . Itulah hakikatnya, fitrah jiwa manusia . jiwanya cenderung
  kepada keindahan dan kecantikan. Biar apapun pangkat dan kedudukannya. Seorang
  kaya mungkin merasakan bahawa keindahan itu ialah rumahnya yang tersergam indah
  di atas bukit dan potretnya yang dilukis hebat. Seorang fakir pula mungkin
  merasakan bahwa keindahan itu adalah dari riak wajah anak-anak kecilnya yang
  menunggu kepulangannya.

Namun tidak ramai yang mengetahui, tentang wujudnya satu keindahan hakiki….
  indahnya ia membuahkan perasaan kasih sayang pada ibu dan ayah. Indahnya ia
  , melahirkan rasa kasih pada sahabat dan indahnya ia, memandu akal dan jiwa
  kepada etenangan, kedamaian, dan kerinduan kepada kebahagiaan. Itulah tanda
  kasih dan sayang pada Maha Pencipta dan Maha Pengasih. Itulah tanda kasih dan
  sayang pada Allah dan Rasulnya.

Hatinya berbisik; lagi……..‘Ya Allah, banyaknya nikmat-Mu padaku.tapi
  ………. sedikitnya aku bersyukur, ya Allah , hatiku tahu nafsu jahat itu
  musuhku, tapi banyaknya jalan-jalannya yang telah aku turuti. Ya Allah, besarnya
  pengorbanan ayah, tingginya nilai kasih dan mesra ibu, tapi aduhai …..sedikitnya
  do’aku untuk mereka. Ampunkan, ampunkanlah
  wahai yang Maha Pengasih’

Marilah kita bersama-sama memiliki keindahan iman ini. Milikilah ia dengan
  banyak merenung dan memikirkan nikmat-nikmat Allah…. Milikilah ia dengan ilmu
  yang mendalam, mudah-mudahan dengannya keindahan yang hakiki akan kita peroleh.
  Tidak
  seperti keindahan dunia ini yang hanya bersifat sementara…………….

Fenomena Friendster.com dan Testimonialnya

Wednesday, June 20th, 2007

Kamu ikut Friendster?� atau, Kirim aku testimonial
donk.� Seperti itulah kira-kira pertanyaan dan permintaan yang sering
dilontarkan. Percaya atau tidak, karena sangat ngetrendnya Friendster
hingga yang biasanya jarang menggunakan internet, bisa menjadi
berinternet ria. Atau yang semula gaptek internet menjadi ingin belajar
internet karena sangat ingin bergabung dengan situs ini, bahkan
orang-orang yang belum ikut Friendster bisa dicap �tidak gaul’

Friendster bisa digunakan untuk memperluas jaringan
dengan manusia di seluruh dunia dan menjalin hubungan yang hampir
memudar dengan teman-teman kita. Sampai-sampai kita bisa bertemu
kembali dengan teman-teman semasa di SD, SMP, SMU, dan seterusnya.
Friendster tidak hanya digunakan oleh individu, tetapi bisa juga oleh
lembaga.

Friendster.com tentu bukan situs haram karena
substansinya ia hanyalah fasilitas, dan halal haram sangat tergantung
bagaimana kita menggunakannya. Bila kita bergabung karena ingin
menjalin silaturahim dengan teman-teman, tentu tidak masalah, justru
berpahala. Namun bisa menjadi masalah bila ternyata digunakan untuk
mencari cewek/cowok ganteng, bertemu kecengan semasa SMU, menonjolkan
kelebihan identitas diri, pamer ketampanan/kecantikan di picture, dan
lain-lain, nah ini nih yang harus diluruskan; niat dan caranya.

Banyak kalangan telah masuk ke situs ini, termasuk
kalangan aktivis da’wah yang tak mau ketinggalan untuk memanfaatkannya
sebagai ajang silaturahim dengan sesama aktivis maupun teman-teman
da’wah fardiyah agar kian erat di dunia maya dan di dunia nyata.
Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya digunakan untuk
memperluas basis da’wah.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika
bergabung dengan Friendster.com, yaitu pada testimonial atau kesaksian.
Di sini biasanya seseorang memberi kesaksian tentang temannya. Dan
berdasarkan pengamatan penulis, jarang sekali didapati isi testimonial
itu berupa hal-hal yang buruk, umumnya adalah pujian-pujian yang bisa
melenakan si penerima. Terlepas pujian itu jujur atau bohong, yang
jelas PUJIAN sudah dilontarkan dan si penerima meng-approvenya.

Ketika seseorang menerima testimonial, tentu
sebelumnya ia sudah mengetahui isinya. Lantas, layakkah pujian itu
ditampilkan di depan khalayak? Apatah lagi bila sampai mengoleksinya!
Mengoleksi pujian� Astaghfirullah, ya Rabbi�, sungguh bisa membuat hati
kotor. Rasulullah saw bersabda, �Taburkanlah pasir ke wajah orang yang
suka memuji-muji.� Mintalah fatwa pada hatimu, tentu engkau rasakan
kegelisahan karena mengoleksi pujian. Cukuplah amal-amal itu tersiar di
kalangan penduduk langit saja.

Itulah yang harus dilakukan dari sisi si penerima
pujian. Sedangkan dari sisi si pemberi pujian, �Seorang memuji-muji
kawannya di hadapan Rasulullah saw, lalu beliau berkata kepadanya,
�Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang).�
(HR.Ahmad)

Mengapa dikatakan �memenggal leher’? Karena
hakekatnya, pujian itu bisa melenakan si penerima. Bila tak kuat iman,
pujian bisa membuatnya ujub (bangga diri), riya (ingin dipuji), sum’ah
(ingin kebaikannya tersiar), sehingga hapuslah pahala-pahalanya dan
membuatnya masuk neraka. Bayangkan, saudara kita yang semula telah
sejengkal lagi memasuki surga menjadi terhempas ke neraka akibat ujub,
riya, dan sum’ahnya muncul ke permukaan. Dan itu disebabkan pujian
kita. Karena itu kasihanilah saudaramu, alangkah baiknya bila kita
mengisi testimonial itu dengan tausiah (nasehat) kepadanya. Ini akan
lebih menjaga saudara kita. Cukuplah pujian dan wujud kekaguman itu
disimpan dalam hati kita masing-masing hingga akhir perjumpaan kita
dengan-Nya, hingga kemenangan hakiki menuju surga tercapai.

Akhirnya, fenomena Friendster harus disikapi secara
bijaksana dan diarahkan untuk mempererat silaturahim dengan
saudara-saudara kita di seluruh penjuru dunia. Testimonials adalah
bagian dari Friendster, namun bila ternyata testimonial dapat
menjerumuskan saudara kita, adalah lebih baik dihindari. Jika engkau
mencintai saudaramu-saudaramu karena Allah dan inginkan keselamatan
akhirat mereka, please forward this article to them. Jazakumullah.