4 Kunci Rumah Tangga Harmonis
Tuesday, May 29th, 2007Harmonis
adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan
eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa
pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.
Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan
suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri
sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak
tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin
tadi.Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan
kesan dinamis, gairah, dan hangat.Seperti itulah seharusnya rumah
tangga dikelola.
Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada
karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun
manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba
sempurna.Pasti ada kelebihan dan kekurangan.
Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang
indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi
rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.
Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling
berpadu.Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada
tinggi.Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan
dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.
Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah
tangga.keempatnya adalah:
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah.
“Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?
” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.Langkah itu sama sekali tidak
akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan
yang bermula dari
masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut,
tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi.
Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke
belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan
kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran
kita.
2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak
terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi
sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah
tangga tidak secara utuh.
Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika
dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak
yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu
dibenahi.Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan
disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang
tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini
terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri
bawel, materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa
disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak
tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa
sekaligus melatih kemandirian anak-anak.
3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya.
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan
kita.Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang
dimiliki.Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita
meletakkan sudut pandangnya. Mungkin secara materi dan fisik, pasangan
kita mempunyai banyak kekurangan.
Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya
berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang
tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.Berarti, ada satu
atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita.
Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah
sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi
Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala
kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita
miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.
4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga
adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau
menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru
di situlah nilai pahala yang Allah janjikan. Ketika masalah nyaris
tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik
masalah, Allah swt.
Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di
balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita
hadapi.Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa
jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat
ringan.Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya
Allah..
Microsky - Myquran.org
