Archive for May, 2007

4 Kunci Rumah Tangga Harmonis

Tuesday, May 29th, 2007

Harmonis
adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan
eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa
pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan
suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri
sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak
tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin
tadi.Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan
kesan dinamis, gairah, dan hangat.Seperti itulah seharusnya rumah
tangga dikelola.

Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada
karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun
manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba
sempurna.Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang
indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi
rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling
berpadu.Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada
tinggi.Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan
dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah
tangga.keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah.

“Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?
” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.Langkah itu sama sekali tidak
akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan
yang bermula dari
masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut,
tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.
Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi.

Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke
belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan
kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran
kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak
terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi
sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah
tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika
dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak
yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu
dibenahi.Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan
disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang
tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini
terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri
bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa
disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak
tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa
sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya.

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan
kita.Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang
dimiliki.Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita
meletakkan sudut pandangnya. Mungkin secara materi dan fisik, pasangan
kita mempunyai banyak kekurangan.
Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya
berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang
tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.Berarti, ada satu
atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita.

Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah
sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi
Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala
kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita
miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga
adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau
menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru
di situlah nilai pahala yang Allah janjikan. Ketika masalah nyaris
tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik
masalah, Allah swt.

Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di
balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita
hadapi.Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa
jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat
ringan.Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya
Allah..

Microsky - Myquran.org

 

Kenapa Harus Menikah…..?!

Tuesday, May 29th, 2007

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa  memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.
1.  Melengkapi agamanya

“Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari
agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang
separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri

“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk
nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan
pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang
tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat
membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy,
Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda  guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah
merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat
(perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda,
berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al
Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup  berkeluarga merupakan ladang meraih pahala

4. Bersetubuh dengan istri  termasuk sedekah

Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai
Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat
sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami
berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu
yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat
sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap
ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat
sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah
perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun
sedekah.

” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari
kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab,
“Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada
tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab
perbuatannya itu?” (Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,)

“Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang
halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan
beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah
sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan
shalat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa  mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik

“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam
Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala
orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun.
Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam
Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa
orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR.
Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan
kebaikan atau kejahatan.)

Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi
contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan
anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga
memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?

8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan
pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang
paling utama. Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu
dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu
nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada
orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka
yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada
keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah
terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang
dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk
kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu
teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin
Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya
daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah
nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan
menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:
‘Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara
kami?” Beliau menjawab dengan bersabda, “Berilah makan bila kamu makan
dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan
wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya
kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya,
sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau
hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani
hal 249).

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami
tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
“Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari
keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang
kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush
Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka
orang yang harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku
Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.”  (Saba’: 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi
ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya
Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya.” Dan
yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR.
Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap
keluarga).

9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti  ikut memelihara anak yatim

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi  mereka yang menikah.

1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan
mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi
Maha Mengetahui. (An Nur: 32)

2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu
seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya
supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara
kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits
no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Arti Sebuah Nama….

Tuesday, May 29th, 2007

 

Memberi
nama anak, di dalam Islam mendapat perhatian yang cukup besar. Karena
nama merupakan identitas diri dan sarana untuk saling memahami dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Nama, bagi seorang bayi yang
dilahirkan merupakan hiasan, tumpuan dan sekaligus syi’ar yang
dengannya ia dipangggil ketika di dunia maupun di akhirat. Rasulullah
saw sering mengganti nama seseorang yang baru masuk Islam, jika
sebelumnya nama orang tersebut tidak baik di dalam pandangan Islam.

Beberapa masalah Seputar Nama

Pentingnya nama dan pengaruhnya terhadap anak, orang tua dan ummat.
Nama, yang dalam bahasa Arabnya adalah ism, menurut sebagian orang
merupakan bentukan dari kata wasm yang berarti tanda (’alamah). Maka
dengan nama seseorang dapat diketahui dan dia menjadi tanda bagi yang
bersangkutan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman :

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan
(beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum
pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. 19:7)

Sebagian yang lain mengatakan bahwa ia berasal dari kata as sumuw
yang berarti tinggi. Maka nama adalah merupakan tanda yang
menggambarkan ketinggian atau kaluhuran seseorang yang memiliki nama
tersebut.

Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi yang
terlahir, merupakan ciri spesifik yang membedakan dia dengan orang
lain. Nama adalah yang pertama dilakukan seorang ayah terhadap bayi
sebagai tanda pewaris dan penerus regenerasi. Nama juga merupakan
sarana pertama bagi manusia untuk terjun di kancah masyarakat.

Nama meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi memiliki nilai
yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga
nama daripada hartanya, jangan sampai namanya direndahkan, ditentang
atau dimusuhi.

Islam sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan nama yang
baik, karena pada umumnya nama memiliki pengaruh terhadap seseorang
yang memilikinya, dalam baik ataupun buruknya. Dia merupakan cerminan
pemikiran orang tua, apakah dia seorang yang selamat dan mengikuti
petunjuk Nabi saw atau memiliki pemikiran- pemikiran yang tercemar dan
bahkan menyimpang.

Nama yang baik akan memberikan kepuasan bagi seorang anak. Ketika
anak memasuki usia banyak bertanya (antara 5 hingga 7 tahun) terkadang
mereka melontarkan pertanyaan, “Mengapa ayah memberi nama aku demikian?
Apa artinya?

Alangkah bahagianya sang ayah kalau dia memberi nama yang baik,
sehingga dia dapat memberikan jawaban yang menyenangkan buat sang anak.
Namun kalau ternyata nama yang dia berikan adalah buruk maka terbukalah
kebodohan dan kedangkalan pemikirannya di hadapan sang anak. Dan nama
baik yang diberikan kepada anak merupakan salah satu pendidikan paling
dini untuk mereka. Ketika seorang anak tahu bahwa namanya adalah
sesuatu yang mulia dan tinggi, maka dia akan bercita-cita setinggi dan
semulia namanya sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua.

Maka ada benarnya ungkapan sebagian orang, “Katakan siapa namamu,
maka aku akan tahu siapa ayahmu.” Artinya dengan mengetahui nama
seorang anak maka dapat diterka bagaimana sifat, pemikiran dan gaya
hidup orang tuanya.

Waktu Pemberian Nama

Ada tiga waktu yang disunnahkan dalam memberikan nama anak, yaitu:

  • Memberi nama bayi pada saat dia dilahirkan.
  • Memberinya nama dalam masa tiga hari setelah kelahirannya.
  • Memberi nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya.

Perbedaan ini masuk dalam kategori tanawwu’ (variasi), sehingga kita dapat memilih mana saja yang kita kehendaki, alhamdulillah.

Memberi Nama Adalah Hak Ayah

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa yang lebih berhak memberi nama
seorang anak adalah ayah. Jika ada perbedaan atau perselisihan antara
ayah dengan ibu maka yang berlaku adalah panamaan dari ayah. Seorang
ibu jika kurang setuju hendaknya mengajak musyawarah dengan baik,
dengan penuh kelembutan dan jalinan kasih.
Boleh juga minta dicarikan nama kepada orang yang terpercaya dalam
agamanya (shalih) agar memilihkan nama yang sesuai dengan sunnah.
Banyak diantara shahabat yang menghadap Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
serta meminta beliau agar memberi nama untuk anak-anak mereka.

Anak Dinisbatkan Kepada Ayah

Sebagaimana pemberian nama adalah hak ayah maka penisbatan anak juga
kepada ayahnya. Dia dipanggil dengan menisbatkan kepada ayahnya, bukan
kepada ibunya, misalkan fulan bin fulan bukan bin fulanah, kalau anak
perempuan fulanah binti fulan, demikian pula dalam panggilan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,artiya,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama
bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.”
(al-Ahzab:5)

Memilih Nama Yang Baik

Seorang ayah wajib memilihkan nama yang baik untuk anaknya, dari
segi lafal maupun maknanya, serta masih dalam koridor syara’. Diantara
ciri nama yang baik adalah: Indah, sejuk di lisan, enak didengar,
mengandung makna yang mulia dan sifat yang benar dan jujur, jauh dari
segala makna dan sifat yang diharamkan atau dibenci agama seperti nama
asing yang tak jelas, tasyabbuh dengan orang kafir serta segala yang
memiliki arti buruk.

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “Merupakan hak seorang anak
terhadap ayahnya adalah memilihkan untuknya ibu yang baik, memberinya
nama yang baik dan mewariskan kepadanya adab (pendidikan) yang baik.”

Tingkatan Nama Yang Dicintai

Tingkatan nama yang dicintai Allah serta dibolehkan dalam Islam adalah sebagai berikut:

  • Abdullah dan Abdurrahman, berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiallaahu
    anhu yang diriwayatkan oleh imam Muslim. Dan tak kurang dari tiga ratus
    shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang memiliki nama Abdullah.
  • Abdun (penghambaan)yang disambungkan dengan Asam’ul Husna selain
    yang tersebut di atas, seperti Abdul Aziz, Abdul Malik, Abdul Majid dan
    sebagainya.
  • Nama-nama nabi dan rasul, karena mereka adalah penghulu bagi umat
    manusia dan merupakan orang-orang mulia serta terpilih. Nabi
    Shalallaahu alaihi wasalam juga pernah memberi nama sebagian shahabat
    dengan nama para nabi sebelum beliau.
  • Nama orang-orang shalih, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari
    al-Mughirah bin Syu’bah Radhiallaahu anha bahwasanya Rasulullah
    Shalallaahu alaihi wasalam biasa memberi nama dengan nama para nabi dan
    orang shalih sebelum beliau. Termasuk pemuka shalihin adalah para
    shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, Tabi’in dan para imam kaum
    muslimin.
  • Segala nama yang mencerminkan kejujuran dan kebaikan manusia.

Nama-Nama Yang Dilarang

Diantara-nama-nama yang dilarang adalah sebagai berikut:

  • Segala nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah,
    seperti Abdul Ka’bah, Abdusy Syamsi (hamba matahari), Abdul Husain dan
    lain-lain.
  • Memberi nama dengan nama-nama Allah, seperti Arrahman, al Khaliq, dan semisalnya.
  • Nama-nama a’jam yang berasal dari orang kafir dan merupakan ciri
    atau kekhususan mereka. Ini banyak menimpa kaum muslimin saat ini,
    mereka banyak mengimpor nama-nama kafir dari Eropa dan Amerika seperti
    Petrus,George,Diana,Suzan dan sebagainya.
  • Nama-nama patung atau berhala yang disembah selain Allah seperti Latta, Uzza, Hubal, (Brahma, Wisnu, Syiwa-pen).
  • Nama klaim dusta, mengandung unsur kebohongan yang berlebihan,
    mentazkiyah (menyucikan) diri . Diantara contoh nama yang masuk
    kategori ini adalah Malikul Amlak (Muluk), Sulthanus Shalatin,
    Syahinsyah, yang semuanya memiliki arti hampir sama yaitu raja diraja.
    Juga nama Hakimul Hukkam yang artinya hakim dari segala hakim.
  • Nama-nama setan dan iblis, hal ini sebagimana yang dikatakan Imam Ibnul Qayim.

Nama-Nama Yang Makruh

  • Nama yang membuat lari dan ngeri hati seperti Harb (perang), Murrah
    (pahit), Khanjar (pisau belati). Juga nama-nama yang memiliki makna
    penyakit seperti Suham (penyakit unta), Suda’(pusing), Dumal (bisul).
  • Nama-nama yang mengundang syahwat, terutama bagi para wanita,
    seperti Fatin atau Fitnah (dengan kecantikannya), Syadiyah (penyanyi
    dengan suara merdu).
  • Nama-nama orang fasiq, artis atau bintang film, penyanyi dan pemusik.
  • Nama yang menunjukkan makna dosa atau maksiat seperti zhalim, sariq
    (pencuri). Juga nama yang tidak diminati masyarakat karena buruk,
    seperti Kannaz (penumpuk harta), Bakhil dan semisalnya.
  • Nama-nama binatang yang dikenal buruk seperti Khimar (keledai), Kalb (anjing),Hanasy (lalat),Qunfudz (landak) dan lain-lain.
  • Nama-nama dobel seperti Ahmad Muhammad, Said Ahmad dan semisalnya,
    karena -dimasyarkat Arab- menjadikan bingung disebabkan adanya unsur
    iltibas (ketidakjelasan).
  • Sebagian ulama juga membenci pemberian nama dengan nama-nama malaikat, seperti Jibril, Mikail, Israfil dan lain-lain.
  • Sebagian ulama juga memakruhkan pemberian nama dengan surat-surat dari al-Qur’an seperti Thaha, Hamim, Yasin.
    Adapun yang tersebar di masyarakat bahwa Thaha atau Yasin adalah nama
    lain untuk Nabi Muhammad saw, maka itu sama sekali tidak benar. Ini
    sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah di dalam kitab
    “Tuhfatul Maudud” hal 109.

Sudah saatnya kaum muslimin menyadari pentingnya nama yang baik dan
islami. Karena nama-nama yang baik insya Allah akan memberikan pengaruh
yang baik pula bagi pribadi, keluarga dan masyarakat. Tidak ada
salahnya jika seseorang yang terlanjur memiliki nama atau memberi nama
yang buruk, nama kufur dan nama syirik, segera menggantinya dengan
nama-nama yang dianjurkan atau dibolehkan dalam Islam. Mengganti nama
yang buruk dengan nama yang baik merupakan sunnah yang pernah dilakukan
oleh Nabi saw. Wallahu a’lam.

Diringkas dan disadur dari kitab “Tasmiyatul maulud” Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid.

..:: Fenomena The Secret ::..

Sunday, May 27th, 2007

    
       
         

       
    
      

   

   

   

Fenomena The Secret
Antara harapan dan kepastian 100%.

Fenomena
dan jalan kehidupan memang susah diterka. Akan tetapi banyak juga
kaidah klasik seperti ‘kehidupanmu ada pada genggamanmu’ kemana jalan
yang mau ditempuh tergantung kekuatan individu untuk meng’create’
sesuai selera masing-masing dalam hidupnya.

Dalam kajian-kajian kita juga sering mendengar jurus-jurus ampuh semacam
(maaf tulisan Arab sebisanya, tolong dibenarkan kalo salah)

1. Ud’unii Astajib lakum (mintalah kepadaku maka akan aku kabulkan)
2. InsyaAllah
3. La Yughoyyiru ma biqoumin hatta yughoyyiru ma bianfusihim
4. Lain Syakartum la aziidannakum wa lainkafartum inna adzaabii lasyaddiid

Di point pertama anda sudah diberi garansi oleh yang maha Agung
‘Berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan untukmu’
mari kita perhatikan akankah diri kita punya keyakinan 100% akan kaidah ini.

Sebuah pertanyaan dan tantangan:
Apakah
kita berani dan yakin untuk berdo’a bila akhir tahun 2008 bisa memiliki
rumah sendiri,beli mobil secara ‘cash’ atau mendapat income 10x lipat
dari gaji bulanan yg kita dapat saat ini ? dan benar terjadi?

Keyakinan kedua kita diuji dengan ucapan InsyaAllah.
Banyak
dari kita yang salah arti dengan jurus maut ini…seakan-akan bila kita
berucap InsyaAllah adalah cara kita untuk merasa tak yakin akan sesuatu
hal. Padahal didalamnya terkandung suatu makna akan keyakinan untuk
99.99% benar-benar terjadi atas kuasa Sang Peramu Jagad. Yang Maha
Pasti.

Sedang jurus di point ketiga kita semua tahu sesuatu hal
tak akan berubah bila kita tak mau merubahnya sendiri. Sekuat tenaga
dan keyakinan mutlak akan membuahkan hasil yang optimal sesuai hukum
sunnatullah yang kalo orang barat mengatakan hukum tarik-menarik di
alam semesta.

Didalam buku The Secret dan Attractor Faktor saya menemukan suatu hal yang luar biasa
bagaimana
tidak mereka (orang barat) sebenarnya menerapkan jurus-jurus yang
sebenarnya telah kita ketahui ribuan tahun sejak Dienul Islam lahir
tapi 100% belum mengakar menjadi keyakinan kuat yang mumpuni dalam
pribadi muslim.

-Keyakinan kita seolah masih ompong.
-Mengambang.
-Atau masih sebatas hiasan hidup sehari-hari.

* Inti dari Fenomena The Secret
Oke, saya akan cerita sedikit mengenai sebuah rahasia hukum tarik-menarik.
Beberapa unsur dan rahasia yang diungkap dalam buku The Secret (sebenarnya sederhana) adalah:

1. Meminta / doa
Anda
harus menuliskan dengan kuat & penuh perasaan apa yang anda
inginkan. Anda tak perlu berpikir apakah hal yang anda inginkan dapat
terlaksana dengan kondisi anda saat ini. Jangan hiraukan keadaan itu
namun selalu kondisikan kemakmuran hidup dan sugesti positif dalam
pikiran. Biarkan alam yang meramu dan bekerja untuk yang terbaik bagi
anda.

2. Menerima
Bila anda sudah meminta maka anda harus
yakin hal itu akan terjadi. Berlaku seolah-olah hal yang anda inginkan
sudah terjadi. Untuk menguatkan keinginan anda maka anda diajak
memvisualisasikan apa yang anda minta telah terjadi.

Saat mencerna makna visualisasi saya teringat akan suatu hadist yang intinya berbunyi
"Sholatlah
dengan khusyuk dalam arti seolah-olah engkau melihatku dan bila kau tak
mampu maka buatlah seakan Aku melihatmu" Dalam konsep ini saya
memadukan bahwa visualisasi itu bisa berbentuk objek atau perasaan yang
benar-benar kuat,ada dan seakan telah terjadi.

3. Mensyukuri & terima kasih
Apapun
yang ada saat ini atau akan datang sikap syukur harus dilakukan.
Semakin banyak anda bersyukur semakin banyak rejeki yang akan datang
kepada diri anda. Saya penasaran dan kagum saat membaca ada orang barat
yang untuk mempraktekan cara brillian ini untuk menerapkan proses
syukur agar kelimpahan rejeki ia mempraktekkan dengan cara berikut:

"Saat
bangun tidur sebelum berdiri ia mengucapkan kata terima-kasih, saat
kaki yang satu menyentuh lantai ia berucap terima-kasih, kaki kedua
berucap terima kasih, saat duduk berucap terima-kasih, lihat dicermin
berucap terima kasih, mau menggosok gigi terima-kasih saat habis mandi
berucap terima kasih…dst..dst.. Ia beranggapan sudah sepatutnya ia
berlaku demikian untuk memulai hari dengan sebaik mungkin untuk hasil
akhir yang terbaik dihari itu"

Coba bayangkan bila anda seorang muslim dan ucapan terima kasih itu sepadan dengan
‘Alhamdulillah’ dan anda meniru cara orang tersebut tersebut melakukannya,
wah… saya kira kehidupan anda akan luar biasa.. kemudahan hidup akan
selalu berpihak mendampingi kehidupan anda selamanya.

4. Kecepatan
Ternyata
uang/kesempatan mempunyai ciri sifat senang akan kecepatan. Ya..,kita
harus siap untuk menangkap segala hal peluang yang menghampiri kita
setiap saat. Ingat rumus yang pertama, alam akan bekerja dengan cerdas
sesuai keinginan yang anda dambakan. Maka saat berkah itu datang kepada
anda maka segeralah bereaksi secepatnya. Tangkap energi positif itu dan
segera tindak lanjuti karena barangkali disitulah kita menemukan
berkahnya.

Uraian diatas bukan hanya sebatas mendapatkan kelimpahan kekayaan namun juga bisa
kesehatan, keharmonisan keluarga tetapi juga untuk mendapatkan pendamping yang dicita-citakan.

Selamat berbenah membongkar keyakinan, MUTLAK!
Membangun kekuatan doa agar 100% terkabulkan.
Berlimpah uang, kaya batin, bahagia dan selalu bersyukur.
Mulai detik ini!

Salam dariku
***
~Temukan fenomena the secret didalam diri anda~
~Sebodoh-bodohnya kita pasti ada kekuatan tersembunyi~
~Bangunkan mulai hari ini untuk masa depan lebih baik~

Bidadari Impian-Ku….

Sunday, May 27th, 2007

Kutatap mata mempesona
Kurasakan kehangatan mengalir di simpul-simpul syarafku
Aduhai,bahagia rasanya

Tatakala kau hadir, tak kuasa kutatap wajahmu
Energi kasihmu menguatkan nafas kehidupan
Mengalirkan jala penerang membentang tapak langkahku

Kesetiaanmu
Kehadiranmu
Kan kunanti
Sepanjang jalan, sepanjang hari, sepanjang hidupku

PAHALA KAUM HAWA DI AKHIRAT

Sunday, May 27th, 2007

Ada
seorang wanita yang bertanya kepada ulama saudi tentang pahala
perempuan di akhirat. Berikut pertanyaan dan jawabannya. Pertanyaannya:
Ketika saya membaca alquran saya menemukan rndalam berbagai ayat
memberikan berita gembira kepada laki-laki yang beriman rndengan
bidadari yang sangat cantik, apakah perempuan mempunyai teman atau
rnpasangan selain suaminya karena sebagian besar pernyataan mengenai
pahala di rnakhirat ditujukan kepada laki-laki yang beriman ? apakah
pahala bagi perempuan rnyang beriman lebih sedikit daripada yang
diperoleh laki-laki yang beriman ?” rn

Jawaban dari para ulama :
Tidak
ada keraguan sedikitpun bahwa pahala di akhirat nanti rndiberikan
kepada laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan firman Allah : rn
”Sesungguhnya
Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu
baik laki-laki maupun perempuan” (QS Al Imran : 195)

”Dan
barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik” (QS An nahl : 97)
”Dan barangsiapa yang
mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia
orang beriman, mereka itu akan masuk surga”
(QS an nisa’ : 124)

”Sesungguhnya
laki- laki dan perempuan muslim laki-laki dan perempuan yang beriman
…hingga…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar” (QS Al ahzab : 35)

Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan
bahwa mereka laki-laki dan perempuan, masuk surga bersama-sama, ‘Mereka
dan isteri-isteri mereka terdapat di tempat yang teduh” (QS Yasiin :
56)

”Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri isteri kamu digembirakan” (QS Al Zuhruf : 70)

Allah juga menyebutkan bahwa dia akan menciptakan perempuan dengan penciptaan khusus :
”Sesungguhnya
kami menciptakan mereka (para bidadari) dengan penciptaan yang khusus
dan kami jadikan mereka perawan (QS Al Waqiah : 35-36)

Keterangan
di atas menyebutkan bahwa Allah akan menciptakan kembali perempuan yang
sudah tua menjadi bidadari, dan membuat mereka perawan, begitu juga
laki-laki yang sudah tua akan diciptakan kembali menjadi pemuda dan
beberapa hadits ditunjukkan bahwa perempuan yang masih hidup mempunyai
kelebihan dari bidadari karena peribadatan dan kepatuhan mereka.

_______________________________
Diambil dari Fatwa-Fatwa Masalah Wanita
Team fatwa : Ibn Baz, Syaikh Ibn Utsaimin, Syaikh jibrin

Meletakkan Harapan..

Sunday, May 27th, 2007

Pernah datang seseorang dan bercerita
kepada Hasan Al-Bashri r.a. tentang suatu kaum yang mengatakan: “Kami
mengharap kepada Allah”, sedang mereka itu menyia-nyiakan amal. Lalu
Al-Bashri menjawab, “Amat jauh, amat jauh yang demikian itu. Itu adalah
angan-angan mereka yang mereka berpegang padanya!” Beliau kemudian
berwasiat, “Barangsiapa mengharapkan sesuatu niscaya dicarinya, dan
barangsiapa takut kepada sesuatu niscaya ia lari daripadanya.” Demikian
dikisahkan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Terpedaya, Ihya ‘Ulumuddin.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa takut dan harap (khauf wa raja’) merupakan dua panglima dan penghela yang dapat membangkitkan manusia kepada amal. Khauf membawa kita pada ketaatan, dan raja’ membawa kita kepada amal. Tentunya khauf dan raja’–yang
selanjutnya akan dibahas–ini memiliki berbagai tingkat dan derajat,
sesuai dengan keadaan manusianya dan tingkat pengetahuan (ma’rifah) mereka kepada Allah. Namun, sebagaimana Ihya ‘Ulumuddin dimaksud untuk pembahasan persoalan mu’amalah, Imam Al-Ghazali kemudian mengemukakan dua keutamaan harapan.

Pertama,
pada diri orang yang terjerumus dalam kehidupan maksiat lalu terguris
dalam hatinya keinginan untuk bertaubat. Harapan mencegah dirinya
berputus asa dan menguatkan dirinya bahwa Allah mengampunkan segenap
dosa. Firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah! Hai,
hamba-hamba-Ku yang melampaui batas mencelakakan dirinya sendiri,
janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah; sesungguhnya Allah
mengampuni segenap dosa! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha
Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu!
[Q.S. Az-Zumar: 53-54].

Kedua, pada diri orang-orang yang lemah dengan amal-amal fadhilah dan hanya mencukupkan diri dengan amal-amal wajib. Harapan membuatnya bangkit untuk memperoleh ni’mat Allah yang diperoleh oleh mereka yang berada di shirat al-mustaqim–sebagaimana yang kita pinta setiap rakaat shalat saat membaca Al-Fatihah–seperti difirmankan dalam Al-Quran:

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Ar-Rasul, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang Allah anugrahi ni’mat, yaitu nabi-nabi,ash-shiddiqin, asy-syuhada dan ash-shalihin“[Q.S. An-Nisa: 69].

Sehingga dengan harapan itu tergeraklah diri kepada amal-amal fadhilah.

Bila harapan pertama mencegah keputusasaan dari jalan taubat
dan harapan kedua menghela kelemahan kepada kerajinan dan kekekalan
amal, maka tiap-tiap yang mengakibatkan seseorang menyepelekan
amal-amal batil dan membawa kelemahan kepada amal adalah “angan-angan”
belaka, dan angan-angan bukanlah harapan. Inilah salah satu rahasia
keterpedayaan (ghurur) yang diungkap Imam Al-Ghazali.

Dalam sebuah Hadits Qudsi ada disebutkan:

Aku adalah pada sangkaan hamba-Ku kepada-Ku; maka hendaklah ia menyangka kepada-Ku dengan sangkaan yang baik“.

Tapi
ini bukan berarti kita boleh berbuat sesuka hati dan berleha-leha dari
amal dan mencukupkan diri dengan sangkaan bahwa Allah Maha Pengampun
dan Maha Merahmati, lalu mengatakan bahwa dirinya mengharap kepada
Allah.

Nabi SAW sendiri menyingkapkan persoalan ini, sebagaimana sabdanya:

Orang
pintar ialah mereka yang mengagamakan dirinya dan beramal untuk sesudah
mati. Dan orang bodoh ialah mereka yang mengikutkan dirinya kepada
hawa-nafsu dan berangan-angan kepada Allah
“.

Begitu
juga dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang-orang yang mengharap rahmat
Allah ditunjukan dengan keimanan, hijrah dan jihad mereka, sebagaimana
firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan orang-orang yang hijrah serta berjihad di jalan Allah,
mereka itulah yang mengharap rahmat Allah
” [Q.S. Al-Baqarah: 218].

Imam
Al-Ghazali memberikan suatu perumpamaan yang indah bagaimana semestinya
kita meletakan harapan. Diceritakan seorang petani yang berharap dapat
menuai hasil yang baik dan melimpah dari ladangnya. Maka kemudian
petani itu membajak tanahnya, juga dipilihnya bibit yang terbaik untuk
ditanam di ladangnya. Sepanjang musim petani tersebut senantiasa
bekerja dengan seksama, memberi pengairan dan pupuk yang cukup bagi
tanahnya, merawat tanamannya dari segala penyakit dan mencegahnya dari
binatang yang dapat merusak. Maka disinilah letaknya harapan untuk
menuai jerih upayanya dan petani itu juga masih memiliki rasa takut
bahwa panennya akan gagal.

Demikian pula halnya dengan
orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan meninggalkan
perbuatan-perbuatan keji, ia diliputi perasaan takut dan harap. Takut:
bahwa amalnya tidak diterima dan ia tidak kekal dalam amal itu, dan ia
mendapatkan su’ul-khatimah. Harap: bahwa ia mengharap Allah
Ta’ala menetapkan, menguatkan dan memelihara agamanya, serta menjaga
hatinya dari kecenderungan hawa-nafsu dan syahwat sepanjang sisa
hidupnya.

Di sinilah harapan–dan takut–menjadi panglima yang
membawa manusia kepada taat (taubat) dan membangkitkan kepada amal.
Maka, sebagaimana diungkap dalam kisah Hasan Al-Bashri di atas, apa-apa
yang membawa diri kepada keputusasaan dari jalan taubat, menyepelekan
tindakan batil, melemahkan dan mencegah dari kekekalan amal bukanlah
harapan, melainkan angan-angan. Dan barangsiapa yang mengikuti
angan-angan maka ia terpedaya.

Dalam Al-Quran disebutkan:

“…Akan
tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menanti-nanti serta ragu,
dan kamu terpedaya oleh angan-angan kosong sehingga datang
amr Allah; dan kamu telah terpedaya terhadap Allah oleh pendaya (al-ghurur)” [Q.S. Al-Hadid: 14].

MENEGUR PERILAKU MENGHARGAI PELAKU

Tuesday, May 22nd, 2007

“Dasar bandel!
Dasar anak nakal! Sudah dibilangi kalau minta susu ya diminum, dihabisin. Nggak
malah ditumpahkan ke lantai seperti itu! Susu itu mahal!” Seorang ibu
uring-uringan memarahi Fifi, anaknya yang baru berusia 3 tahun. Bagaimana ia
tidak jengkel, bila lantai yang baru saja dipel kini kotor lagi oleh tumpahan
susu si kecil. Si kecil pun diam sambil menatap wajah ibunya yang kecapekan.

 

Sementara
seorang ayah memarahi Latif, anaknya yang kelas satu SD,  setelah dilapori
wali kelasnya bahwa anaknya itu ketahuan mencuri uang temannya. “Kecil-kecil
sudah jadi pencuri! Mau jadi apa kamu kalau besar nanti?” Katanya sambil
berkacak pinggang.

Memang,
mendidik anak memerlukan kesabaran ekstra.

Ada

kalanya orang tua kehilangan kontrol saat kondisi fisiknya
lelah atau emosinya tidak stabil. Kata-kata makian terhadap anak seperti
bandel, nakal, badung, dan sebagainya, seringkali meluncur tanpa dapat ditahan.
Padahal, makian atau celaan seperti itu akan sangat menjatuhkan harga diri anak
dan berakibat buruk bagi perkembangannya.

 

Mencerca
Pribadi Hancurkan Harga Diri

Dalam masa
perkembangannya semenjak lahir, setiap anak belajar menilai segala sesuatu.
Begitu juga yang terjadi pada persoalan penilaian diri. Setiap anak akan
menilai dan memandang seperti apa keadaan dirinya sendiri sesuai dengan cara
pandang orang tuanya terhadap diri si anak.

Apabila
pribadinya sering dicerca dengan julukan-julukan burukseperti anak nakal,
bengal, tak tahu aturan, pencuri, bodoh, pemalas, dan sejenisnya, maka akan
terbentuk keyakinan dalam diri anak bahwa memang seperti itulah sebenarnya
taraf kepribadiannya. Selanjutnya ia akan merasa wajar jika berbuat nakal, toh
ayah ibu menyebutnya ‘anak nakal’.

Perkembangan
buruk seperti ini bila diteruskan akan sampai pada tahap di mana anak akan
selalu berusaha berperilaku sesuai anggapan terhadap kepribadiannya tersebut,
sehingga ia akan merasa tak pantas jika berbuat baik, yang notabene menyalahi
keyakinannya sebagai anak nakal dan bengal tersebut.

Sampai tahap
ini perilaku anak bisa jadi sangat membuat orang dewasa terheran-heran, sebab
ia sudah tak mempan lagi diberi nasihat dan motivasi untuk mau berbuat baik,
kecuali jika perbaikan dimulai dengan mengubah cara pandangnya yang keliru
dalam menghargai pribadinya sendiri. Sungguh ini sebuah perbaikan yang sulit
untuk dilakukan.

Begitulah
kenyataannya, bahwa setiap orang membentuk kepribadian sesuai dengan cara
pandangnya terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, akan sangat fatal akibatnya
jika dalam masa perkembangan anak diberi contoh untuk menilai dirinya dengan
sebutan dan panggilan yang buruk.

Anak tetap
anak, sekalipun perilakunya buruk. Yang buruk adalah perilakunya, sementara
pelakunya tetaplah anak baik. Jika patut dibenci, maka perilakunya yang harus
dikutuk, bukan pelakunya. Sang anak sebagai pelaku tetap berhak untuk dicintai,
disayangi, dan dihargai.

 

Jika Anak
Salah, Tegur Perilakunya

Ketika
seorang anak berbuat kesalahan, orang tua harus menegur ‘perilaku’ tersebut,
tanpa mencela pelakunya. Anak harus mengerti letak kesalahannya. Ia harus
mengerti betul bahwa orang tuanya marah, kecewa dan membenci perilaku yang baru
saja dilakukannya, bukan marah dan membencinya.

Agar anak tahu
bahwa orang tuanya tidak menyukai perilakunya, maka sebaiknya orang tua menunjukkan
perasaan kecewa, marah dan ketidaksukaannya dengan sejelas-jelasnya. Bisa
dengan mimik wajah yang penuh emosi, bisa pula dengan kata-kata yang keras.

Kembali pada
kedua contoh kasus di awal tulisan ini,  untuk Fifi yang menumpahkan
susunya, akan lebih baik bila ibu marah dengan menegur perilakunya. “Fifi,
sudah ibu bilangi berkali-kali kalau menumpahkan susu itu jelek! Itu perbuatan
mubadzir! Susu itu harganya mahal!”

Sedangkan untuk kasus Latif, akan lebih baik bila ayah
tidak menyebutnya sebagai pencuri. “Latif, kamu  

kan

tahu mencuri itu perbuatan buruk?
Dosa! Kenapa kamu melakukannya? Kalau butuh uang, bilang sama ayah, jangan
mencuri milik orang lain!”

Kedua contoh
tersebut sudah dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dirasakan oleh ayah
dan ibu. Tujuannya agar anak mengerti perasaan orang tua tentang perilaku anak
yang buruk itu. Di sisi lain diharapkan dalam diri anak sendiri akan timbul
perasaan yang tidak enak menghadapi kemarahan orang tuanya.

 

Cukup
Sekali Saja

Teguran orang
tua cukup dinyatakan sekali saja, anak sudah bisa memahami perasaan orang
tuanya. Bila pernyataan ini diulang-ulang justru akan menimbulkan kebosanan,
dan anak merasa digurui. Cara mendisiplinkan anak seperti itu tidak efisien.

Banyak orang
tua yang merasa perlu memberi nasihat panjang lebar terhadap kesalahan anaknya,
karena menangkap kesan anak tidak mendengar nasihat yang dikatakan orang tua.
Anak-anak itu berbuat seenaknya, tak mendengar omelan orang tua.Tingkah anak
itu membuat orang tua jengkel dan merangsangnya untuk semakin memperpanjang dan
mengulang-ulang nasihat, semata-mata untuk melampiaskan kejengkelannya.

Sekali lagi,
sikap orang tua sebenarnya cukup dinyatakan sekali, ditunjang ekspresi wajah
tak lebih dari satu menit. Inilah bagian awal dari metode disiplin yang disebut
teguran satu menit.  Selanjutnya, akan tercipta suasana yang tidak
menyenangkan bagi anak. Pada saat ini sebaiknya orang tua diam sejenak agar
suasana yang tidak enak ini benar-benar dirasakan anak. Manfaatkan waktu ini
untuk menarik nafas panjang, seakan telah usai menyelesaikan tugas berat berupa
pengungkapan rasa kecewa atas perilaku anak yang buruk.

 

Selanjutnya,
Hargai Pelakunya

Bagian
berikutnya adalah saatnya menggunakan kebenaran lain selain kebenaran pertama
yang telah dikatakan terlebih dahulu. Kebenaran kedua ini adalah bahwa diri
anak-anak sebagai ‘pelaku’ sebenarnya tetap baik, bahwa orang tua tetap
mencintai sepenuh hati, karena mereka pada dasarnya adalah anak-anak yang
salih.

Bagian kedua
ini harus diucapkan orang tua dengan ekspresi wajah penuh kasih sayang dan
kelembutan. Bila perlu dengan memeluk dan mencium, agar anak bisa langsung
merasakan bahwa bagaimanapun buruknya perilaku mereka, ternyata orang tua tetap
mencintainya. Pernyataan ini pun tidak perlu diulang, cukup sekali saja.

Misalnya, untuk kasus Fifi, setelah ibu marah dan menegur
perilakunya yang buruk, maka sebaiknya ibu membelai kepalanya sambil berkata,
“Fifi

kan

anak salihah, anak pintar. Lain
kali jangan menumpahkan susu lagi ya sayang…”

Demikian juga
untuk kasus Latif. Setelah ayah menunjukkan kemarahannya, alangkah bijaksananya
bila kemudian ia memeluk anaknya itu seraya berkata, “Latif  

kan

anak yang salih…Masa’ anak salih mencuri, nanti jadi temannya setan. Lain kali
jangan diulangi lagi ya….”

 

Kelebihan
Metode Ini

Metode teguran
satu menit mempunyai banyak kelebihan.

Pertama,
melatih disiplin anak-anak untuk bisa meninggalkan perilaku yang buruk. Dalam
setengah menit yang pertama, anak mengerti bahwa tindakannya yang buruk telah
membuat orang tuanya kecewa dan marah. Peristiwa itu akan masuk ke alam
memorinya, selanjutnya memorinya mencatat mana perilaku baik yang disenangi
orang tua, dan mana perilaku buruk yang membuat orang tuanya kecewa dan marah.

Selanjutnya,
dalam setengah menit kedua, anak segera dapat menemukan kembali citra dirinya
yang positif sebagai anak yang baik. Mereka sangat menikmati belai kasih orang
tua dalam selang waktu yang singkat ini. Buahnya, mereka menjadi senang dan
bagga terhadap dirinya sendiri yang baik seperti kata orang tuanya.

Satu hal
penting yang tak boleh dilupakan orang tua adalah semakin anak menyenangi
dirinya sendiri, semakin besar kemauannya untuk berperilaku lebih baik.

Keuntungan
kedua, metode ini bisa digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif antara
orang tua dan anak. Banyak orang tua mengeluh karena tak bisa memahami jalan
pikiran anaknya. Banyak yang tak mengenal anaknya sendiri karena kemacetan
komunikasi. Anak tak pernah mau menyampaikan permasalahan yang ia hadapi kepada
orang tua. Dengan bantuan metode ini, sedikit demi sedikit mulai berkembang
iklim keterbukaan antara orang tua dengan anak. Komunikasi pun menjadi lancar,
akrab dan harmonis. Hal ini bisa terjadi karena keberanian orang tua
menunjukkan perasaan terhadap anak tanpa mencerca. Dalam setengah menit
pertama  menyalahkan habis-habisan perilaku anak yang buruk. Tetapi
setelah itu  menyatakan bahwa diri pribadi anak selalu tetap baik dan
dicintai orang tua.

Memang dalam
praktiknya metode ini agak sulit dilakukan, karena orang tua seolah-olah harus
‘bersandiwara’. Setelah marah-marah harus mengungkapkan rasa  sayang. Yang
pasti, walaupun sulit, tetapi demi perkembangan jiwa anak, tentu metode ini
layak untuk dibiasakan. (Oel)

 

Sumber:
Mendidik dengan Cinta. Irawati Istadi

 

MENGGAPAI CINTA ILAHI

Tuesday, May 22nd, 2007

Cinta adalah suatu hal yang
kebanyakan manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Cinta adalah
sesuatu yang disenangi oleh jiwa. Mendapatkan cinta kasih dari makhluk adalah
menyenangkan, apalagi jika cinta itu datang dari Sang Pencipta.

Cinta Allah kepada hamba-Nya
merupakan perkara yang luar biasa dan besar, karunia yang melimpah dan tiada
bisa diketahui nilainya, kecuali oleh orang yang telah  mencapai ma’rifat
akan Allah.

Jika seorang hamba mengetahui
begitu luar biasanya arti cinta Allah kepada hamba-Nya, pastilah ia akan segera
mencari jalan untuk menggapai cinta agung tersebut.

Inilah tiga hal di antara
beberapa hal yang dapat ditempuh seorang hamba untuk mendapatkan cinta dari
Allah.

 

Tadabbur terhadap Al-Quran

Salah satu amalan yang sangat besar
nilainya untuk mendapatkan cinta dari Allah adalah membaca Al-Quran sambil
merenungkan dan memahami makna serta maksudnya.

Allah berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang
Kami turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh dengan berkah, supaya mereka
memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran bagi orang-orang
yang mau menggunakan akalnya.” (Shaad: 19)

Amalan ini mempunyai tujuan yang
agung dan sangat penting. Tujuan dari tadabbur Al-Quran adalah agar hati
seorang hamba senantiasa disibukkan dengan merenungi arti dari kalimat yang
dibaca, dan dengan indra yang dimiliki, ia menjawab setiap ayat yang dibaca.
Pada setiap ayat yang sesuai, ia berdoa, memohon ampunan, rahmat, serta memohon
perlindungan dari siksa pedih di akhirat kelak.

Tiada suatu amalan yang lebih
bermanfaat daripada membaca Al-Quran dengan tadabbur dan tafakkur. Karena yang
demikian ini telah mencakup seluruh aktivitas mendekatkan diri kepada Allah. Amalan
ini mampu melahirkan cinta, rasa takut dan pengharapan, serta seluruh hal yang
mengakibatkan hidupnya hati. Seandainya orang-orang mengetahui manfaat yang
terkandung di dalam amalan ini, maka pastilah mereka akan terus-menerus membaca
Al-Quran dengan tadabbur dan melupakan aktivitas yang lain.

Membaca satu ayat dengan tadabbur
dan memahami maknanya adalah lebih baik, jika dibandingkan dengan mengkhatamkan
Al-Quran tanpa memahami maknanya. Yang pertama lebih bermanfaat bagi hati,
lebih efektif dalam menggapai keimanan dan mereguk manisnya Al-Quran. Inilah
amalan rutin  para ulama salaf.

 

Amalan Fardhu kemudian Sunnah

Mendekatkan diri kepada Allah
dengan amalan-amalan sunnah setelah yang fardhu merupakan jalan pula untuk
mendapatkan cinta dari Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah berfirman,
‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang untuknya. Tidaklah
hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku cintai daripada
amalan yang Aku fardhukan kepada mereka. Dan  hamba-Ku senantiasa
bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintai
mereka…”(Riwayat Al-Bukhari)

Ibnu Taimiyah berkata bahwa wali
Allah yang benar-benar wali adalah mereka yang beriman dan bertaqwa.
Sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali
Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka
bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.”
(Yunus: 62-63)

Hadits di atas mengandung
kesimpulan bahwa yang menyebabkan didapatinya cinta Allah itu karena
melaksanakan dua perkara. Pertama, melaksanakan segala yang telah difardhukan
oleh-Nya. Sedangkan kedua, mendekatkan diri kepada-Nya dengan mengamalkan
ajaran-ajaran yang telah disunnahkan oleh Rasul-Nya. Allah juga mengabarkan
bahwa melaksanakan amalan fardhu itu adalah lebih Dia cintai.

Hamba yang dicintai Allah itu
senantiasa memperbanyak amalan-amalan sunnah, sehingga derajatnya meningkat
menjadi kekasih Allah. Jika hamba tersebut telah menjadi kekasih Allah, maka
kecintaan Allah kepadanya mengakibatkan lahirnya cinta baru kepadanya yang
lebih besar dari cinta yang pertama.

 

Dzikir

Cara lain untuk menggapai cinta
Allah adalah dengan terus-menerus berdzikir kepada-Nya dalam berbagai keadaan.

Ibnu Rajab dalam Ikhtiyarul Ula
mengatakan bahwa amalan yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada kecintaan
Allah, yang sekaligus merupakan tanda-tanda bagi hamba yang mencintai-Nya
adalah memperbanyak dzikir dengan hati maupun lisan.

Allah berfirman, “Dan ingatlah
Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” (Al-Jumuah: 10)

Di dalam Al-Quran, Allah banyak
menyebutkan dzikir sebagai penyerta amal-amal salih, misalnya salat, puasa,
salat Jumat, haji, dan jihad.

Dzikir kepada Allah ada beberapa
macam, di antaranya adalah mengingat serta memuji Allah dengan menggunakan
nama-Nya serta sifat-sifat mulia lainnya yang melekat pada-Nya, membaca tasbih,
tahmid, takbir, tahlil, dan tamjid, kemudian juga mengingat Allah dengan
menyebutkan hukum, perintah, serta berbagai larangan-Nya.

Tiga amal salih di atas merupakan
amal-amal agung yang ampuh untuk meraih cinta dari-Nya. Walaupun tampak ringan,
namun tidak mudah untuk dilakukan kecuali bagi orang yang Allah mudahkan. Sebaik-baik
amal salih adalah yang kontinyu, walaupun terasa sedikit. Dan hendaknya
begitulah tiga amal ini dilaksanakan, agar kita senantiasa mendapatkan cinta
dari Allah.


(Abu Ukasyah)

Sumber: Di Bawah Naungan Cinta.
Abdul Hadi Hasan Wahbi. Pustaka Azzam

Upaya Menjaga Kebersihan Hati

Tuesday, May 22nd, 2007
Allah  ‘azza wa Jalla menurunkan
kepada manusia dua sifat, yaitu sifat hasanah (baik) dan sifat sayyi’ah
(jelek). Kedua sifat ini selalu melekat pada diri manusia sepanjang
hayatnya. Tetapi, sifat yang bertolak belakang secara diametral
tersebut, masih sangat ditentukan oleh eksistensi hati (kalbu), sebagai
potensi (al-quwwah, fakultas) yang menentukan pilihan dan tindakan
(action) manusia

Eksistensi kalbu
merupakan pusat penalaran, pemikiran dan kehendak, yang berfungsi untuk
berfikir, memahami sesuatu, dan bertugas atas aktualisasi terhadap
segala sesuatu. Kalbu dapat dikategorikan intuisi atau pandangan yang
dalam, yang mempunyai rasa keindahan, dan kehidupannya dari sinar
mentari yang membawa manusia pada klebenaran, dan sebagai alat untuk
mengenal kebenaran ketika pengindraan tidak memainkan peranannya.

Menurut Ibnu Athaillah Al- Sakandari,
seorang sufi terkemuka, menyatakan bahwa kalbu merupakan bagian esensi
kehidupan manusia. Sebagai tokoh ulama yang zahid, wara’ serta sebagai
duta orang-orang arif dan imam para sufi, Athaillah mengemukakan
pentingnya kalbu. Bahkan, ia menegaskan bahwa untuk meraih derajat
tinggi dan tempat mulia di hadapan Allah, diperlukan kedalaman
pengetahuan pada diri Muhammad Saw, sebagai utusan Allah. Bagi kaum
Muslim, figur utama yang perlu diikuti dan dihormati adalah Rasulullah,
kata Athailah dengan nada semangat. Dengan mengikuti sunnah Rasul,
secara pasti kehidupan ini akan terbimbing ke arah jalan yang diridhai
Allah.

Muhammad Saw adalah orang yang senantiasa terjaga
kesucian hatinya. Nabi benar-benar menjadi publik figur yang sangat
disegani, dihormati karena hatinya yang sangat mulia. Dengan nada dan
gaya yang fulgar, Athaillah sampai membuka kartu rahasia, bahwa salah
satu kesuksesan dirinya menjalani seorang sufi, yaitu karena ia telah
mengikuti Rasulullah baik secara lahir maupun bathin.

Adapun
metode ampuh untuk menjaga kesucian kalbu adalah dengan taubat. Secara
bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya
kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali
lari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju
taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridha’i-Nya,
kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan,
dan seterusnya.

Jalan taubat sengaja di buka oleh Allah agar
jika seorang Muslim melakukan kesalahan, baik yang besar maupun kecil,
ia wajib segera kembali kepada jalan Allah. Dengan mengutip ayat
al-Qur’an, Athaillah menyerukan: "Kembalilah kamu sekalian kepada jalan
Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". Mengapa
manusia perlu bertaubat? Karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya
oleh Allah. Sehingga modal untuk kembali kepada Allah hanyalah dengan
keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat,
yang menentang kemahakuasaan Allah.

Kiat untuk menundukkan kalbu
juga bisa dengan muhasabah (introspeksi diri). Manusia seharusnya punya
kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah di manapun ia
berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, manusia akan
terdorong untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri, perhitungan,
evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap kalbunya
sendiri. Lagi-lagi, menurut Athailah, Muhasabah dapat direncanakan
sebelum melakukan sesuatu dengan secara tepat dan matang.
Mempertimbangkan terlebih dahulu baik-buruk dan manfaat perbuatannya
itu.

Satu hal lagi yang menjadi catatan agar Kalbu tetap suci
adalah sikap ikhlas. Secara etimologis, ikhlas berakar dari khalasha
yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan
air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti
membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang
didasarkan bukan kepada Allah.

Ikhlas mengajarkan kepada manusia
agar berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah.
Karenanya, setiap perbuatan harus diawali dengan kata niat. Seperti
yang dianjurkan Nabi: "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung
kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai
dengan niatnya."

Sebagaimana yang terpaparkan di atas, tulisan
ini merupakan salah kunci untuk menjaga kebersihan hati (kalbu). Jika
hal ini memang benar, tentu semata-mata karena hidayah dan ilmu Allah
yang diturunkan melalui hamba-Nya.

 

Oleh Mujtahid, MA. http://www.iman.co.nr