Archive for April, 2007

Surat Terbuka Untuk Kaum Muslimah

Monday, April 30th, 2007

MediaMuslim.Info - Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu. Jika engkau tidak berusaha menjadi seperti Fathimah, mengapa engkau berharap bisa mendampingi pemuda seperti Ali ? Jika
engkau tidak berusaha shalih seperti Rasulullah shalaAllahu ‘alaihi
wassalam, mengapa engkau berharap mendapatkan wanita seperti ‘Aisyah ?

Berharap
memang tak salah. Seorang pencuri sah – sah saja berharap anaknya tidak
tumbuh menjadi pencuri. Ada salah satu saudara kita yang malas diajak
sholat jama’ah ke masjid, malas mendatangi majelis ilmu malah
menghabiskan waktu dalam hal yang sia-sia. Bahkan ada juga yang kurang
menjaga pergaulannya, merasa bebas berhubungan dengan lawan jenis.
Namun, mereka tidak akan menikah kecuali dengan istri/suami yang
shalih/ah dan pandai dalam din. Mereka mendambakan suami/istri yang
tidak pernah bergaul bebas dengan lawan jenis. Mereka menginginkan
istri yang suci bagai bidadari turun dari surga.

Sebagaimana pula saudari-saudari kita, mereka yang
menginginkan suami yang selembut Abu Bakar, yang setegas `Umar Ibnul
Khoththob, yang sekaya `Utsman Ibnul Affan, atau setangkas `Ali ibnu
Abi Thalib. Namun anehnya, bagi saudari-saudari kita tersebut, tidak
ada usaha untuk memperbaiki diri semisal meniru kebijaksanaan Khadijah
, kepandaian ‘Aisyah, ketangguhan Fathimah, atau keikhlasan Sumayyah.

Begitu juga dengan saudara kita para ikhwan yang menginginkan istri
sepandai para istri nabi, sebagus akhlaq muslimah di zaman Rasul, namun
dalam dirinya tidak ada usaha untuk lebih shalih, lebih pandai, dan
lebih menuju akhirat.

Memang berharap itu tidak salah. Seorang pencuri sah – sah saja
berharap anaknya tidak tumbuh menjadi pencuri, namun apakah jika anak
tersebut tumbuh menjadi ‘ulama misalnya, apakah mampu membebaskan
bapaknya dari hukuman penjara ? Apakah suami yang shalih dan istri yang
shalihah bisa menyelamatkan kita dari Naar jika kita sendiri tidak
berusaha menjauhi Naar ?

“ Allah telah menjadikan istri nabi Nuh dan istri nabi Luth
sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya dibawah pengawasan
dua hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua istri itu
berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat
membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada
keduanya) `masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk` (neraka) “
(QS. At Tahrim : 10)

“ Dan Allah menjadikan istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi
orang-orang yang beriman, ketika ia berkata ` Ya Rabbi, bangunkanlah
untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari
Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim “
(QS. At Tahrim :11)

“ (Dan ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara
kehormatannya, maka Kami tiupkan dalam rahimnya sebagaian dari ruh
(ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan
kitab-kitabNya dan dia termasuk orang-orang yang ta’at”
(QS. At Tahrim : 12)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

(Ditulis oleh ID: Ummu `Ibaadurrahmaan)

Problematika Wanita Pekerja….

Monday, April 30th, 2007

Wanita
karir, dalam segala levelnya, kian hari kian mewabah. Dari posisi pucuk
pimpinan negara, top executive, hingga kondektur bus bahkan tukang
becak. Hingga kini boleh dibilang nyaris tidak ada jenis profesi yang
belum terambah kaum hawa.
Nampaknya,
wanita telah meninggalkan kehidupannya yang khas pada era agraris. Pada
era tersebut ia adalah makhluk rumah sejati. Ia mengasuh anak-anaknya
dengan setia, juga berperan dalam perekonomian keluarga dengan
aktivitas di ladang-ladang tradisional seputar rumahnya. Dalam mitos
pertanian, wanita adalah petani pertama di muka bumi ini. Sang suami,
berkelana dari hutan ke hutan, padang ke padang untuk berburu binatang.
Ketika binatang-binatang tertentu ternyata diketahui dapat dipelihara
dan diternakkan maka pertanian dikembangkan secara intensif. Wanita pun
masih tak beranjak dari posisinya. Mereka tahu kapan menemui suami di
ladang, menyusui anak, dan kapan harus menanak nasi dirumah. Dan yang
khas, mereka tidak pernah bekerja pada suami orang lain.

Materialisme yang subur pada masa Renaissance telah menggiring
manusia pada era industrialisasi. Pandangan baru ini melihat wanita dan
laki-laki sama saja kodratnya, yakni sebagai faktor produksi. Hanya
saja dengan dilatarbelakangi pertimbangan fisik dan kelas sosial yanmg
berlaku upah kerja wanita selalu nomor dua. Kapitalisme menghancurkan
industri rumah tangga satu persatu. Satu superpabrik dengan multi
produksi cukup untuk satu kota atau negara. Dan manusia pekerja
tersedot ke dalamnya, termasuk wanita.

Wanita pun akhirnya berduyun-duyun meninggalkan “istananya”, berbaur
dengan pria memasuki pabrik untuk menjadi pekerja atau buruh dengan
upah rendah. Ketika itu pula, mulai terdengar jerit tangis para balita
yang pagi hari sudah kehilangan ibunya.

“Dengan bekerja, saya bisa membelikan susu anak saya dan membelikan
banyak mainan untuk mereka. Suatu hal yang sulit jika saya hanya
mengandalkan gaji suami yang pas-pasan.” Demikian argumen yang
sering kita dengar yang sepintas mungkin sangat manusiawi. Namun
sayang, harga yang dibayar terlampau mahal dari hanya sekedar susu
formula dan mainan anak-anak. Kasih sayang yang hilang, kecemasan, dan
ketakutan anak-anak
ketika ditinggal sang ibu, akan
masuk ke alam bawah sadarnya dan mempengaruhi perkembangan pribadinya
hingga kelak dia dewasa. Pendidikan dien dan akhlak pun merupakan hal
yang sangat sulit jika seharian hanya berinteraksi dengan pembantu dan
dididik televisi. Lantas, bagaimanakah jadinya generasi ini?

Motif yang lain yang lebih tinggi tinggi tingkatannya adalah motif
psikologis dan tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat.
Gerakan emansipasi yang didengungkan wanita barat telah berhasil
memancing naluri wanita seantero bumi untuk berusaha menunjukkan
eksistensinya. Wanita memang hebat. Banyak diantara wanita yang tidak
kalah berhasil bahkan lebih berprestasi daripada kaum pria. Namun, di
lain pihak, bisakah para wanita menjadi “super women” yang sukses dalam
menjalankan peran gandanya? Jika kemudian statistik menunjukkan angka
kriminalitas, perceraian, perselingkuhan meningkat dikarenakan
terabaikannya keluarga sebagai basis pendidikan moral yang utama,
sungguh, lagi-lagi harga yang dibayar terlalu mahal.

Suatu hal yang dilematis, memang, jika kemudian wanita bekerja
didorong oleh tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah ia dapat.
Oleh karena itu para wanita muslimah seharusnya mempelajari ilmu yang
bermanfaat sesuai dengan kebutuhan wanita dan masyarakat walaupun tidak
merupakan keharusan maupun fardu kifayah. Harus ada relevansi antara
belajar dengan kebutuhannya sehingga wanita tidak menuntut sesuatu yang
tidak diperlukan olehnya atau masyarakatnya. Jika keadaan memaksa
hingga wanita musti bekerja di luar rumah, Islam telah memberikan
batasannya. Yaitu: harus seizin walinya (ayah atau suami)
untuk pekerjaan mubah, seperti mengajar anak putri atau menjadi perawat
bagi pasien wanita; Tidak ikhtilat (campur baur) dengan pria atau
berkhlawat dengan pria; Tidak bertabarruj dan memperlihatkan perhiasan
atau kecantikannya; Tidak bersolek dan memekai parfum; Memakai hijab
yang sesuai syari’at.

Bagaimanapun juga, tempat bekerja wanita yang sesungguhnya dan yang
paling mulia adalah di dalam rumahnya. Disanalah wanita akan senantiasa
terlindungi dan dapat lebih dekat dengan Allah manakala menetap di
rumah, mencari ridha Allah dengan cara beribadah kepada-Nya,
mencurahkan segenap kemampuan untuk mendidik sang buah hati, mentaati
suami, dan memberikan kasih sayang kepada anggota keluarga.

Wanita yang hebat, bukanlah mereka yang harus bersaing berebut dunia dengan kaum pria.
Wanita yang sukses adalah yang bertanggung jawab dengan tugas utama
yang dianugerhakan Allah atasnya: mendidik generasi tangguh masa depan.

Sumber: www.mediamuslim.info

Larangan Bagi Muslimah Memasuki Tempat Pemandian Umum

Monday, April 30th, 2007

MediaMuslim.Info - Yang
dimaksud dengan tempat pemandian disini adalah tempat bersih dari yang
sekarang banyak dikenal dengan sebutan rumah kecantikan, sauna, tempat
pemandian uap, panti pijat dan lain sebagainya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kaum wanita meletakkan pakaiannya tidak pada tempatnya. Aisyah Radhiyallahu anha mendasarkan larangan itu pada ketidaksukaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap masuknya wanita ke tempat pemandian umum.

Dari Abu Al-Malih bin Usamah, dia bercerita, ada beberapa wanita Syam yang masuk ke rumah Aisyah Radhiyallahu anha,
lalu dia bertanya: “Dari mana kalian?” Mereka menjawab: “Kami dari
penduduk Syam”. Aisyah berkata: “Apakah kalian dari kampung di mana
wanita-wanitanya sering memasuki tempat pemandian umum?”. Mereka
menjawab: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, yang artinya: “Tidaklah
seorang wanita yang menanggalkan pakaiannya di tempat selain rumahnya
melainkan akan dikoyak tabir antara dirinya dengan Alloh Ta’ala”.

(HR: [Hadits shahih] Imam Abu Daud (4010), Imam Tirmidzi (2803), Imam
Ibnu Majah (3750) melalui Salim bin Abi Al-Ja’ad, dari Abu Mulih dengan
sanad shahih)

Tetapi banyak wanita pada zaman sekarang ini yang pergi ke
tempat-tempat pemandian uap atau sauna. Para penyelenggara tempat
pemandian itu tidak memelihara kehormatan kaum wanita dan bahkan tidak
menjaga aurat mereka. Lebih dari itu, kebanyakan dari penyelenggara ini
adalah orang-orang pengabdi hawa nafsu dan memiliki tujuan-tujuan keji.

Tidak tertutup bagi Saudariku, wahai wanita Muslimah, pada saat
mandi atau singgah di tempat-tempat seperti itu akan melihat para
wanita saling melihat aurat mereka satu dengan yang lainnya, bahkan
tidak jarang banyak orang laki-laki khususnya penyelenggara
tempat-tempat itu yang melihat aurat para wanita yang ada di sana.
Bahkan tidak sedikit dari kaum wanita yang tidak memelihara kehormatan
mereka di hadapan Alloh Azza wa Jalla, dimana mereka meminta
orang laki-laki untuk memijat badan mereka. Semuanya itu merupakan awal
dari perbuatan zina. Semoga Alloh Azza wa Jalla melindungi kita semua dari perbuatan hina tersebut.

Dalam sebuah hadits disebutkan, yang artinya: “Tempat mandi (umum) haram bagi para wanita umatku”. (HR: Al-Hakim, isnadnya shahih)

Dari Abu Ayyub Al-Anshary dalam suatu hadits yang panjang yang dimarfu’kan, didalamnya disebutkan, yang artinya: “Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhirat dari wanita-wanita kau, maka janganlah dia memasuki pemandian (umum)”. (HR: Ath-Thabrany di dalam Al-Kabir dan Al-Ausath)

Yang harus Anda lakukan, wahai wanita Muslimah adalah menjauhi
tempat-tempat mesum tersebut, di mana aurat wanita dan juga laki-laki
terbuka lebar, kehormatan pun tidak lagi dihargai. Dan juga Anda harus
memperingatkan para wanita yang sering mendatangi tempat-tempat
tersebut, karena yang demikian itu merupakan kewajiban amar ma’ruf nahi
munkar.

(Sumber Rujukan: 30 Larangan Bagi Wanita)

Kiat Sukses Menjadi Suami Sholeh

Monday, April 30th, 2007

eramuslim
- Jika ada seorang istri yang sholehah yang selalu memperhatikan,
melayani suami dengan segala kebaikan. Ia juga selalu menuruti segala
perintah dan memenuhi keinginan sang suami dengan kepatuhan yang
sempurna. Menjaga ibadahnya dan selalu mengingatkan suami untuk
berlomba mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Ia menjadi istri
yang manis dan selalu hangat disamping suaminya, serta menjadi teman
perjalanan yang menyenangkan. Tidak banyak menuntut dan menerima dengan
rasa syukur apapun dan seberapapun rezeki yang didapat suami.

Bukankah
tidak ada alasan lagi bagi sang suami untuk tidak membalasnya dengan
menjadi suami yang sholeh, penuh perhatian dan kasih sayang. Demikian
beberapa kiat untuk menjadi suami yang sukses:

1. Berdandanlah untuk istri anda, selalu bersih dan wangi.
Sesering
apakah kita tampil didepan istri dengan pakaian ala kadarnya? Sama
halnya dengan suami yang menginginkan istrinya kelihatan manis
untuknya, setiap istri juga menginginkan suaminya berdandan untuknya.

Sebagai
contoh, ingat, bahwa Rasulullah saw selalu menggosok giginya terlebih
dulu sebelum menemui istrinya setelah bepergian. Beliau juga selalu
menyukai senyum yang paling manis.

2. Panggillah istri anda dengan nama yang cantik.
Rasulullah
saw mempunyai nama panggilan untuk istri-istrinya yang sangat mereka
sukai. Panggillah istri anda dengan nama yang paling indah baginya dan
hindari menggunakan nama-nama yang menyakitkan perasaan mereka.

3. Jangan memperlakukan seorang istri seperti lalat.
Kita
tidak pernah menghiraukan seekor lalat di dalam kehidupan kita
sehari-hari, tahu-tahu dia menjadi penyakit buat kita. Sama halnya
seorang istri yang berbuat baik sepanjang hari, jika tidak pernah
mendapat perhatian dari suaminya, maka dia juga akan memperlakukan
suaminya bagai sebuah penyakit. Jangan sekali-kali perlakukan dia
seperti ini; kenali semua kebaikan yang dia lakukan dan pusatkan
perhatian padanya.

4. Jika anda melihat kesalahan dari istri anda, cobalah untuk diam dan tidak berkomentar apa pun!
Ini
adalah cara Rasulullah saw yang biasa dilakukan saat beliau melihat
sesuatu yang tidak pantas dilakukan istri-istrinya (radhiyallahu
‘anhuma). Ini adalah teknik bagi seorang Muslim sebagai kepala rumah
tangga.

5. Tersenyum untuk istri anda kapan saja anda melihatnya dan memeluknya sesering mungkin.
Senyuman
adalah shadaqah dan istri anda termasuk ummat muslim juga. Bayangkan
hidup dengannya dengan senyum yang selalu tersungging. Ingatlah, sunnah
juga menerangkan bahwa Rasulullah saw selalu mencium istrinya sebelum
pergi sholat ke masjid, bahkan saat beliau sedang berpuasa.

6. Berterima-kasihlah untuk semua yang dia lakukan untuk anda.
Sekecil
apapun yang istri anda lakukan buat anda, jangan sekali-kali
menganggapnya sebagai hal sepele. Berterima kasihlah, karena ucapan
terima kasih anda sungguh berarti bagi istri anda dan akan terukir
indah dihatinya.

Ambil contoh, ucapkan terima kasih untuk ketika
usai makan malam yang dia sediakan. Juga untuk kebersihan rumah dan
selusin pekerjaan yang lainnya.

7. Mintalah padanya untuk
menulis sepuluh perbuatan terakhir yang telah anda lakukan untuknya
yang membuat dia senang. Kemudian pergi dan lakukan itu kembali.
Mungkin
agak sulit untuk mengenali apa yang membuat istri anda senang. Anda
tidak perlu untuk bermain tebak-tebakkan, tanyakan padanya dan kerjakan
secara berulang-ulang selama hidup anda.

8. Jangan mengecilkan keinginannya. Hiburlan dia.
Kadang-kadang
seorang suami perlu mengabulkan permintaan istrinya. Rasulullah saw
memberikan contoh buat kita dalam sebuah kejadian ketika Safiyyah
radhiyallahu anha menangis karena dia (Safiyyah) berkata bahwa beliau
(Rasulullah) memberikan sebuah unta yang lamban. Rasulullah pun menyapu
air matanya, menghiburnya, dan membawakannya sebuah unta yang lain.

9. Penuh humor dan bermain-mainlah dengan istri anda.
Lihatlah
betapa Rasulullah saw pernah bertanding lari dengan istrinya Aisyah
radhiyallahu anha di sebuah padang, dan membiarkan Aisyah
memenangkannya. Kapan saat terakhir kita melakukan hal seperti itu?

10.
Ingatlah selalu sabda Rasulullah SAW: Yang terbaik di antara kalian
adalah yang memperlakukan keluarganya dengan baik. Dan aku adalah yang
terbaik memperlakukan keluargaku.
Cobalah jadi yang terbaik. Sebagai
kata akhir: Jangan pernah lupa berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla, agar
membuat pernikahan anda bahagia.

Nasihat Pernikahan…..

Monday, April 30th, 2007

Oleh : Yazid bin Abdul Qadir Jawas

KATA PENGANTAR

Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi
kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak
dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai
Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama
yang memberi rahmat bagi sekalian alam.

Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai
bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana
memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya.
Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan
yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan
pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam
mengajarkannya.

Nikah merupakan jalan yang paling bermanfa’at dan paling afdhal dalam
upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah
seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab
itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk
mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas
kendala-kendalanya.

Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam
diri manusia, demi mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari
persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan
keturunan, hingga dengan perannya kemakmuran bumi ini menjadi semakin
semarak.

Melalui risalah singkat ini. Anda diajak untuk bisa mempelajari dan
menyelami tata cara perkawinan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa.
Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh
dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan
melelahkan.

Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya
lantaran sebuah pernikahan ..?
Na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu musta’an.

MUQADIMAH

Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu
menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut
tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu
lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga
ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai
ahlaq yang luhur dan sentral.

Karena lembaga itu memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani
Adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan
kemakmuran di bumi ini. Menurut Islam Bani Adam lah yang memperoleh
kehormatan untuk memikul amanah Ilahi sebagai khalifah di muka bumi,
sebagaimana firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka
berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?.
Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui". (Al-Baqarah : 30).
Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan
penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu
perjanjian yang kokoh dan suci (MITSAAQON GHOLIIDHOO), sebagaimana firman
Allah Ta’ala.
"Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu
telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka
(istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat".
(An-Nisaa’ : 21).
Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya
suami istri, memelihara dan menjaganya secara sungguh-sungguh dan penuh
tanggung jawab.
Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap
persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan
yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta
memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai
dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci
dan detail.

Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang perkawinan, maka rujukan
yang paling sah dan benar adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah Shahih (yang
sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih -pen). Dengan rujukan ini kita akan
dapati kejelasan tentang aspek-aspek perkawinan maupun beberapa
penyimpangan dan pergeseran nilai perkawinan yang terjadi di masyarakat
kita.

Tentu saja tidak semua persoalan dapat penulis tuangkan dalam tulisan ini,
hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah
Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan
Penyimpangan Dalam Perkawinan.

PERNIKAHAN ADALAH FITRAH KEMANUSIAAN

Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Ta’ala
cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh
manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi
penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas
fithrahnya.

Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan
untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri
kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu
perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak
menjerumuskan ke lembah hitam.
Firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-Ruum : 30).
A. Islam Menganjurkan Nikah
Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur’an
dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri
manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami.
Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai
ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik
radliyallahu ‘anhu berkata : "Telah bersabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam :

"Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari
agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang
separuhnya lagi". (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).
B. Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan
melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik
radliyallahu ‘anhu berkata : "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan
yang keras". Dan beliau bersabda :

"Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku
akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari
kiamat". (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).
Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian
setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka.
Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus.
Dan yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan
kawin selamanya …. Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, beliau keluar seraya bersabda :
"Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi
Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian.
Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur
dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai
sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku". (Hadits Riwayat Bukhari dan
Muslim).
Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan
dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain
Muhammad Yusuf : "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan
gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang
hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas
dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari
semua tanggung jawab".
Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga
kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam
pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat
diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama
kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu
kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.

Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka
mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup
ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan
hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka
kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.

Islam menolak sistem ke-rahib-an karena sistem tersebut bertentangan
dengan fitrah kemanusiaan, dan bahkan sikap itu berarti melawan sunnah dan
kodrat Allah Ta’ala yang telah ditetapkan bagi makhluknya. Sikap enggan
membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh),
karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam
rahim, dan manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Allah,
misalnya ia berkata : "Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila
punya istri tidak cukup ?!".

Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan
ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Allah memerintahkan untuk kawin, dan seandainya mereka fakir pasti
Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan
suatu pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya:

"Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki
dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui".
(An-Nur : 32).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan
sabdanya :
"Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka,
yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya
supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara
kehormatannya". (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu
Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah
radliyallahu ‘anhu).
Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti
membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.
Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata : "Jika umurku tinggal
sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus
menemui Allah sebagai seorang bujangan". (Ihya Ulumuddin dan Tuhfatul
‘Arus hal. 20).

Bidadari…

Monday, April 23rd, 2007

Istri yang solehah memang benar bidadari di dunia ini
Permata yang amat berharga
Hiasan yang amat menawan
Peneguh yang amat kukuh
Istri yang solehah berbalut ilmu berselimut akhlak
Istri yang solehah menembus kalbu
karena semua yang dia lakukan berasal dari ketulusan hati,
dari keikhlasan jiwa
Isteri yang solehah adalah rizq yang tidak ternilai dari Allah,
Yang menggenggam segala kemuliaan, pemberi segala kebahgiaan
Wahai kaum muslimin, pilihlah wanita solehah dengan mensolehkan dirimu terlebih dahulu…..
Wahai wanita solehah, jadilah bidadari dengan peribadi yang indah kerana Allah semata

Tersenyumlah…..

Monday, April 23rd, 2007

Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan
pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan
dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda
berkata: "Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan
terhibur." Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan,
asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan
mengejek atau mencemooh: "Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu
banyak tertawa akan mematikan hati."

Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas
dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak,
maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka
anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa
terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu
berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.

Kalau kita
diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan
jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua.
Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan
jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia
selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh
lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi
mampu menciptakan suasana rumah seperti syurga.

Senyum yang
tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura
dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah
bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit,
bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang
tulus.

Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan
dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah
persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu
mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan akan melihat kesulitan
dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau
membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan
kata-kata "kalau", "bila", dan "jika".

Betapa kita amat
membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemrahan hati,
kelemahlembutan, dan keramahan. "Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam) agar kalian bersikap tawadhu’ hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain."

Bidadari yang Cantik Jelita……

Monday, April 23rd, 2007

Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara
yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang
paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan
digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara
langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka,
ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.

Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga.  Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib
yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh
yang merupakan bentuk wanita  yang paling indah dan pas untuk
gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: "warna putih adalah separoh keindahan"

Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:

Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

Al-’In jama’ dari aina’,
artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam,
dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai
bidadari-bidadari yang  baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang
menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya
sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: "Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci." (QS: Al-Baqarah: 25)

Makna dari
Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air
kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan
urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia.
Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai
wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya
berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar
dari  rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga
mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya.
Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti
ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara
wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan
yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau
memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan
dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.

Di
samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar
pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah
penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: "Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam,
andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat
menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat
menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?"  Beliau
menjawab,"Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan."
(Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: "Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?" (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub,
artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes,
perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah
laku dan gerak-geriknya serba halus.

Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, "Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun",
artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka
itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak
pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti YaqutMarjan.
Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya.
Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang
oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan
putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

Semoga
para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk
menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang
tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam

(Sumber Rujukan:
Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh
Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah) dan

Nikmat Mampu Berbicara dan Menjelaskan

Monday, April 23rd, 2007

Sesungguhnya kenikmatan yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikan
kepada hamba-hambanya tak terhitung dan tak terhingga banyaknya. Dan
termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada
kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemampuan tersebut seseorang
bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar
dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar.

Orang yang tidak diberi nikmat mampu ber­bicara,
jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa
mengutarakan sesuatu dan memahamkan orang lain dengan isyarat atau
dengan cara menuliskannya jika dia mampu menulis.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan
Alloh membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu,
tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi
penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu dia
tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan
orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang
lurus?”
(QS: An Nahl: 76)

Tentang tafsir ayat ini, ada yang mengatakan bahwasanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan
permisalan perbandingan antara diri-Nya dengan berhala yang disembah.
Ada pula yang mengatakan bahwa Alloh memberi permisalan antara orang
kafir dan orang yang beriman.

Permisalan di atas secara jelas menerangkan bahwa seorang budak bisu
yang tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Pemiliknya pun
tidak mampu mengambil manfaat ketika dia membutuhkannya.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu
adalah benar-benar (akan Terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”
(QS: Adz Dzariyat: 23)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan diri-Nya
mengenai kepastian akan kedatangan hari kebangkitan dan pembalasan bagi
seluruh umat manusia, sebagaimana pastinya ucapan yang menjadi
perwujudan dari orang yang berbicara. Pada ayat tersebut Alloh Subhanahu wa Ta’ala memaparkan sebahagian karunia-Nya yang berupa ucapan.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dia menciptakan manusia, dan mengajarinya berbicara.” (QS: Ar Rahman: 2-3)

AI Hasan AI Bashri menafsirkan bahwa al bayan (penjelasan) adalah berbicara. Jadi, Alloh  Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat berbicara ini, karena dengan berbicara manusia bisa mengutarakan apa yang diinginkannya ..

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua
buah bibir?” (QS: AI Balad: 8-9)

Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelasan, Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala tersebut
(Bukankah Kami telah memberiKan kepadanya dua buah mata), maksudnya
dengan kedua mata tersebut dia mampu melihat. (dan lidah), yaitu dengan
lidahnya dia mampu berbicara; mampu mengungkapkan apa yang tersimpan
dalam hati­ nya. (dan kedua bibirnya), yaitu dengan kedua bibirnya dia
dapat mengucapkan sebuah perkataan, atau memakan makanan; juga sebagai
penghias wajah dan mulutnya.

Akan tetapi, kita tahu bahwa nikmat berbicara ini
akan menjadi kenikmatan yang hakiki apabila digunakan untuk
membicarakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan keselamatan. Dan
sebaliknya apabila digunakan untuk perkara yang merusak, tentu hal itu
justru akan menjadi musibah pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu,
lebih baik keadaannya bagi yang tidak diberi nikmat berbicara daripada
seseorang yang diberikan nikmat tersebut tapi menggunakan nikmat
berbicara ini untuk perkara yang jelek.

(Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir dan berbagai sumber lainnya)

Lisan Kita…, Untuk Apakah?

Monday, April 23rd, 2007

Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak
digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk
menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang
haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat.

Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan
janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah
seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.”
(QS: Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, yang artinya: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, yang artinya: “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.”“Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika
apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah
menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya
maka engkau telah berdusta atasnya.”
(HR: Muslim)
Beliau ditanya,

Yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama,
kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika
hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau
gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud
mengolok-ngolok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Riba
itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama
dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba
yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan
saudaranya.”
As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
(

Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis yang sedang menggunjing
orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang
dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, yang artinya: “Barangsiapa
membela (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat
Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.”
(HR: Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah).
Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak
hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan
terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar
manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya, yang
artinya: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak
bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur
fitnah.”
(QS: Al-Qalam: 10-11).

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR: Bukhari).

Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping
(mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia
membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu
domba.” (An-Nihayah 4/11)

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam
menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke
dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada
kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf,
atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”
(QS: An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR: Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR: Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun
kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun
bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Aku
adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang
menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin)
istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta
sekalipun bercanda.”
(HR: Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha“Sesungguhnya
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan
ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”
 berkata,  (HR: Bukhari-Muslim).

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallohu’alam.