Archive for March, 2007

Ummu Sulaim, si Cerdas yang Dijamin Surga

Saturday, March 31st, 2007

       

 

Ia
seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj
memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga
berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan berakhlak
mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya
yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha
Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari
wanita saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.

 

Pada
saat Rasululllah menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi
Ummu Sulaim langsung memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan
gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya dari masyarakat
jahili paganis.

 

Namun
suaminya, Malik bin Nadhir sangat marah saat mengetahui istrinya telah
masuk Islam. Dengan dada gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu
Sulaim: “Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!”

 

“Saya
tidak murtad. Justru saya kini telah beriman,” jawab Ummu Sulaim dengan
mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya
sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas,
yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

Melihat
kesungguhan istrinya serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan
membuat Malik bin Nadhir bosan dan tak mampu mengendalikan amarahnya.
Hingga ia kemudian bertekad untuk meninggalkan rumah dan tidak akan
kembali sampai istrinya mau kembali kepada agama nenek moyang mereka.
Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu
dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh..

 

Saat
mendengar kabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia
berkata, “Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mau menyusu lagi,
dan  sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku.”

 

Setelah
Anas agak besar, Ummu Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan
meminta agar beliau bersedia menerima Anas sebagai pembantunya.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima Anas dengan rasa
gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim kemudian banyak
dibicarakan orang dengan rasa kagum.

 

Dan
seorang bangsawan bernama Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu.
Dengan rasa cinta dan kagum yang tak dapat disembunyikan tanpa banyak
pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya ke rumah Ummu Sulaim
untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di luar dugaan,
jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya
begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan
rasa hormat,

 

“Tidak
selayaknya saya menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu
Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini hanyalah sebuah patung yang
dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mau menyulutnya api
niscaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu.”

 

Perkataan
Ummu Sulaim amat telak menghantam dadanya. Abu Thalhah  tak percaya
dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan
realita yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat
putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu
Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan
mengiming-iming mahar yang lebih wah serta kehidupan kelas atas.

 

Sekali
lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan
keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag
dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih
langgeng daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya
yang halus ia menjawab, “Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang
yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang
kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah
denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”

 

“Engkau
menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu Thalhah. “Sedikitpun saya
tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya
engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.

 

“Tetapi
saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” Tanya Abu
Thalhah. “tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu
Sulaim.

 

Maka
Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya.
Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya
Islam tampak pada kedua bola matanya.”

 

Ketulusan
hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu
Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa
sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi
yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu
Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, “Saya
mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada
ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusanNya.”

 

Ummu Sulaim tersenyum haru dan berpaling kepada anaknya Ana, “Bangunlah wahai Anas.”

 

Menikahlah
Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman
suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas,
“Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya
lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya
mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam
naungan cahaya Islam.

 

Abu
Thalhah sendiri adalah seorang konglomerat nomor satu dari kabilah
Anshar. Dan harta yang paling dia cintai yaitu tanah perkebunan
“Bairuha”. Tanah perkebunan itu letaknya persis menghadap masjid. Dan
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah minum air segar
yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang berbunyi:

 

“Sekali-kali belum sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran:92)

 

Mendengar
ayat ini, kontan Abu Thalhah menghadap Rasulullah. Setelah membacakan
ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, “Dan sesungguhnya harta yang paling
saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha. Saat ini tanah itu saya
sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan ganjaran
kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai
Rasulullah.”

 

Dan
bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, “Bakh, bakh itu
adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar perkataanmu
tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau
bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian.”

 

Abu
Thalhah pun menuruti perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu
kepada sanak familinya dan anak keturunan pamannya. Tak berapa lama
Alah memuliakan seorang anak laki-laki kepada pasangan berbahagia itu
dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung kesayangan Abu Umair mati
sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu lewatlah Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat kesedihan Abu
Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, “Wahai Abu Umair apa
gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?”

 

Namun
takdir Allah memang tak mampu diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali
ingin menguji kesabaran pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah
mungil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga ayah dan ibunya dibuat
cemas dan repot. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu Thalhah. Jika
ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah kesehatan dan
keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum melihatnya.
Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama setelah
kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.

 

Ummu
Sulaim memang seorang ibu mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa
itu dengan sabar dan tenang. Ummu Sulaim lantas menidurkan putranya di
atas kasur dan berujar berulang-ulang, “Innaa lillahi wa inna ilaihi
rrji’un.” Dengan suara berbisik ia berkata kepada sanak keluarganya,
“Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya pada Abu
Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya.”

 

Sekembalinya
Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah
mongering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan siap menjawab
pertanyaannya.

 

“Bagaimana keadaan putraku sekarang?”

 

“Dia lebih tenang dari biasanya.” Jawab Ummu Sulaim dengan wajar.

 

Abu
Thalhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya.
Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat
wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang
istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu
Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.

 

Setelah
suaminya terlelap, Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil
menentramkan suaminya perihal putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah
telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia amembiarkan suaminya
tertidur pulas.

 

Menjelang
subuh, baru Ummu Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya,
“Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan
barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan
jika si peminjam enggan mengembalikannya?”

 

“Tidak,” jawab Abu Thalhah.

 

“Bagaimana
jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah menggunakannya?” “Wah,
mereka benar-benar tidak waras,” Abu Thalhah menukas.

 

“Demikian
pula putramu. Allah meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah
mengambilnya kembali. Relakanlah ia,” kata Ummu Sulaim dengan tenang.
Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak, “Kenapa baru sekarang kau
beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda (berhadats karena
berhubungan suami istri)?”

Dengan
rasa tabah Ummu Sulaim tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia
kembali istirja dan memuji Allah dengan hati yang tenang.

 

Pagi-pagi
buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai
Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Semoga Allah
subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian
berdua.”

 

Benar
saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan melahirkan seorang anak
yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya sampai
di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra
yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu,
Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan
suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji surga
dalam sabdanya

 

Aku
memasuki surga dan aku mendengar jalannya seseorang. Lantas aku
bertanya “Siapakah ini?” Penghuni surga spontan menjawab “Ini adalah
Rumaisha binti Milhan, ibu Anas bin Malik.”

Wanita solehah

Saturday, March 31st, 2007

Wanita solehah itu aurat dijaga,
Pergaulan dipagari,
Sifat malu pengikat diri,
Seindah hiasan di dunia ini.

Keayuan wanita solehah itu, tidak terletak pada kecantikan wajahnya,
Kemanisan wanita solehah, tidak terletak pada kemanjaannya,
Daya penarik wanita solehah itu,
Bukan pada kemanisan bicaranya yang mengoncang iman para muslimin,
Dan bukan pula terletak pada kebijaksanaannya bermain lidah, memujuk rayu,
Bukan dan tidak sama sekali.

Kepetahan wanita solehah,
Bukan pada barang kemas atau perihal orang lain,
Tapi pada perjuangannya meningkatkan martabat agama.

Nafsu mengatakan wanita cantik dengan paras rupa yang indah bak permata yang menyeri alam,
Akal mengatakan wanita cantik atas kemajuan dan kekebalannya dalam ilmu serta pandai dari segala aspek ,
Hati menyatakan kecantikan wanita hanya pada akhlaknya,
Itupun seandainya hati itu bersih untuk menilai.

Wahai wanita jangan dibangga dengan kecantikan luaran,
Kerna satu hari nanti ianya akan lapuk di telan zaman,
Tetapi jaga dan peliharalah kecantikan dalaman ,
Agar diri ini bersih dan sentiasa mendapat Rahmat Ilahi,
Wahai wanita jangan berbangga dengan ilmu duniawi yang kau kuasai ,
Kerna ada lagi manusia yang lebih berpengetahuan darimu ,
Wahai wanita jangan pula berdukacita atas kekurangan dirimu,
Kerna ada lagi insan yang lebih malang darimu.

Wahai wanita solehah jangan dirisau akan jodohmu,
Kerana muslimin yang bijaksana itu tidak akan terpaut pada wanita hanya kerana kecantikannya ,
Bersyukurlah diatas apa yang ada,
Serta berusaha demi keluarga, bangsa dan agama.

Profile : Izzuddin Al-Qossam, Mujahid Yang Merakyat

Saturday, March 31st, 2007

Dilahirkan
di negeri Jabalah, Suriah pada tahun 1882 M/ 1300 H dengan nama lengkap
Muhammad Izzuddin bin Abdul Qodir Mushthofa Al Qosam. Ia tumbuh dan
berkembang ditengah keluarga yang taat dan berpegang teguh dengan
ajaran Islam. Ayahnya yang menekuni ajaran tasawuf dikenal sebagai
pendidik yang khusus menyediakan salah satu pojok rumahnya sebagai
tempat belajar agama bagi anak-anak tetangga sekitarnya.

Tanpa disadari, lingkungan belajar ini membantu membentuk
kepribadian sang Izzuddin kecil karena ia menyaksikan langsung proses
tarbiyah yang dilakukan ayahnya terhadap murid-muridnya yang datang ke
rumah. Keakraban hidup dengan orang kecil yang diwarisi dari orang
tuanya terus dipupuk sampai hari tuanya. Ia tidak segan-segan membantu
orang kecil walau sekedar berbincang-bincang untuk meringankan beban
hidup orang lain. Begitulah prinsip yang dipegangnya.

Ketika berumur 14 tahun (tahun 1896), pemuda Izzuddin dikirim
orangtuanya belajar ke Jami’ Al Azhar, Mesir yang kala itu masih
berbentuk talaqi’dengan masyayikhdi dalam mesjid. Sekitar 10 tahun
berada di bumi kinanah, Izzuddin banyak tertarik dengan ide-ide
pembaharuan yang dilontarkan oleh Jamaluddin Al Afghani, Muhammad
‘Abduh dan Abdurrahman Al Kawakibi. Himbauan mereka antara lain: agar
kembali berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunah, kritikan terhadap
kezoliman politik penguasa, kesenjangan sosial, keterbelakangan ilmu
pengetahuan, kemerosotan akhlak serta cengkraman barat terhadap kaum
muslimin.

Ia juga tertarik dan bergabung dengan madrasah jihad yang didirikan
oleh Muhammad Rasyid Ridho. Di madrasah ini Izzuddin dan rekan-rekannya
memantau dan menjalin hubungan dengan pergerakan jihad yang ada di
negara Islam lainnya. Demikianlah proses tarbiyah yang dijalani pemuda
Izzuddin selama di Mesir yang memberikan pengaruh bagi perjuangannya
selanjutnya.

Andilnya dalam da’wah
Aktivitasnya selama di Mesir menempanya menjadi sosok yang tidak bisa
berpangku tangan menyaksikan kerusakan di tengah-tengah masyarakat.
Kepekaan terhadap lingkungan yang memang sudah mendarah daging dalam
dirinya semakin tajam dengan tempaan yang cukup lama di Kairo, Mesir.
Pada usia 24 tahun, Izzuddin kembali ke kampung halamannya di Jabalah,
Suriah.

Setibanya di kampung halaman, ia langsung terjun ke medan da’wah. Ia
sangat lihai berpidato. Kelihaiannya itu ia manfaatkan untuk
menda’wahkan Islam kepada orang banyak. Sampai akhirnya menjadi khatib
tetap di Masjid Raya Al-Manshur, Jabalah.

Keindahan gaya bahasa yang digunakannya sangat menyentuh hati para
hadirin.i>Muhadharahnya disenangi dan ditunggu-tunggu oleh kaum
muslimin. Kepiawaiannya memilih kata-kata bisa membangkitkan kesadaran
hadirin untuk kembali berpegang teguh dengan ajaran agama Islam.

Ia selalu menekankan sifat tawadhu’, akhlak mulia, kecerdasan
berinteraksi,istiqomah, pengendalian diri, meluaskan cara pandang,
zuhud, sederhana, ikhlas serta siap berkorban tenaga,waktu dan
istirahat demi Islam dalam setiap muhadharah yang disampaikannya.
Hal-hal yang dida’wahkannya ini senantiasa diusahakannya agar bisa
diterapkan dalam kesehariannya sehingga ia benar-benar menjadiqudwahdan
dicintai masyarakatnya.

Satu hal yang tak pernah lepas dari kehidupannya adalah
kepeduliannya terhadap orang miskin. Para petani diziarahinya sampai ke
ladang-ladang tempat mereka bekerja. Para buruh tak lupa disapa dan
diajaknya berbincang walaupun hanya sebentar. Ia tak segan-segan
menemani mereka di meja makan atau membantu menyelesaikan pekerjaan
mereka sekalipun hanya sesaat.

Menjalin ukhuwah dan gemar bermu’ayasah(berinteraksi di
tengah-tengah masyarakat) benar-benar dihayati dan diterapkan dalam
kehidupannya. Karena melalui jalan inilah seorang da’i mengerti dan
memahami kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Inilah salah satu kunci
keberhasilan Syaikh Izzuddin dalam da’wahnya mengenalkan Islam kepada
masyarakat di sekitarnya yang patut diteladani.

Kesertaannya dalam jihad
Tarbiyah madrasah jihad Rasyid Ridho sewaktu di Mesir sangat berbekas
dan mempengaruhi watak dan kepribadian Izzuddin dalam berjuang. Hal ini
dibuktikannya ketika tentara Italia datang dan menjajah Lybia tahun
1911. Ia yang berada di Suriah tergugah untuk membantu muslimin disana.

Dengan gagah berani ia pimpin demonstrasi menentang Italia di
Jabalah, Suriah. Ia menyerukan kaum muslimin agar membantu saudaranya
di Lybia dengan harta maupun jiwa untuk berjihad ke sana. Dari
himbauannya tersebut, terdaftarlah sekitar 250 mujahidin sedangkan yang
lainnya ikut andil dengan sumbangan harta yang ada.

Berangkatlah pasukan mujahidin yang dipimpin langsung oleh Izzuddin
menuju Mina’, Al Iskandrunah dan bermalam disana selama 40 hari
menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Lybia. Namun sayang, kaum
nasionalis yang berkuasa berpihak kepada kepentingan Italia. Mereka
menghalangi keberangkatan pasukan mujahidin bahkan memulangkannya ke
Jabalah. Adapun dana yang terkumpulkan sebelumnya untuk membiayai
keberangkatan ke Lybia digunakan untuk mendirikan madrasah di Jabalah
guna membantu meningkatkan keilmuan masyarakat setempat.

Ketika penjajah Perancis mulai memasuki Suria pada tahun 1918 dan
menduduki perkampungan nelayan, Izzudin yang berada di Jabalah tentu
saja tidak tinggal diam. Ia menyerukan revolusi melawan Perancis dan
mengajak masyarakat agar bergabung. Bahkan untuk mendanai perang jihad
yang dikobarkannya, ia rela menjual rumah dan uang hasil penjualannya
dibelikan senjata.

Kegigihannya melawan penjajah membuat Perancis gerah dengan sepak
terjangnya. Ia dimasukkan dalam daftar orang yang di hukum mati karena
menentang pemerintahan Perancis. Ketika cengkraman Perancis dirasakan
semakin kuat, sebagian besar mujahidin keluar Suria menggalang
kekuatan. Izzuddin bersama beberapa orang keluarga dan sahabatnya
menyingkir ke Beirut, Libanon.

Dari sini mereka melanjutkan perjalanan ke Haifa, Palestina di
penghujung tahun 1920. Jiwa da’wah yang tertanam sangat kuat dalam
jiwanya membuat Izzuddin cepat dikenal dan disenangi masyarakat Islam
Haifa. Bahkan ia diangkat menjadi khatib resmi mesjid Al Istiqlal Haifa.

Selanjutnya ia terpilih untuk pemimpin Pergerakan Pemuda Muslim
Haifa. Ia berhasil membuka beberapa cabang dan langsung memantau
perkembangan dan senantiasa memberikan tausiahserta
pengarahan-pengarahan. Kebiasaan untuk berinteraksi langsung dengan
masyarakat sekeliling di kampungnya diterapkan juga di Haifa.

Ia sangat menyadari bahwa keberhasilan da’wah sangat didukung oleh diterimanya da’i di tengah-tengah masyarakat.

Selama 15 tahun bermu’ayasahdengan masyarakat muslim Haifa, Izzuddin
mempersiapkan muslimin untuk mengobarkan revolusi melawan penjajahan
Inggris yang telah bercokol sekian lama di bumi Palestina. Ia
meletakkan 3 sasaran yang akan di perjuangkan di Palestina:

1. Membebaskan Palestina dari penjajahan Inggris yang dicap sebagai
musuh no. 1 umat Islam disebabkan janjinya kepada orang Yahudi untuk
mendirikan Israel Raya di bumi Palestina dan memberikan izin masuknya
puluhan ribu orang Yahudi ke Palestina.
   2. Menghalangi cita-citaYahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina.
   3. Mendirikan negara Islam Palestina untuk merapatkan dan menyatukan barisan Arab dan Muslimin.

Syiar yang dikumandangkan bersama mujahidin Haifa, Palestina adalah:
“Ini adalah jihad, menang atau mati syahid”. Izzudin melancarkan
pergerakan bawah tanah dan rahasia yang tak terendus oleh musuh dan
hanya diketahui sahabat dan para mujahid yang membantunya. Namun
akhirnya, aktifitas pergerakannya tercium juga oleh penjajahan Inggris
dan Yahudi.

Sebelum musuh mengambil tindakan, ia mengambil ancang-ancang
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dengan melatih para
petani dan masyarakat untuk memegang senjata di dataran tinggi Junein.
Namun sebelum revolusi sempat dikobarkan, Inggris dan Yahudi lebih dulu
membuat makar dengan memperalat tentara Arab, Palestina. Ketika
matahari baru membagi sinarnya ke bumi, pagi hari tepatnya tanggal 20
September 1935, ia dan para mujahid lainnya berhadapan langsung dengan
musuh yang menyerang dari 3 penjuru sekaligus.

Sebenarnya, Izzuddin bersama para sahabatnya bisa saja meloloskan
diri, namun pantang baginya melarikan diri dari medan pertempuran. Pada
waktu itu pasukan mujahidin berada pada tempat yang tidak menguntungkan
untuk mengadakan perlawanan. Saat itu pasukan mujahidin berada di
dataran rendah sedangkan musuh berada di balik perbukitan.

Inggris yang licik berhasil memperalat badan keamanan Arab Palestina
untuk melancarkan aksinya membungkam perlawanan Izzuddin dengan
meletakkan mereka di 3 barisan pertama. Siasat licik ini dijalankan
setelah sebelumnya Inggris menuduh Izzuddin dan lainnya adalah perampok
yang selalu membajak pedagang yang sering melewati kawasan tersebut.

Sebelum perlawanan dimulai, Izzudin mengumumkan agar jangan melukai
pasukan Arab karena mereka tidaklah tahu apa-apa. Lalu ia
mengumandangkan syiar:”Hadzaa jihadun fi sabilillah wal wathon,wa man
kaana hadza jihaduhu la yastaslim lighoirillah”dan menyerukan:”muutuu
syuhada’….!”

Setelah melakukan perlawanan keras, akhirnya Izzuddin dan 4 orang
sahabatnya menemui syahid. Mendung menyelimuti Haifa mengiringi
kepergian sang mujahid sejati yang dikenal sangat peduli dengan rakyat
kecil. Jasadnya dimakamkan di kampung “Syaikh”dekat Haifa.

Satu peninggalannya adalah buku yang berjudul:”An Naqdu wal
Bayan”yang dikarangnya bersama syaikh Kamil Al Qosab untuk memerangi
khurafat dan bid’ah yang banyak berkembang ditengah-tengah kaum
muslimin. Keteladanan yang bisa ditiru dari perjuangan beliau adalah
keikhlasan, pengorbanan dan senantiasa menebarkan kehangatan
berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Sifat-sifat ini sangat
membantu kesuksesan dalam medan da’wah, jalan yang ditempuh oleh para
Nabi utusan Allah. Selamat berjuang !!!

Peringatan 18 Tahun Syahidnya Abdullah Azzam: Teroriskah Simbol Jihad Afghanistan itu?

Saturday, March 31st, 2007

24
November, 18 tahun Islam. Seorang tokoh pejuang Islam menghadap Allah
swt dengan begitu indahnya. Syaikh Abdullah Azzam, siapa yang tidak
pernah mendengar nama itu? Hampir setiap Muslim yang memperhatikan
kondisi dunia Islam di tahun 80-an pasti mengenal nama dan sosok
Abdullah Azzam dengan baik.

Dia adalah simbol jihad Afganistan saat mengusir pasukan beruang
merah Rusia. Dan kini, hampir 18 tahun berlalu, namanya masih lekat
dikenang dalam hati para pejuang Islam di dunia. Meski, label gembong
teroris juga dikaitkan dengan namanya, namun siapapun yang mengetahui
kondisi perjuangan jihad Afganistan ketika itu, tak pernah terbetik
sedikitpun bahwa Abdullah Azzam adalah seorang teroris. Bahkan
sebaliknya, ia adalah pejuang sejati yang begitu tinggi kasih sayangnya
kepada kaum Muslimin.

Beberapa waktu lalu, sejumlah tokoh mengingatkan tentang peringatan
syahidnya tokoh jihad Afganistan itu. Salah seorang muridnya yang kini
tinggal di Mesir, bercerita tentang Abdullah Azzam, saat beliau sedang
melakukan perkemahan. Pada suatu acara semua yang mengikuti mukhayyam
itu di perintahkan oleh komandan lapangan. “Kalian berlarilah
mengelilingi lapangan ini sebanyak yang kalian bisa,” ujar komandan
lapangan.

Semua peserta perkemahan berlari. Namun setelah beberapa putaran,
sudah ada yang menyerah, dan mereka yang menyerah beralasan bahwa
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya (2: 286), inilah yang saya mampu”,

Begitu pula orang-orang yang menyerah selanjutnya, mereka selalu
beralasan dengan ayat ke 286 di surat Al-Baqarah tersebut, dan yang
sisa pun semakin banyak yang menyerah, sampai tinggal Abdullah Azzam
sendiri, beliau terus berlari mengelilingi lapangan tersebut, sampai
akhirnya beliau pingsan.

Dan setelah sadar beliau ditanya oleh komandan lapangan “ Mengapa
anda berlari sampai pingsan begini, kan sudah saya bilang bahwa anda
berlari semampu anda”, lalu Abdullah Azzam menjawab “inilah yang saya
mampu, sesuai yang anda perintahkan“

Yang dimaksud oleh Abdullah Azzam adalah makna sebenarnya dari
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”, bahwa perintah harus dijalankan sesuai isinya. Di sisi
lain, upaya apapun harus dilakukan dengan upaya yang optimal di batas
kemampuan seseorang. Itulah salah satu pelajaran yang diberikan
Abdullah Azzam.

Komitmen Kuat Berjihad

Abdullah Azzam dilahirkan di sebuah kampung di Utara Palestina yang
dikenal sebagai Selat al-Harithia di daerah Genine pada tahun 1941.
Ayahnya bernama Mustaffa yang meninggal dunia setahun selepas
pembunuhan anaknya. Ibunya bernama Zakia Saleh yang meninggal dunia
setahun sebelum Sheikh Abdullah Azzam dibunuh.

Abdullah Azzam berasal dari keluarga yang baik latar-belakang
keagamaannya. Keluarganya gembira mempunyai anak lelaki, Abdullah Yusuf
Azzam, yang sudah terlihat istimewa di kalangan kanak-kanak lain dan
telah aktif berdakwah pada usia yang muda. Rekan-rekannya mengenali
Azzam sebagai seorang yang wara dan sangat hati hati dengan dosa. Ia
menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan pada usia muda. Guru-gurunya
melihat keistimewaan ini sejak Azzam masih duduk di bangku sekolah.
Abdullah Azzam masuk dalam organisasi al-Ikhwan-ul-Muslimin sebelum
mencapai usia baligh.

Sheikh Abdullah Azzam telah dikenal karena ketabahan dan sifatnya
yang sungguh sungguh sejak kecil. Ia menerima pendidikan awal peringkat
sekolah dasar dan menengah di kampung sebelum meneruskan pendidikan di College Pertanian
Khadorri sampai tingkat Diploma. Walau merupakan pelajar termuda di
kalangan teman-temannya, Abdullah Azzam adalah murid yang paling
cerdas. Setelah menamatkan pendidikan di College Khadorri ia bekerja
sebagai seorang guru di sebuah kampung bernama Adder di Selatan Jordan.
Kemudian beliau meneruskan pendidikan di college Shariah di
universitas Damaskus sehingga memperoleh Ijazah B.A. dalam Shariah pada
1966. Setelah pihak Yahudi mendudduki Tepi Barat pada tahun 1967,
Abdullah Azzam muda hijrah ke Jordan, karena ia tidak mau tinggal di
bawah penjajahan Yahudi di Palestina. Pengalaman melihat tank-tank
Israel bergerak masuk ke Tepi Barat tanpa ada hambatan meningkatkan
tekadnya untuk hijrah dan belajar mendapatkan kemampuan untuk perang.

Tahun 1960-an ia ikut dalam Jihad menentang penjajahan Israel di
Palestina dari Jordan. Ketika itu juga ia menerima Ijazah Master di
dalam bidang Shariah dari Unversitas al-Azhar. Pada tahun 1970 sesudah
Jihad terhenti karena kekuatan PLO dipaksa keluar dari Jordan, Abdullah
Azzam menjadi seorang pensyarah di universitas Jordanian di Amman. Pada
tahun 1971 ia dianugerahkan biasiswa ke Universitas al-Azhar di Kairo
sampai ia memperoleh Ijazah doktor di dalam bidang Ushul al-Fiqh pada
1973. Ketika di Mesir itulah, ia telah berkenalan dengan keluarga Sayid
Quthb, keluarga tokoh perjuangan Islam di Mesir.

Pada tahun 1979 ia meniggalkan universitas berpindah ke Pakistan
untuk ikut serta dalam Jihad Afghanistan. Di sana ia berkenalan dengan
pemimpin-pemimpin Jihad. Awal kedatangannya di Pakistan, ia dilantik
sebagai pensyarah di universitas Islam internasional di Islamabad.
Setelah beberapa waktu lamanya, kemudian beliau mengambil keputusan
untuk berhenti dari tugas universitas untuk memfokuskan seluruh waktu
dan tenaganya kepada Jihad di Afghanistan.

Abdullah Azzam sangat banyak dipengaruhi oleh Jihad di Afghanistan
dan Jihad di Afghanistan juga sangat banyak dipengaruhi Abdullah Azzam
sejak beliau memfokuskan seluruh waktunya untuk Jihad. Ia menjadi
seorang yang disegani di arena Jihad Afghanistan. Ia menumpahkan
seluruh daya usaha untuk menyebarkan dan mengenalkan Jihad di
Afghanistan ke seluruh dunia. Ia mengubah pandangan umat Islam tentang
Jihad di Afghanistan dan menyadarkan bahwa Jihad adalah tuntutan Islam
yang menjadi tanggung jawab semua umat Islam di seluruh dunia. Berkat
hasil usahanya, Jihad Afghan menjadi Jihad universal yang diikuti oleh
umat Islam dari berbagai pelosok dunia.

Abdullah Azzam bahkan menjadi idola generasi muda yang menyahut
seruan Jihad. Pernah ia berkata, “Aku rasa seperti baru berusia 9
tahun, 7 setengah tahun di Jihad Afghan, satu setengah tahun di Jihad
Palestina dan tahun-tahun yang selebihnya tidak bernilai apa-apa.”

Ia juga melatih keluarganya dengan pemahaman dan semangat yang sama.
Isterinya terlibat dengan kegiatan penjagaan anak-anak yatim di
Afganistán. Ia sendiri menolak tawaran pekerjaan sebagai pensyarah dari
beberapa buah universitas sambil berikrar bahwa ia tidak akan
meninggalkan Jihad sehingga gugur syahid. Ia juga selalu mengatakan
bahwa tujuan utama dan cita-citanya adalah untuk membebaskan Palestina.

Terbunuh Saat Hendak Sholat Jumat

Tentu
saja komitmen yang begitu tinggi pada Islam menimbulkan keresahan di
kalangan musuh-musuh Islam. Mereka bersekongkol untuk membunuh beliau.
Pada tahun 1989, sebuah bom diletakkan di bawah mimbar yang ia gunakan
untuk menyampaikan khutbah Jumat. Bahan letupan itu sangat berbahaya
dan ledakannya akan memusnahkan masjid tersebut bersama dengan semua
benda dan jamaah di dalamnya. Tetapi dengan perlindungan Allah, bom
tersebut tidak meledak dan ratusan orang Islam selamat.

Musuh-musuh Islam terus berupaya membunuh Abdullah Azzam. Pada hari
Jum’at, 24 November 1989 di Peshawar, Pakistan, mereka telah menanam
tiga buah bom di jalan yang sempit. Abdullah Azzam memarkirkan mobilnya
di posisi bom pertama dan kemudian berjalan ke masjid untuk shalat
Jum’at. Bom pun meledak dan Abdullah Azzam gugur bersama dengan dua
orang anak lelakinya, Muhammad dan Ibrahim, beserta dengan anak lelaki
al-marhum Sheikh Tamim Adnani (pejuang di Afghan).

Ledakan bom seberat 20kg TNT dilakukan dengan alat kontrol jarak
jauh. Setelah ledakan kuat itu itu orang-orang keluar dari masjid dan
melihat keadaan yang mengerikan. Hanya bahagian kecil dari mobil
tersebut yang kelihatan. Anak Abdullah Azzam, Ibrahim, terpental 100
meter; begitu juga dengan dua orang anak-anak lagi. Serpihan mayat
mereka bertaburan di atas kabel-kabel listrik.

Tubuh Abdullah Azzam ditemukan bersandar pada sebuah tembok, dalam
keadaan sempurna dan tiada luka atau cedera kecuali sedikit darah yang
mengalir dari bibirnya. Seperti itulah akhir kehidupan seorang Mujahid
di dunia ini dan insya-Allah kehidupannya akan terus berlanjut di sisi
Allah swt.Abdullah Azzam dikebumikan di Tanah Perkuburan Shuhada Pabi
di mana beliau menyertai ribuan para syuhada.

Mawar Senja Gugur Kelopaknya

Saturday, March 31st, 2007


Mawar Senja Gugur Kelopaknya
oleh Ema Kaysi

Selembar
surat bersampul biru muda jatuh di pangkuan Nur. Saat itu senja merona
bersemburat cahaya jingga di ufuk barat. Sekelompok burung pipit
terbang melintasi anjungan. Angin semilir meniup kelopak flamboyan,
mahkotanya berhamburan mencium bumi.

Dulu, Nur paling benci bila
dikatakan bagai flamboyan. Pohon yang tinggi tegar berbunga kecil yang
mudah gugur, ibarat gadis angkuh yang mudah patah hati.

"Hush,
tidak boleh mencela makhluk Tuhan." Si Mas bilang, "Mungkin kamu
memandangnya dari sudut yang berbeda. Bagi saya, flamboyan itu memberi
kesejukan. Coba kalau seisi taman dipenuhi mawar. Bagaimana kita bisa
duduk sambil berteduh seperti hari ini."

Ah si Mas bisa saja.
Biasanya Nur mendebat dengan berbagai argumen. Tapi ujungnya sama saja,
si mas akan bilang "Saya kan tidak bilang kalau kamu seperti
flamboyan." Biasanya lagi, Nur masih memprotes juga. "Jadi maumu apa?"
tanya si Mas akhirnya. "Mawar" jawab Nur. Si Mas akan tertawa. "Mau
ngomong mawar kok muter-muter soal flamboyan."

Tapi kali ini Nur
tidak berminat untuk bercanda tentang flamboyan dan mawar. Selembar
surat bersampul biru mengusik perhatiannya. Sudah belasan kali surat
itu ia baca. Masih saja Nur tertegun mengikuti baris demi baris kalimat
yang ditulisnya. Ada nafas berat yang dirasakannya dalam isi surat itu.

"Ibarat
hari, saya ini sudah hampir senja dik Nur. Bukan saya tidak rela dengan
takdir yang Maha Kuasa, namun saya pun sebenarnya ingin menemukan
kesempurnaan dien ini dengan menjalankan yang separuhnya lagi.
Apalagi
sejak bapak dan ibu berpulang, saya tidak lagi mempunyai keluarga
tempat kembali. Tiada tempat berbagi, terasa hidup ini seperti luka
yang menganga."

Angan Nur melayang membayangkan sosok Kak Nurul
di pedalaman, dalam kesendirian, bergulat dengan geliat masyarakat
Bangkalan selama sepuluh tahun terakhir ini.

Kak Nurul yang dulu
bagai sekuntum mawar merekah, lembut dan harum. Indah tanpa cela.
Wanginya tertiup angin hingga ke pelosok kampus dan bilik-bilik masjid.
Nur tahu banyak pria yang memandangnya di kejauhan, mengaguminya dalam
diam.

Bukan sekali dua Nur terheran-heran mengapa para brothers
itu tidak ada yang mau menikahinya. Apa salahnya menikahi wanita yang
begitu "sempurna". Ataukah mereka hanya berani mengaguminya dari jauh
namun takut untuk memetiknya. Takut tertusuk durikah?

Apakah
kepintarannya yang menjadi penghalang, konon kaum pria takut menikahi
wanita yang lebih cerdas dari dirinya. Ataukah kecantikannya yang
dikhawatiri mendatangkan cemburu. Atau karena pribadi agungnya yang
membuat para brothers merasa ciut di hadapannya.

Mungkinkah
seluruh kelebihan yang bersatu dalam sosok wanita ini membuat para
aktivis da’wah pun takut, takut dengan kesempurnaannya.

"Barangkali
belum jodohnya, Dik. Insya Allah kalau sudah saatnya ada juga brother
yang mau meminangnya." Begitu selalu jawaban mas Fatih, suami Nur.
Namun saat yang dinantikan itu belum juga kunjung tiba. Hingga kak
Nurul mendapat tawaran untuk membantu masyarakat Bangkalan, sepuluh
tahun yang lalu. Iapun pergi meninggalkan kampus tempatnya mengajar.
Sejak itulah mereka terpisahkan.

Nur memandangi wajah mas Fatih.
Di bawah cahaya senja yang merona, …ah makin tampan saja ia dengan
garis ketuaan yang mulai menggurat di wajahnya.

"Bagaimana mas ?" tanya Nur untuk ketiga kalinya. Wajah yang teduh itu tak bergeming.

"Kau serius agaknya, dik" jawabnya.

"Benar. Saya sudah lama memikirkannya" sahut Nur.

"Tapi saya bukan orang yang tepat untuk itu. Saya tidak cukup adil untuk itu."

"Tak ada yang bisa bersikap adil kalau soal perasaan" Nur memotong.

"Secara materi, kau sendiri dan anak-anak pun lebih banyak menahan diri bukan?" si Mas balik bertanya.

"Saya insya Allah bisa membantumu. Saya bisa mengajar atau kembali seperti dulu." Jawab Nur.

Melihat
Nur bersikukuh, mas Fatih melembut, "bagaimana kalau kita istikharah
dulu." Diusapnya kain yang menutup rambut indah milik Nur.

Hari-hari
pun berlalu dalam kepatuhan mengikuti hukum alam. Malam siang datang
silih berganti. Makhluk Allah menapaki hidupnya di bawah naungan
sunatuLlah.
Susah-senang hilang timbul bak gelombang laut, datang bergulung lalu pecah di pantai.

Satu
musim lewatlah sudah. Di sebuah dini hari yang bening, Nur berjalan
mengendap ke ruang kerja mas Fatih. Lampunya menyala. Berarti semalaman
mas Fatih tidak tidur. Lamat-lamat terdengar suara lirih mas Fatih
membaca al Qur’an. Nur beranjak mendekat, namun malang kakinya
tersandung kabel lampu. Ugh ! Ia jatuh terpelanting.

Mas Fatih menghentikan bacaannya.

"Kamu nggak apa-apa dik ?" tanya mas Fatih, cemas menghampiri Nur. Yang dihampiri tersenyum menahan malu dan nyeri.

"Makanya
jangan suka mengintip." Mas Fatih menggodanya, seraya menggosok kaki
Nur yang memar. Pipi Nur bersemu dadu saat mas Fatih membantunya duduk
di kursi kayu.

Menarik nafas sebentar, lalu Nur membuka percakapan.

"Kopornya sudah saya siapkan, Mas. Jangan lupa sampaikan salam saya buat kak Nurul."

Mas Fatih terdiam. Nur memandangi wajah yang senantiasa nampak ikhlas ini. Mas Fatih tersenyum lembut.

"Dik,
semoga pengorbananmu yang mulia ini membawamu ke tempat terbaik di
sisi-Nya. Tolong doakan agar mas mampu berbuat adil terhadapmu dan
anak-anak."

Mata Nur membasah. "Terhadap kak Nurul juga…,"
ujarnya. "Saya rela,mas, janganlah khawatir. Saya tahu tidak semua
wanita beruntung seperti saya, hidup di sisi orang sebaikmu." Nur
berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, " Membagi kemurahan
Allah tidak akan mengurangi rahmat-Nya."

Hari itu mas Fatih akan berangkat menuju Bangkalan. Dengan air mata menggenang, diciumnya kedua anaknya.

"Ayah
akan kembali dalam seminggu. Jaga Bunda baik-baik." pesan mas Fatih
kepada kedua balitanya yang masih terlena dibuai mimpi. Nur memberi
isyarat dengan tangannya.

"Jangan janjikan mereka dengan sesuatu yang sulit bagimu untuk memenuhinya." ujarnya setengah berbisik.

"Saya akan memenuhinya, insya Allah" mas Fatih berbalik, menggenggam tangan Nur. Nur berjalan mengantarnya hingga pagar rumah.

"Jaga diri baik-baik ya dik," pesan mas Fatih.

"Mas juga." Jawab Nur. Tersenyum dengan sepenuh kerelaan hatinya.

Angin
pagi memainkan pucuk-pucuk pinus, melambaikan salam perpisahan untuk
gelap malam. Mentari menyeruak, mengirim kehangatan di pagi yang beku.
Nur membuka hari baru dengan hati ringan. Segumpal rasa cemas
dihalaunya dengan kepasrahan. Kedua buah hatinya menjadi penghibur saat
sunyi terasa menggigit. Celoteh mereka saat bermain mengusir galau yang
kadang menyelinap di relung hati kecilnya. Dan lagi, merawat kedua
bocah ciliknya sudah cukup menyibukkannya. Anak adalah hiburan, ia
adalah cahaya mata. Nur bersyukur atas karunia yang tidak setiap
perempuan merasakannya.
Lalu hari pun terasa beranjak dalam tempo
cepat, tiba-tiba sore sudah menjelanga. Malam kembali datang
menggantikan siang. Gelap menyelimuti bumi saat hamba Tuhan melepas
penatnya.

Dan Nur kembali termenung ketika anak-anak mulai terlelap.

Semoga
segala sesuatunya berjalan lancar, Nur membatin. Tidak mudah berhadapan
dengan kondisi masyarakat yang belum siap menerima poligami. Anggapan
sebagai langkah tercela dan penghalalan bagi kaum pria yang mengumbar
nafsu sudah kadung meresap dalam pikiran masyarakat. Bukan salah
mereka. Kenyataannya lelaki yang beristeri lebih dari satu adalah
kebanyakan mereka yang kurang bertanggung jawab, kalau bukan para
pejabat yang menyeleweng.

Akibatnya banyak isteri yang tersia-sia, menderita di bawah tanggung jawab seorang lelaki.

Jadilah
hukum Allah yang satu ini dianggap tidak relevan dan melukai kaum
wanita. Benarkah begitu ? Lalu berapa banyak wanita malang yang
tersaruk-saruk mencari pendamping sementara ratio laki-laki makin
mengecil saja.

Apa yang akan terjadi bila solusi menjadi sebuah
mimpi buruk di benak kaum hawa. Kak Nurul hanyalah sebuah contoh dari
ribuan kasus serupa. Dan Nur merasa itu berada di dalam jangkauannya.
Nur teringat pertama kali bertemu kak Nurul. Perkenalan itu bermula
setelah kuliah PAI yang menghebohkan di semester pertama.

Nur
sendiri sudah mendengar banyak tentang kak Nurul, assisten Farmakologi
yang jelita, mantan mahasiswi teladan yang agamis dan segudang predikat
top lainnya.
Sementara Nur baru nongol di Universitas.

Ketika
itu dalam sebuah kelas PAI, Pak RN (semoga Allah merahmati beliau),
menguraikan tentang dasar-dasar syariat Islam. Dalam satu kesempatan
diskusi terlontarlah pertanyaan tentang poligami.
Dengan sigap Nur
mengacungkan jari memberikan suara persetujuan. Suasana mendadak
hening. Karena Nur duduk paling depan, ia belum sadar apa yang terjadi.
Waktu Ia rasakan kesenyapan ini lain dari biasanya, mulailah Nur
mengintip kiri-kanan dan belakang.

Sadarlah Nur kalau dari enam puluh mahasiswa yang mengikuti kuliah PAI ini dialah satu-satunya yang menyetujui poligami.

Aduh mak, grogi bercampur bingung ketika itu, namun Nur tetap berusaha tegar.

Buntut
dari peristiwa tersebut mudah ditebak, Nur pun jadi bulan-bulanan
kawan-kawan. Di antara para cowok mulai menggoda kalau-kalau Nur mau
jadi isteri keduanya. Yang mahasiswi tidak kalah sewotnya, dikatakan
bahwa ia heartless, tidak punya perasaan, ngomong begitu karena belum
kawin, coba kalau sudah menikah, dan masih banyak lagi bantahan mereka.

Nur
sendiri berusaha untuk tetap bersikap tenang, ia katakan kalaupun
mereka tidak setuju, itu tidak akan menghapus ta’addud sebagai bagian
dari syariat Islam.

Peristiwa heboh itu rupanya membawa berkah tersendiri. Karuan saja kak Nurul mendatangi Nur.

"Rupanya kita punya nama panggilan yang sama ya dik," sapanya ketika memulai perkenalan.

Nur
hanya terdiam. Dalam hati, malu rasanya membandingkan diri nya dengan
wanita dewasa di depannya ini. Namun kemudian terjadilah apa yang telah
terjadi. Nur dan kak Nurul menjadi sepasang sahabat yang akrab. Usia
bukanlah hambatan, diskusi demi diskusi tetap hidup dengan jalinan
persaudaraan yang penuh makna. Di bawah pancaran cahaya fajar maupun di
keremangan sinar bulan dalam tetesan air wudlu dan lantunan ayat-ayat
suci, Nur merasa hidup ini begitu berarti.

Menjelang pernikahan
Nur dengan mas Fatih, Nur memberanikan diri bertanya "Mengapa kak Nurul
belum menikah. Bukankah usia kak Nurul lebih dari cukup?", hari itu
bertepatan dengan tiga puluh tahun usia kak Nurul.

"Jangan tanya saya, dik Nur. Siapa yang tidak ingin membangun surga di istana kecilnya "

Dan
kisah malang itu sungguh terjadi. Satu demi satu brothers mundur
teratur lantaran silau berhadapan dengan kak Nurul. Padahal, kurang
bagaimana tawadlunya kak Nurul. Sementara itu usia kak Nurul terus
beranjak, para kader muda lebih suka memilih bunga yang bisa dipetik
pagi hari. Kini, siapa yang masih teringat mawar indah di senja hari.
Usia kak Nurul mulai melewati empat puluh tahun. Di Bangkalan sana, ia
membaktikan ilmu dan tenaganya untuk masyarakat papa. Sendiri tanpa
sesiapa. Salahkah Nur bila ingin membagi kebahagiaannya dengan kak
Nurul ? Dan mas Fatih, ah andai ada seribu mas Fatih di dunia ini.

"…
Maukah kak Nurul menjadi kakak Nur di dunia dan akhirat?" itu adalah
pertanyaan Nur di suratnya beberapa bulan yang lalu ketika mas Fatih
akhirnya menyerah pada perjuangan Nur. Lama tak berbalas, hingga
akhirnya jawaban didapat juga dari surat kak Nurul bulan lalu.

"…bagaimanakah
mungkin saya menolak permintaan dari seorang adik yang berhati mulia
Sebenarnya ada yang tidak dik Nur ketahui setelah beberapa waktu
berselang ini .namun saya sepenuhnya tawakal…"

Surat terakhir kak Nurul itu ditangkapnya sebagai persetujuan. Maka berangkatlah mas Fatih pagi itu menuju Bangkalan.

****

Subuh
baru saja usai. Nur bersegera melipat rukuhnya ketika bel pintu
berdentang, tergopoh ia berjalan ke arah pintu. Tiba-tiba di dadanya
berdebur gelombang.
Seperti saat mula pertama ia bertemu mas Fatih
di rumah cinta mereka. Hari ini tepat seminggu mas Fatih berangkat.
Iakah yang datang memenuhi janjinya kepada buah hati mereka ? Tiba-tiba
mata Nur basah. Inikah yang namanya haru ? Ataukah cinta yang tumbuh di
puncak kerelaan ? Pintu terkuak. Benar. Dia mas Fatih.
Tapi mengapa
ia nampak tidak biasa. Ataukah Nur yang tiba-tiba jadi perasa. Seakan
wajah mas Fatih berselimut duka. Nur ingin merangkulnya, namun terasa
tangannya tertahan. Mas Fatih mengucapkan salam dengan perlahan. Nur
membalasnya tak kalah pelan.

"Mas datang untuk saya atau anak-anak ?" Nur mencoba menggoda, mencairkan kebekuan.

"Untuk kita" jawab mas Fatih. Tersenyum, namun berat terasa di dada Nur. Mas Fatih menggandeng tangan Nur.
"Boleh
masuk, dik?" kali ini ia yang menggoda. Nur mencolek pinggang mas
Fatih, ditariknya masuk ke dalam rumah. Nur tidak berani membuka
pertanyaan tentang kak Nurul.

"Saya akan ceritakan setelah mandi dan shalat subuh." Mas Fatih seakan mengetahui isi hati Nur.

Nur hanya mengangguk sebelum beranjak ke dapur meraih secangkir teh manis buat mas Fatih.

***

"Ketika
saya tiba di ujung desa." Mas Fatih memulai ceritanya. "Ratusan
penduduk berbondong-bondong ke arah tempat tinggal kak Nurul. Saya
tidak menduga kalau mereka menyambut saya, saya merasa tidak pantas
mendapat sambutan semeriah itu. Namun hati saya bertanya-tanya apa
mungkin kak Nurul telah menceritakan rencana pernikahannya kepada
masyarakat di sana …?" mas Fatih berhenti sejenak. Nur menahan nafas.

"Saat
saya tiba di rumah kak Nurul yang sederhana, barulah saya menyadari
wajah-wajah yang hadir menampakkan kedukaan. Sayapun bertanya apakah
bisa bertemu dengan kak Nurul. Sebagian yang hadir nampak marah, salah
seorang menarik kerah baju saya sambil mengepalkan tinju, untunglah
dilerai oleh seorang bapak yang arif yang ternyata adalah pak lurah. Ia
bertanya siapa saya dan ada perlu apa dengan kak Nurul. Saya katakan
bahwa saya datang dari jauh untuk menikah dengannya. Saya calon
pengantinnya. Saat itu terdengar tangis keras beberapa ibu. Pak lurah
merangkul saya dan tak hentinya menggoyang bahu saya sampai akhirnya
saya ditariknya ke dalam rumah. Di tengah ruangan saya dapati sebuah
keranda."

Nur tak tahan mendengar cerita mas Fatih. "Keranda
siapa? Dimana kak Nurul waktu itu ?" pertanyaan Nur memburu. Mas Fatih
menggenggam tangan Nur.

"Kak Nurul berada di dalam keranda itu, dik ."

"Inna liLlahi wa inna ilaihi rajiun" Jantung Nur serasa terhenti sesaat.

Nur tersentak. Batin Nur terguncang hebat. Lalu Nur tersedu. Mas Fatih mengusap kepalanya dengan air mata menitik.

"Sabarlah dik sabar"

"Apa yang telah terjadi ?" tanya Nur disela isaknya.

"Ada yang tidak kita ketahui tentang kak Nurul." mas Fatih menjelaskan.

Tiba-tiba Nur teringat isi surat terakhir kak Nurul
….

"Sebenarnya ada yang tidak dik Nur ketahui setelah beberapa waktu berselang ini. Namun saya sepenuhnya tawakal…"

Nur teringat kalimat yang ditulis kak Nurul itu. Ia terkesiap.

"Apa yang tidak kita ketahui mas ?" tanyanya.

Mas
Fatih menunduk. Jemarinya menghapus ujung sajadah yang terlipat.
"Seorang perawat di puskesmas bercerita kepada pak lurah kalau kak
Nurul sudah lama mengidap kanker stadium akhir, Nur, sudah metastase
kemana-mana."

"Ya Allah Saya tidak pernah tahu " suara Nur bergetar.

"Tidak
ada yang tahu, Nur, hingga menjelang kepergiannya kecuali perawat yang
membantu kak Nur di klinik. Saya ikut mengantar dan menguburkan jenazah
kak Nurul. Selepas itu saya menyelesaikan beberapa urusan kak Nurul di
sana.
Saya juga pergi ke Surabaya ke tempat dokter yang mendiagnosis
kak Nur dengan kanker payudara sejak lima tahun yang lalu." Lunglai
terasa tubuh Nur.

"Kita terlambat, mas. Saya telah melalaikannya " Nur seakan menyesali diri.

Mas Fatih membelai kepala Nur dengan lembut.

"Tidak, sayang. Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Insya
Allah niat kita telah dicatat di buku-Nya." ujar mas Fatih. "Semoga
Allah membalas amal shalih kak Nurul dengan sebaik-baiknya. Masyarakat
Bangkalan mencintai kak Nurul karena keikhlasannya membantu mereka ."
Mas Fatih berhenti sejenak. Dirogohnya secarik kertas dari kantung tas
pinggangnya.

"Ini ada surat dari mbak Ririn, perawat itu."

Nur membuka surat yang diberikan mas Fatih, "Salam hormat untuk keluarga Bu Nurul. Ia adalah jiwa yang berbahagia."

Air
mata Nur berhamburan. Ia kehilangan mawar senja yang hampir dipetiknya
di pekarangan cinta mereka sang Pencipta telah menyuntingnya di taman
surga abadi.

…Mawar senja gugur kelopaknya
wangi tersisa di pagi bening
Sesosok cinta menebar air surga
kembali ke bumi, menuju Dia yang abadi

Dalam duka, hati Nur penuh doa. Semoga tempatmu
terbaik di sisi-Nya, oh kak Nurul.

Satu hal ia tahu pasti, beribu kak Nurul di bumi ini,
namun hanya ada satu mas Fatih

Cemburu

Saturday, March 31st, 2007

Cemburu merupakan pembawaan kaum wanita.
Tidak jarang seorang wanita cemburu gara-gara perkara yang sepele.
Karena itu seorang suami harus menjaga diri terhadap hal yang demikian
dan hendaknya jangan sampai keliru dalam meluruskan masalahnya.

Ini jika sang istri tidak berkepanjangan dalam kecemburuannya. Jika
ternyata terus berkepanjangan dalam kecemburuannya, maka tentu setiap
keadaan mempunyai cara sendirisendiri untuk mengatasinya.

Dahulu istri-istri Nabi juga cemburu, apalagi wanita-wanita jaman
sekarang yang lebih banyak dikuasai oleh setan. Terdapat banyak hadits
tentang kisah cemburunya istri istri Nabi ; di antaranya:


Hadits `Aisyah yang mengatakan, yang artinya:

Tidakkah ingin aku ceritakan kepadamu tentang aku dan nabi?
Ketika suatu malam giliranku bersama nabi, beliau membalikkan badan,
dan meletakkan sandalnya di sebelah kakinya dalam keadaan masih
terbaring.

Kemudian beliau menyingkirkan ujung kainnya ke pembaringannya.
Sesaat beliau tetap dalam pembaringannya sampai beliau menyangka kalau
aku sudah tidur. Setelah itu beliau perlaha-lahan mengenakan sandalnya,
mengambil kain selendangnya perlahan-lahan, membuka pintu
perlahan-lahan dan keluar perlahan-lahan.

Akupun kemudian mengenakan pakaianku mulai dari atas kepala, aku
kenakan kerudungku dan aku tutupkan kainku ke tubuhku lalu aku berjalan
mengikuti jejak Nabi hingga akhirnya beliau sampai di (kuburan) Bagi’.
Beliau mengangkat kedua tangannya (berdoa) tiga kali. Beliau lama dalam
berdoa.

Setelah itu beliau bergeser pergi, akupun bergeser pergi, beliau
mempercepat iangkahnya, akupun mmpercepat langkahku. beliau
berlari-lari kecil, akupun berlari -lari kecil, beliau tergesa-gesa,
akupun tergesa-gesa, sehingga aku dapat mendahuluinya. Selanjutnya aku
masuk rumah dan berbaring kembali. Kemudian Rasulullah masuk pula
seraya bersabda:
“Mengapa engkau wahai Aisyah? Engkau tersengal-sengal?”

Aisyah menjawab: “Tidak.”

Beliau bekata: “Engkau harus menceritakan kepadaku atau Allah
Yang Maha Lembut dan Maha Tahu yang akan menceritakannya kepadaku.”

Aku (Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh….” Lalu Aisyah
menceritakan kisahnya. Beliau lalu bersabda: “Adakah engkau seorang
yang tadi aku lihat di hadapanku?”

Aisyah menjawab: “Ya”

Kemudian rasullah menepuk dadaku dengan suatu tepukan hingga
terasa sakit. Beliaupun bersabda: “Apakah engkau mengira bahwa Allah
dan Rasul-Nya akan mendzhalimi kamu?”

Aku (Aisyah) berkata: “Betapapun orang menyembunyikan sesuatu, Allah pasti mengetahuinya” (1)

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku ketika engkau (tadi)
melihat(ku). Ia (Jibrii) tidak datang kepadamu sedangkan engkau sudah
melepaskan pakaianmu. Jibril memaiiggilku, maka aku
bersembunyi-sembunyi dari pandanganmu. Saya suka jika saya
menyembunyikan diri darimu,

Kemudian saya kira kamu sudah tidur, saya tidak suka jika harus
membangunkanmu dan saya khawatir jika kamu ketakutan. Jibril
memerintahkan aku supaya datang ke (kuburan) Baqi untuk kemudian aku
memohonkan ampun kepada Allah buat mereka (orang-orang yang dikubur di
Baqi).”

Aku (Aisyah) berkata: “Wahai rasulullah apa yang harus aku ucapkan (ketika datang ke kuburan) ?”

Beliau bersabda: “Ucapkanlah doa:

Keselamatan hendaknya tercurah kepada penghuni kubur dari
kalangan kaum mukminin dan kaum muslimin, semoga Allah memberi rahmat
kepada orang-orang yang mati terdahulu dan yang mati kemudian. Dan kami
insya Allah akan menyusul kemudian.” (2)

Hadits yang lainnya lagi adalah juga hadits Aisyah,

Saya mencari Rasulullah, kemudian tangan saya, saya selusupkan
ke rambutnya. maka Nabi bersabda: “Apakah setanmu sedang datang?” Saya
menjawab: “Apakah engkau tidak mempunyai setan?”. Beliau menjawab:
“Punya, tetapi Allah menolongku dari godaan setan itu sehingga is masuk Islam.” (3)
Teks kalimat yang ada dalam riwayat Muslim lebih jelas lagi dalam
menjelaskan maksud hadits di atas. Dalam riwayat Muslim tersebut
terdapat perkataan Aisyah sebagai berikut:

Rasulullah, telah keluar dari rumah Aisyah, is (Aisyah) berkata:
“Saya cemburu terhadapnya”.(2) Kemudian Rasulullah datang dan melihat
apa yang aku lakukan. Maka beliau bersabda: “Mengapa engkau wahai
Aisyah, apakah engkau cemburu?”

Aku menjawab: “Mengapa orang semacam saya tidak cemburu terhadap
orang seperti anda?”. Nabi bersabda: “Ataukah setanmu sedang datang
kepadamu?” al-Hadits. (4)

Demikian pu!a perkataan Aisyah dalam hadits berikut ini:

Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah Saya menyangka
beliau pergi ke istri yang lain. Lalu saya selidiki beliau, ternyata
beliau sedang ruku’ atau sujud sambil berdo’a: “Maha suci Engkau dan
MahaTerpuji Engkau, tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau.” Maka
saya berkata: “Sungguh-sungguh anda dalam keadaan satu keadaan
(ibadah), sedang saya dalam keadaan lain (digoda oleh rasa cemburu).”
(Hadits shahih yang dikeluarkan oleh Muslim: I/351-352; Abdul Baqi,
An-Nasi’i VII/72, ath-Thayalisi 1405 dan Iainnya).

Bohongnya Seorang Suami

Seorang suami boleh berbohong kepada istrinya dalam rangka membuat
perasaan istrinya lega dan dalam rangka memperdalam hubungan kasih
sayang antar keduanya. Hal itu didasarkan pada hadits Ummu Kultsum
binti Uqbah yang manyatakan:

Saya belum pernah mendengar Rasulullah membolehkan dusta sedikitpun malainkan pada tiga keadaan, di mana Rasulullah mengatakan:

“Aku tidak menganggapnya berdusta yaitu seseorang melakukan
perbaikan hubungan antar manusia, ia berkata dengan perkataan yang
tujuannya tidak lain untuk perbaikan hubungan itu, juga seseorang yang
berkata dalam peperangan dan seseorang yang berkata pada istrinya,
serta seorang istri kepada suaminya.” (5)

Menanggapi hadits di atas, Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Muslim:

“Adapun bohongnya seorang suami kepada istrinya dan bohongnya
seorang istri kepada suaminya, maksudnya ialah dalam kaitan melahirkan
kasih sayang, memberikan janji-janji yang tidak mengikat dan
sebangsanya.
Adapun bohong yang berisi tipu daya untuk tidak memenuhi hak salah satu
pihak, atau mengambil sesuatu yang bukan kepunyaannya, maka ini adalah
haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.”

Demikianlah, jadi cemburu merupakan pembawaan asli kaum wanita.
Karenanya para suami harus pandai-pandai menyiasati kenyataan-kenyataan
seperti ini. Termasuk kebohongan dalam arti memperdaya untuk merampas
salah satu pihak, atau mengambil sesuatu yang bukan kepunyaannya adalah
hal yang diharamkan. Wallahu a’lam.

__________________________________
Catatan Kaki
1 Aisyah mengira bahwa Nabi malam itu akan pergi ke sebagian istrinya
yang lain (Aisyah cemburu). Maka Nabi bersabda kepada Aisyah:

“Apakah engau mengira bahwa Allah dan Rasulnya mendzalimi kamu?”
Yakni bahwa seharusnya malam itu giliran Aisyah, kemudian Nabi disangka
pergi ke istrinya yang lain. Kalau itu terjadi berarti itu adalah
kedzaliman dan dosa. Tidak mungkin Rasullullah melakukan hal yang
demikian itu.

2 Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Muslim 111/14, Nasa’i IV/91-93; Vll/72-75; Ahmad VI/221 dan lainnya.

3 Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim XVII/158 Syarh Nawawi, dan Nasa’i VII/72. Lafal di atas adalah lafal Nasa’i.

4 Muslim XVII/ 158 Syarh Nawawi.

5 Hadits shahih dikeluarkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud
XIII/263; ‘Aunu al-Ma’bud, an-Nasa’i, Ahmad VI/404, Ibnu Jabir dalam
“Tahdzib al-Atsar” III/131,132,133; Al-Khatib dalam “al-Khitayah”
180-181 dan lain-lain.
Hadits ini memiliki Syahid dari hadits Asma’ binti Yazid yang
dikeluarkan oleh at-Tirmidzi VI/68 tuhfah aI-Ahwadzi, Ahmad
VI/454,459,461 dan Ibnu Jabir dalam “Tandzib al-Atsar” III/128,
demikian secara ringkas.

Bidadari Syurga, Ainul Mardiyah

Saturday, March 31st, 2007

       

Pengantar

Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran.
Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan
seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda
di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu
a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil
ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.
_________________________________________________

 

Dalam
suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin
Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak
berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat.
Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat
111, yang artinya sebagai berikut :

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta  mereka dengan memberikan sorga untuk mereka"

Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau
lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup
besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid,
benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka
dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid.
Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan
hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."

Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk
disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak.
Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang
lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke
medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia
bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda
tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.

Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat
pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku
ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai
ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul
Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas
aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah
kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di
bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak
para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang
indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya
berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."

"Assalamu’alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di
antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku
dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah
langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah
dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka
adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.

Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna
putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat
kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di
dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …"

Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik
duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku
mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat
kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda
melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku
tidak sabar lagi menanti terlalu lama".

Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan
musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit
dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat
anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak
tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah
dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).

Seindah Mentari Pagi….

Thursday, March 29th, 2007

Pagi itu di dapur….
" Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh… ", seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.
" Masya Allah…", seruku seraya mematikan kompor.
" Nah loh ibu lagi ngelamun ya… ?", goda Asih lagi.
" Ah, kamu ini… ayo mana belanjaannya ? ", tanyaku.
"
Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja
terus goreng tahu, tempe dan kerupuk". Asih, khadimatku sudah lama ikut
aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah
lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota
keluarga sendiri.

Selesai masak bareng Asih sambil menunggu
adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya
termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku
kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih
mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya’ berjamaah, Sarah putri
tunggalku menghampiriku di kamar.
" Ummi,… ummi lagi repot ? ", tanya Sarah.
" Nggak kog sayang, ada apa ? ".
" Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba’da isya ummi khan langsung asyik sama komputer ".
" He.. he.. Sarah,…Sarah….nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah… ? ".
" Eng.. eng… ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi ".
" Ya,… tentang apa nak ? ".
" Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. ".
" Janji.. ? ada apa memangnya ? ".
" Ya ummi, janji dulu ya mi yah… ? ", Sarah mulai dengan rengekan manjanya
" Iya deh insya Allah…. ".
"
Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai,
terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali
sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu
sebelum waktunya ", kata Sarah seraya menatapku.
" Hhhmm…. iya insya Allah ".
" Nah,… sekarang ummi dengarkan baik-baik yah…? ", pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.
" Iya…. ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog…", kataku mulai tak sabar.
"
Mmhhhh… begini ummi,…. akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir
kalau… mmhhh…mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah
dari dien Sarah ", kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.
Aku
masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat
untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah
dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah….Subhanallah…
Alhamdulillah… putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.

" Sarah,…subhanallah nak…", aku tak dapat meneruskan kata-kataku.
"
Ummi kaget Sarah,… tapi sekaligus juga bangga ", kataku seraya
memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. " Alhamdulillah
nak…. Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan
dengan abi. Nah,…mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai
takut-takut segala sih sayang.. ? ", godaku.
Sarah masih menunduk sambil tersenyum.
" Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?", tanyaku. "Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? ".
" Mmhh… sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi…. ", katanya perlahan.
" Heh… ?? Sarah sudah punya calon… kog abi dan ummi nggak tahu ? ".

Terus
terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati
dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu
sekarang sudah ada calon.
" Ummi masih janji kalau nggak memotong
sebelum Sarah selesai khan,…sekarang Sarah mau cerita yang lengkap ".
Sarah menarik nafas.
" Begini ummi,… ada temen pengajian Sarah di
kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan
diennya baik ".
" Hhmm…. lantas.. ", kataku tak sabar.
" Temen
Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang
Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid
untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya
Allah bisa cocok sama Sarah ".
" Hhhmmm… begitu ? ".
" Sarah
belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan
Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih.
Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah
kesini itu lho… ".
" Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini ".
"
Ummi,… abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita
kerjakan harus lillaahita’ala khan ? ", tanya Sarah. Aku hanya
mengangguk….
" Ummi,….insya Allah Sarah ingin pernikahan ini
juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah
ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan
keluarganya mi… Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya
isteri ".
" Heh….", seruku dengan terkejut.

Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.
"
Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum
dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering
sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,…. Sarah ingin bisa menolong
keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa
bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa
melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya
ummi,… Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah,
Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi…. Sarah sudah istikharoh
berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja ".

Aku hanya
terdiam,… tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin
suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal
itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata
apa….

" Ummi,…. ", panggil Sarah perlahan.
" Sarah,…sekarang ummi mau tanya ya nak… ".
" Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? ".
"
Begini ummi,…Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu,
pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi ".
" Hhmmm…. terus…. ".
"
Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi
sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih
kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,…sudah
fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi
kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi…. Sarah pingin bisa
bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga
bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri
yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi
yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi
robbani ."

Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian
makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku
berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing
dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian,
ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini
salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah,
tapi…kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah
beristri?…. Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih,
aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak
membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap
mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang
lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena
Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah
dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam
hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku
adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya
dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti
Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi
Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku
bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba…

" Assalamu’alaikum,…", suara Zakly kudengar dari teras depan.
" Wa’alaikumussalam,… loh kog sudah pulang ? ", tanyaku.
" Iya mi, dosennya nggak ada… lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog ", jawab Zakly seraya mencium tanganku.
" Ayo makan sekalian,…ummi baru saja mulai ".
" Sebentar mi, cuci tangan dulu… ".

Seperti
kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang
mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan
hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap
terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen
pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati,
konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.

" Ummi,…. ummi kenapa sih…? ", tanya Zakly.
" Oohh…nggak,… Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? ".
" Nah khan… ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong ".
" Nggak,.. kenapa tadi…. ? ".
" Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh… ".
" Ah masa sih,… itu khan perasaan Zakly saja.. ".
"
Bener kog… tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog
ummi pagi ini agak diam ya… nggak secerewet biasanya ".
" Eh,…ghibah ih,…ngomongin umminya ", sahutku sambil tersenyum.
" Bener kog… ummi nggak sakit khan ?? ".
" Nggak ummi nggak apa-apa kog… ".
" Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !", desak Zakly masih dengan ngototnya.
Sifat
Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo
belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.
" Ummi…ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja.." sahutku perlahan.
" Ha…. ha…. ", meledak tawa Zakly.
" Lho kog ketawa sih ? ",tanyaku.
" Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh…. dikit-dikit kangen pingin ketemu abi ".
" Yah wajar dong…. namanya juga suami isteri ".
"
Tapi ummi lucu deh… kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau
sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi… ", goda
Zakly lagi.
" Hhhmmm…. kata siapa ? ", tanyaku tak mau kalah.
"
Yah ummi…ngaku aja deh,…kalau ummi khan masih manja banget sama
abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti ", kata Zakly
masih sambil ketawa.
" Udah ah,… ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. ",sahutku.
" Mmmhh…ummi nggak mau ngakuin tuh…, sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang ", goda Zakly lagi.
" Udah,… cepat dihabisin maemnya Zakly… ".
" Iya nyonya besar…. ", kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.
" Ummi,…", panggil Zakly lagi.
" Apa lagi sholeh ?? ".
" Mmhh… Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi…. ".
" Kenapa memangnya… ? ".
"
Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat
abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti
pengantin baru saja ".
" Hhmmm… kalian khan nggak tau saja, pernah
juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam
rumah tangga ".
" Oya… kog Zakly nggak tahu.. ".
" Aduh anakku sholeh…. masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?".
" Iya.. ya…. ".
" Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya ".
" Terus mi…. ".
"
Ya sudah,…berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling
mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang
penting Zakly,… kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah
kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan
jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis
sholat misalnya ".
" Hhmmm… itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? ".
" Yah… alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran ".
" Iya mi,… Zakly tahu itu….subhanallah….
"Iya,…
Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita
mau ikut atau nggak ", kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat
habisin maemnya… ".
" Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini…. ".
" Hhmm… waiyakallahu.. ".

Dan tiba-tiba…. kring… dering suara telfon.
" Hallo,… ", angkat Yazid.
" ‘Alaikumussalam,… oh abi nih… Iya bi,… bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya….insya Allah…. ‘alaikumussalam… ".
" Dari abi, Yazid ?? ", tanyaku.
" Iya,… seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang ".
" Lho,… abi nggak minta dijemput ? ", tanyaku.
" Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan ".
" Insya Allah sebentar lagi abi pulang ". harapku.

Selesai sholat isya’….

" Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? ", tanyaku.
" Nanti aja mi,… enakan bareng-bareng abi aja.. ".
" Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi ".
" Nggak usah mi,… khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang ", jawab Fadhil lagi.
Dan benar, tak berapa lama kemudian….
" Assalamu’alaikum,…", suara suamiku dari teras depan.
" Wa’alaikumussalam… ", jawab kami berbarengan.
Kelakuan
mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat
abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak
percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya
untuk nikah. Ah,…nikah lagi… kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.

" Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang…", seru Zakly.
" Zakly,…apa-apa an sih ya…", kataku sambil melotot.
" Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja… ", goda Zakly lagi.
" He.. he…. memang tadi siang ummi kenapa Zakly ", tanya suamiku.
" Tadi siang nih bi…. ".
" Udah Zakly,… abi baru aja dateng,… cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem ", potongku langsung.
" Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin ", kata Sarah.

Seperti
biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama.
Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan
suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang
dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah,
biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat
berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau
sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.

" Oya,…tadi Zakly bilang apa tentang ummi ", tanya sumiku mendadak.
" Oh,… he.. he.. ini ummi,… ".
" Kenapa Zakly ? ", tanya Yazid.
"
Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol
ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,… Zakly pikir
kenapa gitu…. ".
" Trus…. ", potong Fadhil.
" Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga… ".
" Ummi bilang apa… ? ", tanya suamiku.
"
Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu
ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu
gimanaaa.. gitu ".
Langsung, tawa mereka memecah…
" Ih,… ummi
perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala,
orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah ", sahutku.
" Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu ".
" Oooohh…. pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya ", sambung Yazid.
" Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa ", kata Fadhil

Mereka
masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku
seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa
seharian ini aku agak aneh.
" Iya mi,…bener ya apa yang Zakly bilang ", tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.
" Hhmm…. ", aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.
Mendadak tawa mereka memecah lagi….
" Lho,… kenapa sih… ?? ".
" Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan ", kata Zakly.
" Ummi… ummi…,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih… ", kata suamiku.
" Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? ", tanya suamiku ke mereka.
" Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,… ", kata Zakly.
" Udah ah,… nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..", kataku mengalihkan pembicaraan.

Setelah
suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga
seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai
dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang
menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako
yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi
dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah
banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta
kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa,
mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam
bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur’an dan sunnah Rasul
yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola
kehidupan masyarakat akan menjadi baik.

Dari balik layar monitor
kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan
mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara
yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer,
tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku
lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan
cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik
suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka
masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita.
Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas
berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar
masing-masing. Setelah dunia dalam berita….
" Abi nggak capek,… khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? ", kataku.
" Besok saja diterusin obrolannya,… atau kalian ngobrol berempat saja… ", sambil kutatap mereka.
" Kasian abi dong…. ", sambungku lagi.
" Hhhmm…. hhmm…. ", Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.
" Iya deh,…lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi ", kata suamiku.
Tawa mereka memecah lagi…
" Bukan,… bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja ", bantahku.
" Iya..iya…udah yok mi,.. kita bobo…", ajak suamiku.
" Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar ", perintahku pada mereka.

Kulirik
jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku
bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah
sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat
tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,… nggak mungkin malam ini,
besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin
rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap
suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku.
Yah,… insya Allah nanti selepas shubuh…

Setelah qiyamul
lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur’an dengan
suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid.
Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama’ah di rumah. Pada halaman
terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah
kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku
yang sedang duduk di tepi tempat tidur….

" Mas,… mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? ".
" Nggak kog,… mas nggak ngantuk, kenapa de’ ? ".
" Mmhhh… ada yang mau ade’ omongin sama mas… ".
" Iya,.. tentang apa de’ ? ", tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.
" Mmhh.. ini tentang Sarah mas,… ".
" Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? ".

Akhirnya
kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku
terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap
keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan
putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada
sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang
menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan
Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku
menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir
bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari
madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang
wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali
ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila
menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau,
karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi
aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia.
Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.

" De’,… mas tahu,…ade’ sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas ", kata suamiku perlahan.
"
Tapi de’,… ade’ tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah
cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan
amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan
Zakly ".
" Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada
ade’ yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua
nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,…sekarang
misalnya ade’ ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan,
kesepian…, padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi
pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi
sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan ‘ummi’ dari
seorang anak yang lucu. Gimana coba ? ", tanya suamiku dengan lembut.
"
Dari cerita ade’ tadi,…Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah
lagi, rasanya apa yang ade’ khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi
deh…Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya
Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade’ juga tau
khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang
menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah,
cuma Allah yang tahu ade ‘…., kita tidak tahu apa-apa… ".

Sampai
sini air mataku mulai menetes…Astaghfirullah…Ampuni aku ya
Allah,… aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah
milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya… " Ade’,..ade’ inget khan
kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak
boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di
jalan-Nya ? ",tanya suamiku.
Aku hanya mengangguk….
" Jadi
insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan
Sarah nanti…., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah
hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya ".

Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang…
" Mas,…", panggilku lirih.
" Ya sayang… gimana ? ", tanya suamiku,
" Iya mas…ade’ sudah tenang sekarang,…kalau tadi meskipun ade’ setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya ".
" Kalau sekarang.. ? ", tanya suamiku.
"
Ade’ sekarang sudah ikhlas mas,… hati ade’ sudah plong rasanya, ade’
sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya
mas ?? ".
" Nah,… gitu dong… insya Allah Sarah, Asma dan Farid
bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani,
kita tinggal mendo’akan mereka saja de’…".
" Tapi mas,… ", kataku tertahan.
" Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?
"
Bukan begitu,… cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah
ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya ", kataku penuh
curiga.
" Mmmhhh… sebenernya sebelum ade’ cerita tadi mas udah tau kog de’… ", kata suamiku.
" Hah…. ?? ", tanyaku heran.
" Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas… ".
" Lho.. ??? ".
"
Iya,… Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu
mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang
dari Jakarta cerita ama ade’, terus pas ade’ lagi belanja sama Asih mas
interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah.
Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta
Yasmin bilang ke Sarah, begitu de’ ", penjelasan suamiku.
" Lho,..
Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade’ kalo mas sebenarnya sudah
ngomong sama Sarah duluan ?", tanyaku masih kebingungan.
" Iya,…
mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade’ saja, tanya
pendapat ade’ gimana gitu… . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah
langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade’ masih belum tahu
apa-apa", kata suamiku lagi.

Subhanallah….betapa suamiku
sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil
keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk
berunding terlebih dahulu.
" Tapi mas,…ade’ masih mau tanya lagi nih.. ", kataku.
" Iya sayang,… kenapa lagi ? ".
" Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? ".
" Mmmhh….mmmhh….", suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.
Dan
aku tahu apa itu artinya…suamiku tidak akan menjawab pertanyaan
semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap
Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti
ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.
" Yang penting de’,… kita berdo’a aja untuk kebahagiaan mereka ", ujar suamiku.
" Hhhmm… iya deh,… yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka ", kataku.
"
Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade’ gelisah
soalnya ada yang mau ade’ omongin sama mas, ya khan ?", tanyaku.
"
Iya doonngg…., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa
menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade’ berusaha
nutup-nutupin juga… ".
" Berarti mas tau dong sebenarnya ade’ pingin ngomong kemaren ? ", tanyaku lebih gencar.
" Iya dong…tau dong….", kata suamiku sambil tertawa.
"
Ih,… mas jahat,… nggak mau dibahas dari kemarin saja… mas tau
nggak, ade’ tuh semalam nggak nyenyak bobonya,… pingin cepat-cepat
pagi biar cepat cerita sama mas… ", jelasku.
" Iya…. mas juga tahu, mas iseng saja… sekalian melatih kesabaran ade’…", sambung suamiku masih tertawa.
" Mas jahat ih…. sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya… ", kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.
"
He.. he…. alaah de’…. mau ketawa aja pakai gengsi segala sih…. ",
kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. " Hhmmmm…. si mas….",
aku sudah kehabisan kata-kata.

Tiba-tiba suara pintu kamar
diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly
yang berani mengetuk seperti itu…
" Abi,… Ummi,…. pada mau pamitan nih…. ", teriak Zakly dari luar.
" Hhmm….Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa ", kataku sambil membuka pintu kamar.
" He.. he…. abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.
" Lho bi,… kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? ", tanya Fadhil.
" Iya,… nanti agak siangan… ", jawab suamiku.
" Udah pada sarapan ? ", tanyaku.
"
Udah dong…. khan kita sarapan sendirian…. ummi sama abi khan masih
di dalam kamar ", kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
" Khan udah pada gede juga…. ", kataku sambil tertawa.
" Ya udah mi,… berangkat dulu nih…. ", kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.
" Sarah,…berangkat ya mi… ", katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.
"
Iya nak,… hati-hati ", lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun
membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik
bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca….
" Woow… Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja ", goda Zakly.
" Udah ah,… kamu khan nggak tahu ", balas Sarah.
" Lho memangnya ada apa sih mi… ? ", tanya Fadhil.
" Udah,… sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas… ", kata suamiku.
" Lho… emang ada apa… ?? ", tanya Zakly lagi.
"
Udah…. berangkat sana…. ingat Zakly kalau naik motor jangan
ngebut….terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi
musim macam-macam penyakit ", kataku mulai lagi dengan segala
pesan-pesan.
" Yah,…. ummi balik lagi dah… padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? ", kata Zakly.
" Iya nih ummi… habis abi sudah pulang sih…", timpal Yazid.
" Iya,… balik lagi deh berisiknya ", tambah Zakly.
" Zakly,… kog ngomong gitu sama umminya.. ", kataku.
" Afwan mi,.. becanda mi…. ", kata Zakly sambil memeluk bahuku.
" Hhmmm… udah ah,..pada terlambat lho nanti… ".
" Assalamu’alaikum….", kata mereka berbarengan.
" Wa’alaikumussalam…".

Aku
antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar
mentari pagi di teras depan, aku termenung,….alhamdulillah aku
bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah,
tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta
mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata….

Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota
‘ayun waj’alnaa lil muttaqiina imaama…
Amiin Ya Rabbal ‘aalamiin….

Kisah Sebuah Pernikahan

Thursday, March 29th, 2007

Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru. Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.  

Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama ‘buntelan karung hitam’ itu ….?!?"

  

Duh……, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut ‘buntelan karung hitam’.

   

"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.

    

"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu…?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

    

"Oh…. rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!"

 

DEGG !!!!

 

   

"Yanto…. jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

  

"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah …akhi," sekali lagi
Ismail memberi semangat padaku.

   

"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai !" Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.

  

"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."

 

    

Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

         

"Assalamu’alaikum …. permintaan hafalan Qur’annya mau di cek kapan De’…?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui. "Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat
dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.

   

Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku ‘tidak menarik’. Sekelebat pikiran itu muncul ….dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

     

"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta’aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya.

  

Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka," …

     

Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak." (QS An-Nisa:19)

    

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

   

"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."

   

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.

  

"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh… saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.

 

"Tidak…De’.

    

Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.
Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.

 

  

Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do’a kubentangkan pada Nya.

    

"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu.

     

Karera itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !
"Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku….
benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.

     

Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya. "…dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
pada Allah …" (QS. al-Baqarah:165)

 

 

 

 

=========================================

 

   

Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih. Amiin…

Kasih Sepanjang Jalan

Thursday, March 29th, 2007

Di
stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku
erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku
mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun
sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo
tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.

 

Stasiun
yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang
kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah
perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku
masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi
itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku
menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.

 

Tiga
hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak
beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit
keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal,
pulanglah meski sebentar, kakc". Aku mengeluh perlahan membuang sesal
yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa
kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia
bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu
seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba
rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin
menyesalc

 

Sebenarnya
aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di
sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus
dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di
negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan
sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.

 

Sudah
hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku
menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota
kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam
rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.

 

Masih
tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika
aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku
kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak
perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih
karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat
itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.

 

Pada
akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing.
Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan
dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk
rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu
banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang
bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak
tuntutan.

 

Namun
ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah
aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian
diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus
rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja,
aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.

 

Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres
yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu,
sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat
ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan
sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir
semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan
melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan
tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi
ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali
berputar dalam ingatanku.

 

Ibu..ya
betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu
dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar.
Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan
musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan
dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku
pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap
bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya.
Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku
pulang bu, maafkan keteledoranku selama inic" bisikku perlahan.

 

Cahaya
matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru
ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang
terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi
pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku
teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa
dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak
terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka
sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang
banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun
terhadap orang tua.

 

Aku
sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin
padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan
dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas
membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau
selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres
saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya.
Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk
menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya
sering memendam gelisah.

 

Riko
juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan
sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat
bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan
waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak
membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi
di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah.
Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya.
Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara
kerja dan keluarga.

 

Melihat
anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku
alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku
jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima
anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku
menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku
mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan
ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku
menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah
peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin
mencium tangan ibu….

 

Di
luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan,
semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin
kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap
sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu
sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu’ tahajud di tengah
malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur’an adalah pemandangan biasa
buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah
sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.

 

Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass
di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam
perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu
seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area,
membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi
kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak
yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil
berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan
putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.

 

Yogya
belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku
meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota
ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu
aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah
membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya.
Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua
hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.

 

Rumah
berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih
seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu,
tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang
berubah, ibu…

 

Wajah
ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu
tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak
sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu…Rini
datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu
perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air
mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum
yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama
kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah
oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang
sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa.
"Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari
semua kekeliruanku selama ini.