Berlian-Berlian Rosululloh SAW

September 9th, 2007 by ivhenx

Berlian yang
pertama, adalah Rasulullah yang agung ini hidup Zuhud luar biasa. Ia
ikhlas tidur diatas tikar kasar hingga garis tikar tadi membekas di
punggungnya. Bahkan tak jarang ia mengikatkan batu ke perut untuk

                         
                           
                           


menahan rasa laparnya. Ketika Tuhan menawarkan kekayaan dunia, Nabi
berakhlak paling mulia ini lebih memilih hidup Zuhud dan sederhana.
Rasulullah bersabda:

“Tuhanku menawarkan kepadaku bukit-bukit di Mekkah untuk dijadikan
sebagai emas. Lalu saya menjawab : ”Hamba tidak mengharapkan itu semua
wahai Tuhanku. Akan tetapi, saya lebih senang sehari lapar dan sehari
kenyang. Tatkala kenyang, saya memuliakan dan bersyukur kepada-Mu.
Sementara tatkala saya lapar,saya merendah dan berdoa kepada-Mu
.” (HR. Ahmad)

BERLIAN KEDUA

Perhatian dan keperdulian Beliau kepada para sahabatnya seperti
matahari menyinari bumi. Jika ia tak melhat sahabatnya selama tiga
hari, ia akan menanyakan keadaannya. Jika sang sahabat tidak ada di
rumah, beliau mendo’akannya. Sementara bila sang sahabat berada di
rumah, beliau mengunjunginya.

BERLIAN KETIGA

Kemulian akhlaknya bak rembulan di kegelapan malam. Beliau sangat
menghormati dan menyayangi tetangga.Tidak ada yang meminta kepadanya,
kecuali beliau mengabulkannya. Beliau tidak berbincang dengan
seseorang, kecuali disertai harapan kebaikan baginya. Beliau juga
sangat menghormati wanita dan menyayangi anak-anak. Jika berpapasan
dengan sekumpulan kaum wanita beliau akan mengucapkan salam terlebih
dahulu pada mereka. Ia juga mengucapkan salam pada anak-anak belia.

BERLIAN KEEMPAT

Rasulullah Yang mulia dan kesayangan Tuhan ini seorang yang rendah hati
serta tak pernah diam berpangku tangan. Beliau menambal sandalnya,
menjahit sendiri pakaiannnya, memerah susu kambing peliharaannya dan
mengerjakan sendiri semua keperluannya.

BERLIAN KELIMA

Beliau adalah suami paling manis dan romantis perlakuan pada istri-istrinya.Ini seperti digambarkan Aisyah dengan indah : “Para
tentara berkumpul dan menari di mesjid pada hari raya. Lalu Nabi
memanggilku. Saya menyandarkan kepala saya di pundak beliau. Dengan
begitu saya bisa melihat permainan mereka sampai saya puas melihatnya.”
(HR. MUSLIM)

BERLIAN KEENAM

Nabi Pilihan dan teladan manusia sepanjang jaman ini sangat menghormati
pelayannya. Ia memperlakukan mereka dengan akhlaknya yang bak kilauan
berlian di tengah samudera kehidupan. Anas menuturkan :
”Selama sepuluh tahun saya menjadi pelayan Rasulullah SAW, tidak pernah
sama sekali beliau mencela saya,memukul, atau membentak saya. Beliau
tidak pernah bermuka masam pada saya. Beliau juga tidak pernah mencaci
maki saya karena keterlambatan saya
dalam melaksanakan suruhannya.”
(HR. AHMAD)

BERLIAN KETUJUH

Akhlak beliau merupakan perwujudan Al Qur,an, kepribadiannya merupakan
samudera berlian sepanjang jaman. Abu Abdillah Al-jadali bertanya
kepada Aisyah : “Bagaimana
akhlak Rasulullah SAW menurut istri-istrinya?” Aisyah menjawab :
“Beliau adalah manusia yang paling baik budi pekertinya, Tidak pernah
berbuat keji, kotor atau licik ketika di pasar. Beliaupun tidak pernah
membalas keburukan atau aniaya orang lain dengan hal yang serupa,
karena beliau seorang pemaaf dan toleran.”
(HR. Bukhari)

BERLIAN KEDELAPAN

Beliau menjauhkan diri dari tiga hal: debat kusir, banyak bicara, dan
segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Selain itu, beliau juga
mengiginkan manusia menjauhi tiga hal yaitu: tidak mencela orang lain,
tidak mengungkap aibnya serta tidak mencari-cari kesalahannya.

BERLIAN KESEMBILAN

Kecintaannya pada orang-orang papa seperti air bening mengalir
sepanjang kesejukan pegunungan. Ia berjalan akrab dengan para janda
serta para kaum fakir miskin. Adakalanya dengan penuh cinta beliau
menjahitkan sandal buat orang-orang papa serta menjahitkan pakaian
untuk para janda.


BERLIAN KESEPULUH

Rasulullah SAW adalah orang banyak berzikir dan menghindari diri dari
perkataan yang sia-sia. Banyak diam, mengawali dan mengakhiri perkataan
dengan bahasa yang fasih sekali. Berbicara dengan bahasa yang singkat
dan jelas tapi mempunyai makna yang sangat luas. Berbicara dengan
perlahan dan tidak berlebihan.

BERLIAN KESEBELAS

Rasulullah adalah orang yang paling bersyukur kepada Allah. Walau
beliau sudah mendapat jaminan Sorga dan mendapat ampunan segala
dosanya. Beliau tetap taat melaksanakan ibadah hingga telapak kakinya
pecah-pecah. Ketika Aisyah, Istri terkasih bertanya, mengapa tetap
beribadah, padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni Illahi Rabbi. Dengan
indahnya Rasulullah menjawab : “Wahai Aisyah tercinta, bukankah seharusnya saya menjadi hamba yang selalu penuh syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

Itsar, akhlaq mulia dan luhur

August 23rd, 2007 by ivhenx

“Dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang

 

yang beruntung.” (QS. 59:9)

Itsar adalah salah satu akhlaq mulia dan luhur, ia merupakan salah satu
sifat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sehingga Allah menyebut
beliau sebagai ‘ala khuluqin ‘adzim, senantiasa berada di atas akhlaq
yang luhur. Maka tidak mengherankan jika para shahabat yang merupakan
hasil didikan dan gemblengan beliau menjadi manusia-manusia pilihan.
Sehingga sejarah kemanusiaan rasanya sulit sekali dapat melahirkan
manusia-manusia semisal mereka.

Hal itu sangatlah berbeda jauh dengan realita kehidupan di masa kini,
dimana egoisme, individualisme, mau menang sendiri dan tidak memikirkan
orang lain benar-benar telah melanda sebagian besar umat manusia, tak
terkecuali umat Islam pun banyak yang terkena virus ini. Asalkan
dirinya telah kaya raya, dapat menumpuk harta, hidup serba enak dan
kecukupan, maka sudah cukup, itulah kira-kira prinsip mereka. Orang
lain susah, tetangga kelaparan, miskin dan menderita itu urusan mereka
sendiri, tidak ada urusan dengan dirinya. Jangankan sampai ke tingkat
itsar, sekedar sedikit membantu atau meringankan beban saja terkadang
enggan, alasannya karena harta yang didapat adalah hasil kerja dan
usahanya sendiri, sehingga sayang kalau diberikan dengan percuma dan
cuma-suma kepada orang lain. "Enak saja, saya yang bekerja mengapa
orang lain ikut-ikutan menik-matinya," demikian kira-kira ungkapan yang
mungkin keluar dari mereka. Sungguh memprihatinkan memang.

Maka membuka kembali lembar kehidupan para shahabat yang menggambarkan
sikap pengorbanan, mendahulukan orang lain dan mengalah adalah sangat
perlu bagi kita, apalagi ketika krisis dan kemiskinan tengah melanda
bangsa kita seperti saat ini. Dari mereka dan juga para ulama, kita
akan mendapatkan pelajaran dan teladan yang berharga, sebagaimana
tersebut di dalam riwayat-riwayat berikut ini.

Seorang Shahabat dengan Tamunya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa suatu ketika ada
seorang tamu datang kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, seluruh
istri beliau tidak memiliki apa-apa, kecuali hanya air. Maka Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, "Barang siapa di antara kalian
yang mau menjamu tamu ini, maka Allah akan merahmatinya." Seorang
laki-laki kaum Anshar berdiri dan berkata, "Saya akan menjamunya wahai
Rasulullah." Maka diajaknya tamu tersebut ke rumahnya. Sesampai di
rumah dia berkata kepada istrinya, "Apakah engkau masih memiliki
sesuatu? Sang istri menyahut, "Tidak, selain sedikit jatah buat anak
kita." Maka diapun berkata kepada istrinya, "Bujuk dan iming-imingi
anak-anak dengan sesuatu, kemudian apabila tamu kita masuk rumah
matikanlah lampu dan buatlah kesan, bahwa kita juga sedang makan.
Apabila nanti tamu sudah siap makan, maka kamu segera mematikan lampu
tersebut. Berkata perawi, "Mereka sekeluarga hanya duduk-duduk saja
(tidak makan), sedangkan tamunya makan. Lalu pada pagi harinya orang
tersebut datang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, Nabi
bersabda, "Allah heran dengan tingkah kalian berdua terhadap tamu
kalian tadi malam," maka Allah menurunkan ayat (QS. Al Hasyr ayat 9).
(HR. Al Bukhari dan Muslim)

Kisah Sa’ad bin ar-Rabi’ dengan Abdur Rahman bin Auf

Abdur Rahman bin Auf mengisahkan, "Ketika kami sampai di Madinah,
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mempersaudarakan aku dengan Sa’ad
bin ar Rabi’, maka Sa’ad bin ar Rabi’ mengatakan, "Sesungguhnya aku
adalah orang Anshar yang paling kaya, maka aku akan bagikan untukmu
separuh hartaku, dan silakan kau pilih mana di antara dua istriku yang
kau inginkan, maka akan aku lepaskan dia untuk engkau nikahi. Perawi
mengatakan, "Abdur Rahman berkata, "Tidak usah, aku tidak membutuhkan
yang demikian itu." (HR al Bukhari dan Muslim, lafal hadits milik al
Bukhari)

Umar Ibnul Khaththab dengan saudaranya Zaid Ibnul Khaththab

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umarzdia berkata, "Umar bin Khaththab
berkata kepada saudaranya Zaid Ibnul Khaththab pada waktu perang Uhud,
"Aku bersumpah agar kamu mau memakai baju besiku ini, maka Zaid pun
memakai baju besi itu namun ia melepaskannya lagi. Maka Umar berkata
kepadanya, "Ada apa denganmu (mengapa kau lepas)?" Maka zaid menjawab,
"Aku menghendaki terhadap diriku sebagaimana yang engkau kehendaki
terhadap dirimu." (HR Ibnu Sa’d dan ath Thabrani dalam al Ausath)

Tiga Shahabat Menjelang Naza’

Dari Abdullah bin Mush’ab Az Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit,
keduanya menceritakan, "Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin
Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr. Mereka ketika itu
akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis, namun
kesemuanya saling menolak. Ketika salah satu dari mereka akan diberi
minum dia berkata, "Berikan dahulu kepada si fulan", demikian
seterusnya sehingga semuanya meninggal dan mereka belum sempat meminum
air itu. Dalam versi lain perawi menceritakan, "Ikrimah meminta air
minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah
berkata, "Berikan air itu kepadanya." Dan ketika itu Suhail juga
melihat al-Harits sedang melihatnya, maka iapun berkata, "Berikan air
itu kepadanya (al Harits). Namun belum sampai air itu kepada al Harits,
ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air tersebut
(sedikitpun). (HR Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr
dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah
sebagai ganti Suhail bin Amr)

Abu Thalhah dengan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Abu Thalhah pada perang Uhud
menjadi pasukan panah dengan posisi di depan Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam, dia memang seorang yang ahli memanah. Apabila Abu Thalhah
memanah maka Rasulullah memperhatikan kemana sasaran anak panahnya
mengena. Maka Abu Thalhah mengangkat dadanya (untuk melindungi Nabi)
seraya berkata, "Begini wahai Rasulullah, supaya engkau tidak terkena
sasaraan panah musuh, biarlah yang terkena adalah leherku bukan
lehermu."(HR Ahmad dan selainnya, sanadnya shahih)

Hadiah Kembali Kepada si Pemberi

Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu berkata, "Salah seorang dari shahabat
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam diberi hadiah kepala kambing, dia lalu
berkata, "Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini
daripada kita." Ibnu Umar mengatakan, "Maka ia kirimkan hadiah tersebut
kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu di kirimkan dari
satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan
akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan." (Riwayat
al Baihaqi dalam asy Syu’ab 3/259)

Ibnu Umar dan Pengemis

Nafi’ maula (klien) Ibnu Umar meriwayatkan, "Ibnu Umar suatu ketika
sakit, dia sangat menginginkan anggur pada awal musimnya. Maka dia
mengutus Shafiyah (istrinya) dengan membawa satu dirham untuk membeli
anggur segar. Ketika pelayan (utusan) mengantarkan anggur, dia diikuti
oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, maka utusan
masuk. Dari luar berkata pengemis, "Ada pengemis." Maka Ibnu Umar
berkata, "Berikan anggur itu kepadanya." Maka utusan itu memberikan
anggur tersebut kepada si pengemis.(HR al Baihaqi dalam asy Syu’ab
3/260). Dan demikian itu terulang hingga dua kali, sehingga Shafiyah
meminta agar pengemis itu tidak kembali lagi untuk ketiga kalinya.

Ummul Mukminin Aisyah Radhiallaahu anha dan Orang Miskin

Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha, bahwa ada
seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa,
sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering,
berkata Aisyah kepada pembantunya, "Berikan roti itu kepadanya," si
pembantu menyahut, "Anda nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka
puasa. Maka beliau berkata lagi, "Berikan roti itu kepadanya." Perawi
mengatakan, "Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, "Belum
menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang
pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia
bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, "Makanlah engkau, ini
lebih baik daripada rotimu tadi." (HR Malik dalam al Muwaththa’ 2/997)

Bersama Para Salaf.

Al-Haitsam bin Jamil meriwayatkan bahwa Fudhail bin Marzuq datang
kepada al Hasan bin Huyaiy karena ada kebutuhan yang sangat mendesak,
sedangkan dia tidak punya apa-apa. Maka al Hasan memberikan enam dirham
dan dia memberitahukan, bahwa ia tidak memiliki selain itu. Maka
Fudhail berkata, "Subhanallah, Saya mengambil semuanya sedangkan engkau
tidak punya yang lain?” Namun al Hasan enggan mengambil semua nya, dan
Fudhail juga enggan. Akhirnya dinar itu dibagi dua, dia ambil tiga
dinar dan dia tinggalkan tiga dinar. (Tahdzib al Kamal 23/308)

Diriwayatkan dari Yahya bin Hilal al Warraq dia berkata, "Saya datang
kepada Muhammad bin Abdullah bin Numair untuk mengadukan sesuatu
kepadanya, maka dia mengeluarkan empat atau lima dirham seraya berkata,
"Ini separuh harta yang ku miliki. Dan dalam kesempatan lain aku
mendatangi Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dia mengeluarkan empat dirham
dan berkata, "Ini keseluruhan yang aku miliki." (riwayat Ibnul Jauzi
dalam Manaqib Imam Ahmad hal 320)

Dari Aun bin Abdullah dia berkata, "Seseorang yang sedang berpuasa
berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya,
ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan
kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, "Sepotong tidaklah
membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka
kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar." Akhirnya ia
berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur
dia bermimpi didatangi seseorang dan berkata, "Mintalah apa saja yang
kau kehendaki." Dia menjawab, "Aku minta ampunan. Orang tersebut
berkata, "Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!"
Dia berkata, "Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan."
(riwayat ad Dainuri dalam al Mujalasah 3/47)
Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Kutaib “Mawaaqif min Itsar as-Shahabah was salafus shaleh” al-Qism al-Ilmi Darul Wathan,)

LELAKI DAN AIR MATA

August 16th, 2007 by ivhenx

Rasanya mungkin aneh sewaktu saya mengatakan pada seseorang "Ayolah kawan, menangislah, Jangan simpan tangismu kalau memang ada yang ingin kamu tangisi". Mungkin (lagi !) hal tersebut tidak akan menjadi aneh kalau saya mengatakan hal tersebut pada seorang teman wanita, tapi masalahnya saya mengatakannya pada seorang teman lelaki. Namun, apakah pendapat seperti itu memang benar ataukah salah ? Tapi satu hal yang pasti, saya mengatakan hal tersebut bukan lantaran ingin menunjukkan saya lebih tegar dibanding dia dan ingin menunjukkan kelemahannya, atau biar saya bisa berbicara " ternyata dia seorang yang cengeng" atau pendapat-pendapat yang bertendensi melemahkan kaum lelaki lainnya. Tentu saya tidak berani, sebab dia ataupun kaum lelaki lainnya pasti tidak menyukai hal tersebut dan saya pasti akan mendapatkan kritik yang begitu banyak.

Ya, saya berbicara seperti itu pada teman saya karena saya merasa bahwa airmata itu bukan hanya milik kaum hawa saja, dan ini diperkuat oleh tazkiah dari sesorang yang dimuat disalah satu majalah ibukota.

Airmata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani kita. Tangis dan airmata tidak lantas identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, cuma kadarnya saja yang berbeda. Yang jelas, secara umum laki-laki itu lebih "miskin" perasaannya dari pada wanita.

Lelaki yang gampang menangis juga bukan lelaki banci, dan tentu saja predikat ini sungguh sangat merendahkan derajat dan martabatnya serta sangat menyinggung harga dirinya sebagai makhluk yang (maaf) superior, sehingga menangis adalah hal yang tabu dan pantangan bagi laki-laki. Maka, sebagai laki-laki harus tahan dalam situasi apapun, jangan sampai ada butir-butir bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain. Kurang proporsionalnya laki-laki dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya akan menjadikan kaum lelaki bertambah "miskin" kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah sosok yang kaku, penuh dengan perhitungan-perhitungan, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati.

Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu hal yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya persaan yang ia miliki. Kehalusan dan kelembutan perasaan ini, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tapi justru akan menjadian ia sebagai sosok pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan bagi orang lain. Sebab kehalusan dan kelembutan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sifat benar, sementara sabar dan benar adalah dua pilar yang harus dimiliki oleh laki-laki yang ingin sukses menjalankan fungsi ke-qowam-annya.

Memupuk sikap benar dengan mengenyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap’ ke-qowam-an menjadi tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan, dan kepekaan rasa, sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita, sebab dalam batas yang proposional menjadi hal yang harus dimiliki juga oleh laki-laki. Misalnya dalam hal kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu ‘mengendalikan’ istrinya itu. apalagi bila istrinya itu memiliki karekteristik yang khas dan sedikit ‘rumit’, tentu saja ini semua membutuhkan kepekaan rasa.

Demikian juga tangis dan air mata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki-laki. Maka, jangan simpan tangismu wahai lelaki, bila ada sesuatu yang membuat kau ingin menangis, sebab tangis tidak selamanya identik dengan kecengengan kalau itu benar keluar dari kehalusan dan kelembutan rasa. sementara kehalusan dan kelembutan rasa bukan hanya milik kaum wanita, tapi juga milik lelaki, sebab adalah sesuatu yang universal, setiap orang pasti punya meski dengan kadar yang bebeda.

Wallahu A’lam bisshawab

Ujian Seseorang itu Sesuai dengan Kadar Keimanannya

August 16th, 2007 by ivhenx

Saad bin Abi
Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Ya Rasulullah,
siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’ Nabi saw.
menjawab, ‘Para nabi, kemudian yang menyerupai mereka, dan yang

                         
                         
                           


menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau
agamanya tipis (lemah), dia diuji sesuai dengan itu (ringan); dan bila
imannya kokoh, dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji
terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari
dosa-dosa’." (HR Bukhari)

Sesungguhnya ujian bagi seorang hamba itu berdasarkan agamanya. Jika
agamanya kuat, ia akan diuji dengan ujian yang berat. Sebailknya, jika
agamanya lemah, ia akan diuji dengan ujian yang ringan. Para rasul dan
para nabi adalah orang-orang yang utama karena mereka mendapat ujian
dari Allah sangat berat. Ujian yang mereka terima tidak akan sanggup
dipikul oleh orang biasa (awam). Ketika berdakwah menyebarkan agama
Islam, Rasululah saw. dituduh sebagai tukang sihir. Beliau difitnah
dengan berbagai macam cara oleh orang-orang musrik kaum Quraisy.
Orang-orang kafir membuat makar kepada Rasulullah, tetapi akhirnya
Allah memenangkan agama Islam ini.

Seseorang yang hendak memegang teguh agamanya pasti akan mendapati
berbagai tantangan-tantangan, baik tantangan dari luar maupun dari
dalam. Tantangan itu bisa datang dari mana saja. Seperti yang terlihat
sekarang ini, ujian sekarang ini banyak sekali yang berasal dari
kalangan umat Islam sendiri. Ketika seorang ulama menyuarakan
kebenaran, ada saja yang menentangnya. Ketika goyang haram Inul
diprotes, ada saja yang menentangnya. Bahkan, suara yang menentang
kebenaran itu justru lebih kuat daripada yang membelanya. Kita jadi
bertanya sebenarnya mereka orang-orang yang memiliki organisasi kuat
itu di mana. Mana reaksi dari Muhammadiyah? Mana reaksi dari Al-
Irsyad? Mana reaksi dari NU? Mana reaksi dari Persis? Mengapa kalian
tidak satu suara. Ini adalah tantangan yang besar yang dihadapi umat
ini. Dia, Rhoma Irama yang bukan ulama, malah berani mendukung protes
ulama, hingga dia sendiri melakukan tindakan nyata. Kini dia sedang
dipojokkan, apa dukungan kita untuk para pembela kebenaran itu? Ketika
pornografi menggema, ketika pornoaksi menggelora, mana reaksi
organisasi-organisasi Islam yang besar-besar itu. Untuk apa organisasi
Islam didirikan kalau tidak untuk menegakkan nilai-nilai syariat Islam!

Pada zaman modern sekarang ini orang yang memperjuangkan kebenaran akan
tersisih. Pada umumnya mereka yang kokoh memegang kebenaran dan berani
mengatakan dengan keras dan terbuka justru malah yang dimusuhi dan
dibenci. Abu Bakar Baasyir, misalnya, adalah salah satu tokoh yang
berani menyuarakan kebenaran meskipun di hadapan raja. Beliau kini
menghadapi berbagai tantangan yang berat. AS menghendaki orang yang
berjuang keras menegakkan syariat Islam ini lenyap dari peredaran.
Sekarang beliau ditahan dan sedang dibawa ke meja hijau. Orang-orang
seperti beliau benar-benar menghadapi ujian yang berat. Dengan nyata
dan jelas beliau dan mereka yang konsisten dengan menegakkan kebenaran
adalah yang menyerupai para nabi. Itulah sebabnya barangkali para tokoh
muslim enggan untuk menyuarakan hati nuraninya dengan terang-terangan
karena takut tersisih. Apalagi, para pemimpin organisasi Islam
terkemuka, mereka memiliki harapan menjadi calon legislatif dan
eksekutif. Mereka takut tersisih dari arena politik. Oleh karena itu,
mereka menganggap lebih baik ngumpet daripada keluar.

Kita tidak sepatutnya bersikap demikian. Kita dituntut untuk
mengamalkan agama ini sebaik-baiknya, yang benar kita suarakan benar,
yang salah kita suarakan salah. Yang menyuarakan kebenaran kita dukung,
yang menentangnya kita tentang. Jangan sampai kita lengah menghadapi
hidup ini sehingga menjadi pengecut. Kita harus tegar memegang
kebenaran. Dengan tegar dan istikamah itu kita akan mendapat
pertolongan dari Allah SWT. Jika setiap kita mengambil sikap demikian,
orang-orang pembela kemungkaran akan takut menghadapi kaum muslimin.
Jika masing-masing kita memiliki kekuatan agama, orang- orang kafir
akan takut menghadapi kita. Kita lemah sehingga mereka tidak takut,
bahkan menginjak dan menjajah kita. Marilah kita tingkatkan kekuatan
iman kita untuk menyongsong kehidupan esok yang lebih baik. Allah tidak
menuntut kita yang di luar kesanggupan kita, karena Allah hanya akan
menguji kita sesuai dengan kekuatan kita.

—————–
Sumber: Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

MEMANTAPKAN KEIMANAN DENGAN ISTIQAMAH

August 9th, 2007 by ivhenx

عن سفيان بن عبد الله الثَّقفي قال: قلت "يا رسول الله، قل لي
في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً بعدك. قال: قل: آمنت بالله، ثم استقم" رواه
مسلم
.

Daripada Sufyan bin Abdullah al-Thaqafi berkata bahawasaya
berkata: Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkataan tentang Islam yang
aku tidak perlu bertanya kepada orang lain. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ucapkanlah
‘aku beriman dengan Allah’ kemudian beristiqamahlah." (hadis riwayat Muslim)

Sahabat ini bertanyakan kepada baginda satu ucapan yang
menghimpunkan segala kebaikan dan faedah yang membawa kejayaan abadi. Rasulullah
s.a.w. telah dikurniakan oleh Allah s.w.t kemampuan untuk menyampaikan ucapan
yang ringkas tetapi mengandungi maksud yang padat. Baginda menasihatkannya
tentang beriman dengan Allah s.w.t. yang merangkumi keseluruhan aqidah, amalan
hati, penyerahan diri kepadaNya dengan perbuatan-perbuatan secara berterusan
sampai akhir hayat yang dikatakan sebagai istiqamah. Hal ini selari dengan
maksud al-Qur’an:

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

 

Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan
berkata; ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang
betul (dengan pengakuan iman dan tauhid, maka tidak ada kebimbangan terhadap
mereka dan mereka tidak pula akan berduka cita
. (Al-Ahqaf: 13)

Keimanan dan istiqamah ini akan menatijahkan keselamatan dari
segala bahaya dan memperolehi keredhaan Allah dengan memasuki syurga. Nas-nas
al-Qur’an dan al-Sunnah jelas menyatakan bahawa iman meliputi aqidah yang benar,
amalan hati seperti keinginan kepada kebaikan dan membenci kejahatan, perbuatan
anggota fizikal seperti solat, zakat, haji, menolong orang lain dan sebagainya.

Hadis ini menegaskan makna ayat di atas iaitu keimanan
hendaklah dinyatakan dengan ucapan dan juga tubuh badan. Iman tidak memadai
dengan keyakinan di dalam hati tanpa diisytiharkan dan didakwahkan kepada orang
lain. Begitu juga iman bukan sekadar ucapan yang bermain di bibir tetapi
merangkumi amalan hati, lidah dan tubuh badan. Pada diri muslim ini zahirnya
erti keimanan kepada Allah. Pernyataan sebagai beriman kepada Allah mestilah
ditegaskan dan sentiasa diteguhkan.

Keteguhan dalam keimanan akan menentukan ketepatan dalam
amalan-amalan iaitu dengan mengikhlaskan diri kepada Allah serta melakukannya
menurut petunjuk Rasulullah s.a.w. Amalan-amalan ini akan menjadi lebih sempurna
apabila dilakukan dengan penuh istiqamah dan keteguhan baik dalam apa jua
kebaikan. Halangan-halangan yang berlaku kepada seseorang tidak akan menyekatnya
dari terus mengabdikan diri kepada Allah baik ketika sakit atau sihat, senang
atau susah, dalam perjalanan atau di tempat sendiri. Ringkasnya, kita katakan,
istiqamah merupakan tanda kesempurnaan amalan mukmin yang merangkumi hati,
ucapan dan perbuatan.

Istiqamah menuntut seseorang itu menerima segala ajaran Islam
mengikut apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. tanpa mengurangkan,
menambahkan sesuatu yang bukan daripadanya, meminda-minda atau menukar ganti
dengan yang lain. Sebagaimana yang diperintah itulah yang dilaksanakan.

 

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ
أَهْوَاءَهُمْ

 

Oleh kerana yang demikian itu, maka serulah (mereka wahai
Muhammad kepada beragama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau
menjalankannya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau
menurut kehendak hawa nafsu mereka.
(Al-Syura:15)

Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

عن أبي هريرة. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "قاربوا
وسددوا. واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله" قالوا: يا رسول الله! ولا أنت؟ قال "ولا
أنا. إلا أن يتغمدني الله برحمة منه وفضل".

Hendaklah kamu bersederhana dan tetap lurus beristiqamah dan
ketahuilah seorangpun dari kalangan kamu tidak terselamat(dari neraka) dengan
amalannya. Lalu sahabat bertanya: Anda juga wahai Rasulullah?, baginda menjawab:
Ya, tidak juga saya melainkan Allah menyelimutiku dengan rahmat dan
limpahan-Nya.(hadis riwayat Muslim)

Apa yang penting kita mesti berusaha sedaya usaha kita dalam
keadaan mengharapkan rahmat dan kurniaan Allah s.w.t. kerana kita tidak
ditugaskan dengan sesuatu hukum melainkan dalam batas kemampuan kita. Sifat
berterusan patut dikekalkan dan itu lebih baik daripada amalan yang banyak
kerana semangat yang yang berkobar-kobar yang kemudiannya sepi tanpa penerusan.
Ibarat air paip yang kecil lebih baik daripada curahan air setangki yang
kemudiannya kering tidak ada walaupun setitik.

 

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

 

Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah sedaya supaya kamu
(Al-Taghabun: 16)

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan Islam.
(Ali `Imran: 106)

Ketaqwaan perlu diusahakan dan dikekalkan sehingga akhir usia
kita sehinggalah kita meninggal dunia dengan penuh keimanan dan ketakwaan.
Kehidupan ini mesti ditempuhi dalam keadaan mengharapkan rahmat Allah dan rasa
takut kepada-NYa. Tidak ada jalan lain untuk memperolehi husnul khatimah
kecuali dengan meneguhkan keimanan dan beristiqamah di atas jalan hidayat dan
taqwa selagi hayat dikandung badan.

Membangun Rasa Percaya Diri Anak

July 25th, 2007 by ivhenx

25279835729634l
Saat memasuki usia sekolah, seorang anak akan mulai membangun
kepercayaan dirinya. Seorang anak yang memiliki rasa percaya diri
tinggi tak akan takut mencoba hal-hal baru dan biasanya lebih berhasil.
Sebaliknya anak yang rasa percaya dirinya rendah akan kesulitan
melewati perubahan dan butuh banyak bantuan dari orangtuanya.

Anda
sebagai orangtuanya punya tugas penting untuk menimbulkan rasa percaya
diri, terutama ketika si kecil sudah masuk sekolah dan mempunyai banyak
teman.

Untuk membantu menumbuhkan rasa percaya diri pada diri
si kecil, daftar berikut bisa dijadikan panduan dalam mendidik buah
hati Anda :

- Percaya si kecil dan tunjukkan, biarkan ia merasa dirinya berharga dan dicintai.
- Berikan pujian dan respon positif,
anak-anak akan mengukur keberhasilannya dari apa yang orangtuanya
pikirkan tentang mereka. "ternyata anak bunda pintar, semua soal
matematika berhasil dikerjakannya", kalimat itu bisa menjadi musik yang
indah di telinga anak Anda. Yakinkan si kecil tak apa-apa membuat
kesalahan karena itu bagian dari kedewasaan. Hindari sikap terlalu
mengkritik, karena bisa merusak kepercayaan dirinya.
- Jadi pendengar,
ulangi apa yang Anda dengar untuk memastikan Anda mengerti dan berikan
respon positif agar mereka bersemangat melanjutkan ceritanya.
- Ajari si kecil untuk mengungkapkan perasaannya dan mengekspresikannya secara verbal.
-
Kritiklah tingkah lakunya, bukan orangnya. Yang harus dikoreksi adalah
sikapnya yang salah, bukan menyebutnya sebagai anak nakal. Jangan
sampai terjebak, jika ini sudah berlangsung dalam waktu yang lama bisa
merusak mentalnya.
- Fokus pada kelebihannya bukan kekurangan Anda dan si kecil.
- Hargai minatnya,
bahkan jika itu terasa membosankan untuk Anda, taruhlah minat pada
teman-temannya dan sekolahnya, berikan komentar saat ia bercerita.
- Jangan meremehkan rasa takut atau tidak aman yang dirasakan anak Anda,
bahkan jika hal itu sepertinya sepele buat Anda. Jika si kecil mengeluh
kesulitan dalam bidang matematika, sebaiknya Anda menanggapinya dengan,
"untuk menguasai matematika memang harus banyak belajar, apa yang bisa
Mama bantu ?", bukannya berkata, "masa soal-soal begitu saja gak bisa
?".
- Dorong si kecil untuk berani mencoba hal baru.
Jika ia berhasil melakukan suatu hal baru itu akan meningkatkan
kepercayaan dirinya, dan terkadang ia juga butuh belajar dari kesalahan
yang dilakukannya.
- Tertawalah bersamanya, bukan menertawakannya.
- Fokus pada keberhasilan si kecil ; renang, musik atau bidang lain yang dikuasainya. Jangan terlalu fokus pada kegagalannya.
-
Anak-anak biasanya mengerti kekurangannya dan hal-hal yang tidak mampu
dilakukannya. Rasa percaya dirinya bisa runtuh jika orangtuanya selalu
mengkritik atau menyinggung bidang tersebut. Berikan pujian dan support
untuk membantu motivasinya.

Yang Dapat Merusak Percaya Diri Anak

Mengomel
atau marah-marah atas kesalahan yang dilakukan si kecil bisa membuatnya
jadi tidak percaya diri, apalagi kalau orangtuanya kerap memberikan
label, seperti "nakal", "pemalas", "ceroboh", dan sebagainya, mereka
akan berpikir kalau apa yang Anda katakan memang benar dan merasa label
itu tidak akan bisa diubah. Hal ini bisa merusak motivasi anak-anak
untuk berkembang.

Dan tahukah Anda bahwa apa yang Anda katakan tentang diri Anda sendiri juga bisa berpengaruh pada kepercayaan diri anak-anak.
Ini karena anak-anak masih ada pada tahap meniru tingkah laku
orang-orang yang dekat dengannya. Misalnya jika orangtuanya seringkali
mengeluhkan sesuatu, seperti, " saya tak tahan kerja di bawah tekanan",
atau "saya selalu sial, hal-hal buruk selalu menimpa apa yang saya
kerjakan", anak-anak mungkin akan khawatir orangtuanya tidak bisa
menghadapi tantangan. Akibatnya anak-anak tidak memiliki contoh
positif, sikap optimistis dalam hidup dan tidak tahu bagaimana
menghadapi masalah. Apa pun situasi yang Anda hadapi, pikirkan
baik-baik apa yang akan Anda katakan dan pilihlah kata-kata yang tepat.

Ucapan-ucapan berikut bisa merusak kepercayaan diri seorang anak :
- Mengatakan Anda tidak mencintainya
- Sering mengkritik seperti, "dasar bodoh".
- Mengatakan Anda berharap mereka tidak pernah lahir.
- Memberi nama panggilan dengan kata-kata menghina.
- Menyindir dengan kata-kata kasar.
- Selalu mengomel dan menyumpah-nyumpah.

Tidak
ada manusia yang sempurna, mungkin tanpa sengaja kita pernah mengatakan
sesuatu yang kita sesali. Jika ini terjadi, akuilah segera di depan si
kecil. Katakan "seharusnya mama tidak berkata seperti itu, mama tidak
serius, ini karena mama capek baru pulang dari kantor".

Renungan Bersama Wahai Sahabatku……!!!!!!

July 19th, 2007 by ivhenx
Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya.

Penyakit bicara adalah bohong,
penyakit ilmu adalah lupa,
penyakit ibadah adalah riya’,
penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri,
penyakit berani adalah menyerang,
penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian,
penyakit tampan adalah sombong,
penyakit bangsawan adalah membanggakan diri,
penyakit malu adalah lemah,
penyakit mulia adalah menyombongkan diri,
penyakit kaya adalah kikir,
penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…."


Ketika
berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda,
"Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin
beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin
mendapat pujian dalam segala perkara. "

Wahai
‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadikanlah
diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-dosaku
yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-katanya mengakibatkan
siksaan bagiku…"
Ketika ditanya
bagaimana cara mengobati hati yang sedang resah dan gundah gulana, Ibnu
Mas’ud r.a berkata, " Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke
majelis-majelis dzikir atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk
berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah
kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu
pakai bukan lagi hatimu…"

PROFIL PRIBADI MUSLIM

July 19th, 2007 by ivhenx

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.

Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya:
‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah.

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq.

Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya:
‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung’ (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi.

Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah’ (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri

Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir.

Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya:
"Katakanlah: samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?
sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (QS 39:9).

6. Mujahadatul Linafsihi.

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun Ala Waqtihi.

Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.’ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk menjaga waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka di antara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sihat sebelum sakit, muda sebelum tua, lapang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi.

Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya ilmu pengetahuan merupakan di antara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun Alal Kasbi.

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kendiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kekendirian dari segi ekonomi.

Kerana itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kekendirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, kerana rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi.

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima mungkin untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.

Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, sesuatu yang perlu kita serasikan pada diri kita masing-masing.

6 Langkah Menuju Keluarga Sakinah

July 11th, 2007 by ivhenx

Sahabat!
Pernahkah anda ikut penataran pranikah di KUA? Bagi yang sudah menikah
pasti banyak yang mengatakan pernah, tapi ada juga yang mengatakan :”
saya gak datang, saya titip saja sama pak petugas”. (Titip apaan, wong yang mau nikah kita kok yang penataran petugasnya?). Nah bagi yang belum menikah paling – paling bilang belum pernah. (Walau
dalam hati mengatakan entah berapa buku tentang nikah yang sekarang
teronggok dilemari bukunya, atau berapa banyak kajian, seminar, dialog
tentang pernikahan yang telah didatanginya…. yang isinya sama …. Tapi
kan tidak di KUA .. STOPS
)

 

Dari
sekian banyak pasangan yang akan menikah, bahkan yang sudah pacaran
beberapa tahun ketika ditanya apa visi pernikahan anda? Tidak sedikit
yang menjawab” ya mengalir aja”, walau beberapa pasangan akan mengatakan “ingin membentuk keluarga sakinah”.

 

Uniknya
yang mengatakan ingin membentuk keluarga sakinah, banyak yang tidak
bisa merinci bagaimana sich keluarga sakinah itu, atau minimal punya
langkah – langkah untuk mencapainya. Jadi apa gara – gara di
undangannya ada nukilan QS Ar Ruum yang ada kata sakinah’nya, sehingga
jawabanya ingin sakinah? (Pasti ada yang nyeletuk dalam hati … aku gak termasuk lho …)

 

Hmmm.
Pantas di media massa saat ini banyak kita lihat perceraian terjadi
disana – sini dan parahnya dipelopori para artis sebagai public figure.
Alasannya bermacam – macam, dari sekedar tidak cocok, selingkuh,
berzina, ekonomi, dijodohkan (orang tua atau murrobbi) dan lain sebagainya. Bahkan ada yang beralasan tidak ada cinta sejak pernikahan, padahal anaknya sekarang sudah belasan. (Tidak ada cinta …. Ck ck ck). Tanya kenapa ….?

 

Dan
data dari KUA Kota Palembang mengatakan bahwa dari 100% perceraian yang
terjadi itu nggak ada 10% yang disebabkan oleh poligami atau dengan
kata lain suaminya kawin lagi. So… bagi aktivis anti poligami (baca:
agama) yang mengatakan poligami penyebab utama perceraian bisa
mencermati data ini.

 

Menurut
penulis sich … semua perceraian itu terjadi karena tidak memiliki visi
keluarga sakinah dan tidak tahu atau tidak komitmen dengan langkah
untuk menggapainya. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang
pemahaman agamanya sedikit, tapi juga menghinggapi para aktivis dakwah
dan harokah. Hmmm …. Sedihnya

 

Nah,
dari hasil MABIT di Masjid Al Hakim PT Sucofindo beberapa waktu yang
lalu, dari beberapa pemateri malam itu maka saya ingin sekedar berbagi
kepada sesama rangkuman dari materi – materi yang ada. Sebenarnya lebih
lengkap dan lebih seru kalo mendengarkannya langsung. Tapi gak papa
lah, yang gak hadir tetap dapat ilmunya walau sidah difilter oleh
keterbatasan memory otak saya … maaf ya.

 

 

1. Kupilih potret keluarga Rosulullah

 

Swear
guys! Al Qur’an memang lengkap dan gak perlu ditambah – tambah lagi.
Cari apa saja ada dech! Asal kita tidak lupa baca tafsirnya dan hadits
– hadist yang berkaitan dengannya. (Makanya ngaji yuuu…uk)

 

Nah
dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang
akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab
dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :

 

a. Potret
Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga
kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara
banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu
Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan
pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak
membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di
neraka.

 

b. Potret
suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya
istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap
seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga
Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak
masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak
gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri
Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat
Homo di lingkungannya.

 

c. Potret
istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah
Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan
Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di
Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik
keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi
laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita
temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus
bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas
sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras (Premankah …).

 

d. Potret
keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja.
Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan
oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena
ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini
doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki
yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan
anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena
ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas
muda – mudi dan remaja.

 

e. Potret
keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada
diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah.
Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam
kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.

 

Nah,
jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang
kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya
harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah
dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri
pertama minta cerai … (Ingat bukan karena nafsu ya mas…)

 

 

2. Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah

 

Setelah diketahui model keluarga sakinah yang diinginkan, maka saatnya kita untuk melangkah. Ya kalo diem saja kapan jalannya …

 

Maka
mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus
dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya
akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang
lain (Ingat hadits tentang niat..).

 

Konsekuensinya
adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai
prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus
kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja
(Dalam hati syukurnya setengah mati . . .)

 

Sehingga
ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa
wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo
gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …

 

 

3. Kupinang engkau dengan hamdallah

 

Setelah
niatan kita perbaiki, maka selanjutnya ketuk pintu si doi. Temua Camer
(calon mertua), ungkapkan isi hati untuk mempersunting sang putri … deu

 

Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita harus
siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya
kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus
nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas.
Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis
(yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku
dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan
kita kita harus sabar.

 

Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua bersuamikan
lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam
hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk
syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak
sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang
suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga.
Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak
syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata
KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah
itu …

 

Kemudian
konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan
balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami
mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah
untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang
istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak
pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So,
janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita
meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga
dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !!

4. Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah

 

Ingat,
sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja?
Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul. Ah…
anda memang pintar!

 

Tentunya
kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering
terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah
kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah
istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya
muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali
hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya
adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup, iiih ngeriii…

 

Kemudian
jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara
agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal
administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak
dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan
sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi
kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan
fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis
anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana (Siapa yang mau kalo anak kita dibilang masyarakat sebagai anak haram hayo… walau sebenarnya semua anak itu terlahir suci)

5. Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah

 

Sahabat.
Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh.
Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak
mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah
telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika
musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai
kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada
teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada
Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya.
Tahajudlah sahabat …

 

Kemudian
jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita.
Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat
mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada
kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih.
Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah
do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.

 

Sehingga
disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita
tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas
apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu
ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .

6. Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah

 

Terakhir
sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah
pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka
tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada
fitrah manusia yaitu fitrah Islam.

 

Jika
anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah
mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan
Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah
bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan
takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan
terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan
fitnah – fitnah dunia lainnya.

 

Selanjutnya,
jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih
dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang
keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang
bathil.

InsyaAllah keluarga ini sakinah dan kelak akan masuk Jannah

 

Nah,
jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga
kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah
syurga adalah pelabuhan terakhir.

 

Bagi
yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai
mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah,
tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi).
Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika
telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah.

  Akhirnya,
semoga rangkuman dari MABIT beberapa hari yang lalu bermanfaat bagi
diri saya dan keluarga saya. Dan bermanfaat bagi para saudaraku
sekalian. Wallahu ‘alam bish showwab.

Untuk Sebuah Keterbukaan

July 3rd, 2007 by ivhenx

Berat…

Senyum itu seakan memiliki arti yang lain saat mata
ini tertuju padanya dengan tajam. Tatkala cerita seorang anak manusia
dalam sebuah keterbukaan bahwa sebenarnya masih ada sebuah rasa untuk
seseorang yang lain. Bukan keraguan yang timbul dalam segumpal darah
yang bersemayam dalam tubuh ini, namun sebuah hal yang harus mendapat
sebuah jawaban yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika hati ingin mengutarakan sebuah kata yang sebenarnya mata ini
sudah mampu untuk mewakilinya dalam suatu untaian gerak dan binarnya,
terbesit lagi arti sebuah keyakinan. Memang tak pernah aku rasakan dari
apapun yang telah terjadi selama ini, karena memang indra perasa yang
ada dalam tubuh ini mengalami sebuah gangguan. Akan tetapi pernahkah
terfikir bahwa sakit itu datang dan pergi hanya saat ada sebuah
perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh mereka yang terikat dalam
sebuah simpul merah nan manis?
Haruskah mata ini protes karena sesuatu yang terlihat di balik fikirnya ini bukan sebuah pemandangan yang tidak sedap?
Haruskah hati ini menjerit karena sesuatu menggoresnya dengan kasar?
Haruskah akal ini berhenti berfikir karena sesuatu yang menusuk dan membusuk?

Jiwa - jiwa ini tidak dalam ketenangan…..
Jiwa - jiwa ini sedikit berkurang bahan bakar untuk melaju…
Jiwa - jiwa ini ….

banyak kata yang terucap, namun kadang maksud tak tersirat
banyak tulisan yang tersurat, namun kadang tujuan tak dapat terangkat

hadirlah kembali ketenangan untuk tenangkan jiwa ini
datanglah kelembutan hati untuk membelainya
berikan sebuah kesejukanmu…..

Oleh : Choiri Setyawan